Ironi Dua SD Negeri di Arjosari yang Alami Krisis Siswa

oleh -Dibaca 1.606 kali
Guru mengajar siswa SDN 4 Karanggede, beberapa waktu lalu. (Foto: Jawa Pos)
Guru mengajar siswa SDN 4 Karanggede, beberapa waktu lalu. (Foti: Jawa Pos)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Potret dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Arjosari ini, masing-masing SDN 03 Temon dan  SDN 04 Karanggede cukup memprihatinkan. Sebab keduanya mengalami krisis siswa yang disebabkan beberapa hal.

Di SDN 03 Temon, akibat longsor yang merusak talud di sebelah sekolah Sabtu (14/1) lalu, sekitar sebulan yang lalu, bangunan kamar mandi sekolah itu juga ditimpa longsor. Hal itu berpengaruh terhadap minimnya siswa yan belajar ke sekolah yang terletak di Dusun Tenggar itu.

Material longsor dari tebing setinggi tiga meter di belakang kamar mandi tidak seberapa banyak. Selain itu, lantai di koridor ruang kelas I juga merekah sepanjang dua meter, ditengarai dampak dari retakan tanah. ‘’Di luar bencana itu, kami juga kesulitan mendapatkan siswa,’’ ungkap Kepala SDN 3 Temon, Susilo Hadi, baru-baru ini.

Hadi menuturkan, sekolahnya diperkirakan berdiri di atas tanah yang rawan bergerak. Pasalnya, tanda-tanda itu sudah mulai dirasakan sejak setahun lalu. Dimulai dari retaknya lantai koridor di depan ruang kelas I. Retakan tidak terjadi sekali saja.

Di tanah halaman depan ruang kelas I, juga sempat ada garis retakan memanjang. Namun, guru buru-buru menutupinya dengan tanah. Karena takut retakan itu semakin berkembang. ‘’Tebing yang ada di depan ruang kelas I memang cukup tinggi, lebih dari 20 meter,’’ katanya.

Dengan kondisi semacam itu, sekolah rupanya juga berjuang keras untuk mendapatkan siswa. Perjuangan tersebut sudah dilalui sejak sepuluh tahun terakhir. Menurut Hadi, terakhir siswa sekolahnya tembus 50 anak ketika tahun 2007.

Saat itu, jumlah siswa mencapai 60 anak. Sejak saat itu, jumlah siswa berangsur menurun. Tahun ini, siswanya hanya 36 anak. Rinciannya, kelas I dihuni lima siswa, kelas II dihuni dua siswa, kelas III diisi empat siswa, dan kelas IV dihuni lima siswa. Selain itu, kelas V dihuni 12 siswa dan kelas VI dihuni delapan siswa. ‘’Kebanyakan siswa kami berasal dari dusun ini (Tenggar),’’ terangnya.




Di luar Dusun Tenggar, siswa SDN 3 Temon paling jauh berasal dari Desa Gondang. Menurut Hadi, masalah siswa tidak terelakkan. Salah satu alasan mengapa siswa sekolah tersebut minim adalah kalah bersaing dengan sekolah lain di Temon atau Gondang.

Akses menuju beberapa sekolah disana lebih mudah dijangkau. Karena itu, warga Temon atau Gondang lebih memilih menyekolahkan anaknya disana. Sementara di sisi lain, tidak banyak anak usia sekolah di Dusun Tenggar. ‘’Kebanyakan warga sekitar hanya punya anak satu atau dua. Di sekolah ini, orang tua yang menyekolahkan dua anaknya hanya ada satu,’’ kata Hadi.

Tak jauh beda dengan SDN 03 Temon, di SDN 04 Karanggede hanya dihuni selusin siswa. Sudah begitu, ruang kelasnya juga terbatas pula. Terdiri atas kelas I tiga siswa, kelas II empat siswa, kelas V satu siswa, dan kelas VI empat siswa. Sementara itu, kelas III dan IV tidak memiliki seorang pun siswa.

Meski hanya memiliki 12 siswa, mereka tidak leluasa belajar. Sebab, ruang kelas mereka terbatas. Kelas I dan II berada di satu ruang yang dibatasi dengan papan tripleks. Kelas V dan VI menempati ruangan tersendiri.

Kepala SDN 04 Karanggede Bidjan Whoso menyatakan, pada 1992, jumlah siswa di sekolahnya mencapai 50 anak. Hanya, saat itu kegiatan belajar-mengajar (KBM) dilaksanakan di rumah penduduk. Sebab, SDN 04 Karanggede belum memiliki bangunan sendiri. ”Gurunya yang PNS juga hanya satu ketika itu, yaitu kepala sekolah,’’ ucapnya.

Bidjan mengungkapkan, seiring berjalannya waktu, jumlah siswa di SDN 04 Karanggede terus menurun. Misalnya, sejak dia ditunjuk untuk memimpin sekolah itu pada 2013, tidak ada satu pun peserta didik baru yang mendaftar. Kondisi tersebut kemudian terus berlanjut hingga 2014. ”Mendapatkan peserta didik baru cukup sulit karena harus bersaing dengan sekolah lain,’’ katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pacitan, Marwan, menyebut pihaknya tidak bisa berbuat banyak atas kondisi minimnya siswa di SDN 3 Temon. Idealnya, sekolah dengan jumlah siswa minim digabung dengan sekolah induk yang lebih besar.

Masalahnya, jarak sekolah induk di Temon atau Gondang cukup jauh. Jika SDN 3 Temon digabung dengan sekolah tersebut, siswanya yang enggan sekolah. ‘’Kondisinya memang seperti itu. Jika digabung anaknya yang tidak mau sekolah. Daripada putus sekolah, ya lebih baik tetap berjalan seperti ini,’’ jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan, umumnya sekolah-sekolah yang kekurangan murid adalah sekolah swasta. Terutama sekolah-sekolah yang tidak terakreditasi. Jika begitu, konsekuensinya kembali pada sekolah yang bersangkutan. ”Sekolahnya mau diteruskan atau tidak,” ujarnya.

Untuk sekolah negeri, lanjut dia, sekolah yang kekurangan murid mungkin masih dijumpai di sekolah dasar. Namun, itu terjadi pada daerah-daerah tertentu saja.

Kekurangan siswa di sekolah dasar negeri tidak disebabkan siswa pindah ke sekolah swasta, tapi jumlah komunitas atau siswa di sana memang kurang. (RAPP002)

Sumber: Jawa Pos