Menyusuri Rumah Gerilya Jenderal Soedirman

oleh

Pacitanku.com, NAWANGAN— Selain Monumen Jenderal Soedirman yang membentang kokoh di puncak bukit Pakisbaru, saksi sejarah perjuangan gerilya Jenderal Soedirman juga berada di rumah bekas markas gerilya Panglima besar Jenderal Soedirman.  Rumah ini ditempati Jenderal Sudirman selama 107 hari, sejak 1 April 1949 s/d 7 Juli 1949 sekaligus menjadi markas gerilya beliau. Lokasinya berada di Dukuh Sobo, sekitar 2 Km dari monumen.

Rumah ini terdiri dari dua bangian, bagian depan disambungkan dengan bagian belakang. Rumah bagian depan berbentuk empat persegi panjang, 11,5 x 7,25 meter persegi, sedangkan bagian bela­kang berukuran 10,2 x 7,3 meter persegi.

Di masa perjuangan, di sini tempat menyusun strategi penyerangan dan bertahan dari serangan musuh. Rumah ini juga dilengkapi dapur dan ruang untuk menyimpan perbekalan atau alat-alat perang. Didalam rumah, anda akan melihat di ruangan depan ada 2 pintu. Atapnya di topang tiang-tiang kayu.

Di ruangan ini ada 4 kamar tidur, salah satunya kamar tidur Jenderal Sudirman. Selain itu juga ada foto Sudirman dengan masyarakat di depan rumah bersejarah ini, foto ketika berangkat bergerilya dan ketika beliau pulang ke Yogyakarta.

Baca juga: Pemkab akan Kembangkan Monumen Jenderal Soedirman dengan Konsep Agrowisata

Masih di ruang ini, juga ada tiruan tandu, meja dan kursi untuk tamu, dan tempat tidur pengawal/ajudan beliau, yaitu Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo. Di ruangan ini juga ada satu set meja dan kursi tamu dari kayu dan balai dari bambu. Ruang bagian belakang, atapnya juga disanggah tiang-tiang kayu. Di ruang ini difungsikan sebagai dapur lengkap dengan alat-alat memasak, tempayan, meja dan kursi makan dari kayu.

Di rumah bekas markas gerilya yang berudara sejuk ini, dahulu digunakan Jenderal Sudirman sebagaitempat bersosialisasi dan bergabung dengan masyarakat setempat. Beliau juga menerima tamu dengan pejabat pemerintah di Yogyakarta di rumah ini.

Menurut berbagai sumber terkait, sejarah awal rumah gerilya ini dimulai ketika setelah hampir tujuh bulan bergerilya keluar masuk hutan, Jenderal Soedirman tiba di Sabo, Pakis Baru, menginap di rumah Karsosoemito, bergaul dengan masyarakat. Selain itu ia juga mulai mengatur hubungan dengan pejabat pemerintah di Jogjakarta.

Kegiatan sehari-hari Jenderal menyusun perintah-perintah harian serta petunjuk dan amanat untuk tentara dan rakyat, melalui caraka (kurir). Banyak komandan pasukan dan pejabat pemerintah yang datang ke Sobo untuk meminta petunjuk panglima. Melalui Letkol Soeharto dia melakukan komunikasi dengan Sri Sultan HB IX di Jogjakarta.

Karena itulah. Tempat ini dikenal sebagai markas gerilya. Setelah perjanjian Roem-Royen disahkan 7 Mei 1949 dan pe­merintah Indonesia – Belanda sepakat untuk mengakhiri peperangan, Panglima kembali ke Yogyakarta. Setelah diminta beberapa pihak termasuk Presiden Soekarno pada 7 Juli 1949 me­ninggalkan markas kembali ke Yogyakarta,

Pada akhir tahun 2008 lalu, Pemerintah melalui Presiden SBY meresmikan Monumen Jenderal Soedirman ini menjadi obyek wisata, dan pada waktu itu juga dilakukan pemugaran dibeberapa lokasi monumen. Kompleks Monumen ini rencananya juga akan dijadikan wisata internasional dan tempat latihan militer.