Pacitanku.com, PACITAN-Stigma bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) identik dengan metode pengajaran konvensional atau “gaptek” berhasil dipatahkan oleh Setyo Dwi Putranto, S. Pd.
Guru dari SMP Negeri 1 Kebonagung, Pacitan ini sukses menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Setyo berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Game Pembelajaran PAI bagi Guru PAI (GPAI) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Ia tampil unggul melalui karya kreatifnya yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan materi keagamaan.
Game yang dikembangkan Setyo diberi nama “Tajwid Archer”.
Berbeda dengan media pembelajaran teks biasa, game ini mengusung tema action puzzle yang melatih ketangkasan sekaligus kognitif siswa.
“Game ini melatih ketangkasan membidik sekaligus ketepatan berpikir untuk memilih huruf hijaiyah sesuai dengan hukum tajwidnya. Tujuannya agar siswa bisa menghafal huruf sesuai hukum tajwid dengan cara yang berbeda dan menyenangkan,” ujar Setyo saat diwawancarai, Jumat (2/1/2026).
Dibalik kesuksesannya, proses pembuatan game ini ternyata penuh tantangan.
Setyo memanfaatkan teknologi Google AI Studio untuk membangun mekanisme permainan tersebut.
Namun, ia harus berhadapan dengan batasan (limit) akses pengguna gratis.
“Karena limitasi akses, saya harus menggunakan beberapa akun Google untuk merampungkan proses pembuatan game tersebut,” ungkapnya.
Tak hanya kendala teknis, manajemen waktu menjadi ujian tersendiri.
Di tengah kesibukan sekolah menghadapi Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS), Setyo hanya memiliki waktu efektif yang sangat singkat.
Game inovatif ini bahkan baru mulai digarap secara intensif pada H-3 sebelum tenggat waktu pengumpulan karya.
Keberhasilan ini bukan sekadar tentang piala dan piagam.
Bagi Setyo, ini adalah pesan kuat bagi dunia pendidikan, khususnya di lingkungan guru agama.
Ia berharap capaian ini memotivasi rekan sejawat untuk tidak ragu mengeksplorasi teknologi modern dalam ruang kelas.
“Sebagai guru PAI, saya masih mendengar stigma bahwa guru PAI itu kolot dan gaptek. Melalui pencapaian ini, kami ingin membuktikan bahwa guru PAI juga bisa membuat media pembelajaran yang kreatif dan mengikuti perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan AI,” pungkasnya penuh harap.
Prestasi Setyo Dwi Putranto ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para pendidik di Kabupaten Pacitan untuk terus berinovasi demi meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital.









