Pacitanku.com, PACITAN – Sebanyak 304 mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Pacitan resmi diterjunkan ke masyarakat untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-38 dengan misi utama pemberdayaan berbasis budaya lokal.
Pelepasan ratusan mahasiswa ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika untuk menguji kompetensi sosial dan tanggung jawab keilmuan mereka sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional.
Prosesi pemberangkatan yang berlangsung khidmat di Student Hall STKIP PGRI Pacitan pada Senin (2/2/2026) ini dipimpin langsung oleh Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo.
Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan Berbasis Budaya Lokal dan Edukasi Kesehatan Berkelanjutan”, program tahunan ini dirancang bukan sekadar sebagai rutinitas pengabdian akademik semata, melainkan sebagai jembatan filosofis bagi mahasiswa dalam proses pendewasaan diri.
Dalam sambutannya, Bakti Sutopo menegaskan bahwa KKN adalah laboratorium nyata untuk mengasah kepekaan sosial.
Ia meminta mahasiswa untuk tidak memandang kegiatan ini sebagai formalitas institusi, tetapi sebagai peluang emas melatih kepemimpinan dan kemampuan memecahkan masalah di lapangan.
“KKN bukan hanya kegiatan institusi, tetapi harus diresapi dalam diri setiap mahasiswa sebagai proses belajar memikul tanggung jawab. Kalian akan bertemu masyarakat dan orang-orang baru; ini adalah jembatan akademis yang harus dipersiapkan dengan matang,”kata Bakti.
Secara teknis, para peserta KKN tahun ini akan disebar ke berbagai wilayah dengan skema penempatan dua kelompok desa di setiap kecamatan.
Strategi distribusi ini sengaja dirancang agar mahasiswa mendapatkan pengalaman empirik dalam beradaptasi di lingkungan yang mungkin jauh berbeda dari keseharian mereka.
Melalui interaksi langsung tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi problematika riil di masyarakat dan menawarkan solusi yang konkret serta aplikatif.
“Kami menempatkan kalian di situasi yang berbeda agar kalian bisa mengenali hal-hal baru dan memberikan solusi nyata atas permasalahan di desa masing-masing,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bakti memberikan atensi khusus mengenai etika bermasyarakat dan pentingnya menghormati kearifan lokal. Ia mengingatkan mahasiswa untuk selalu memegang teguh pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.
Pemahaman terhadap adat istiadat setempat dinilai menjadi kunci kesuksesan program kerja yang akan dijalankan.
“Setiap daerah memiliki aturan dan adat yang berbeda. Pegang prinsip ‘Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata’. Meskipun hanya bertetangga desa atau kecamatan, tetap ada perbedaan budaya. Hormatilah adat setempat agar kalian bisa bermasyarakat dengan baik dan lebih percaya diri,” pesan Bakti.
Menutup arahannya, Bakti juga tidak lupa mengingatkan aspek keselamatan yang sering kali terabaikan. Ia mengimbau seluruh mahasiswa untuk selalu disiplin menerapkan standar keselamatan berkendara selama mobilitas menuju maupun berada di lokasi pengabdian. Ia berharap seluruh peserta dapat menjaga diri dengan baik dan menuntaskan tugas pengabdian ini hingga selesai dengan hasil yang memuaskan.












