Luruskan Isu Ratusan Warga Terdampak, Dinkes Pacitan Sebut Hanya 42 Kasus Diare Sudimoro yang Butuh Penanganan Medis

oleh -137 Dilihat
Petugas Dinkes Pacitan memberikan pelatihan klorinasi air dan sosialisasi PHBS kepada warga Sudimoro untuk mencegah wabah diare
CEGAH PENULARAN. Petugas kesehatan saat memberikan pelatihan penggunaan klorin kepada perangkat desa dan kader kesehatan di wilayah Sudimoro, Jumat (23/1/2026). Langkah klorinasi sumber air dan sosialisasi PHBS digencarkan Dinkes Pacitan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah diare. (Foto: Dok. Dinkes Pacitan for Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Daru Mustikoaji, meluruskan simpang siur informasi terkait jumlah warga yang terdampak wabah diare di Kecamatan Sudimoro dengan menegaskan bahwa hanya 42 kasus yang tercatat memerlukan pelayanan medis secara intensif.

Angka fantastis mencapai 290 orang yang sempat beredar di masyarakat rupanya merupakan akumulasi data pemantauan awal petugas surveilans berdasarkan laporan subyektif wali murid dan masyarakat, mencakup keluhan ringan seperti mual atau muntah tanpa gejala diare akut.

Daru Mustikoaji menjelaskan bahwa lonjakan kasus gangguan pencernaan di wilayah kerja Puskesmas Sudimoro mulai terdeteksi sejak tanggal 12 Januari dan mencapai puncaknya pada Senin, 19 Januari 2026.

Fenomena ini awalnya banyak menyerang kelompok usia rentan seperti balita dan anak sekolah, namun seiring berjalannya waktu sebaran pasien meluas mencakup semua siklus hidup warga di wilayah tersebut.

Pihaknya menyadari adanya keresahan publik terkait data yang menyebutkan ratusan warga terdampak. Namun, Daru memastikan bahwa langkah pendataan masif tersebut sengaja dilakukan petugas di lapangan untuk mendapatkan gambaran utuh kondisi epidemiologi demi merumuskan intervensi yang tepat.

“Untuk data jumlah kasus perlu kami infokan bahwa angka 290 yang beredar itu merupakan angka yang didapat petugas surveilans puskesmas berdasar laporan wali murid kepada pihak sekolah yang diteruskan ke puskesmas,”kata dr Daru pada Jumat (23/1/2026).

Daru mengatakan, langkah tersebut dilakukan demi didapatkan gambaran awal kondisi di lapangan sehingga bisa ditemukan langkah yang tepat untuk mencegah.

“Adapun data pelaporan tersebut menggambarkan semua keluhan yang dialami baik hanya keluhan muntah atau diare maupun gabungan keduanya, sedangkan kasus yang memerlukan pelayanan kesehatan ditemukan sejumlah 42 kasus,”imbuh Daru.

Pemerintah daerah berharap klarifikasi ini dapat meredakan kepanikan warga sembari petugas kesehatan terus bekerja keras menangani pasien yang membutuhkan perawatan.

“Saat ini, fokus utama Dinas Kesehatan adalah memastikan seluruh pasien yang terdata, khususnya yang berjumlah 42 orang tersebut, mendapatkan perawatan medis yang memadai hingga pulih sepenuhnya,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.