Gelar Pacitan Noise Fest 2025, Komunitas Pacitan City Noise Padukan Musik Eksperimental dan Aksi Lingkungan

oleh -280 Dilihat
EKSPLORASI BUNYI. Penampilan kelompok musik Sabda Lempung yang memadukan instrumen gerabah dengan alat musik modern dalam gelaran Pacitan Noise Fest 2025 di Pranoto’s Art Gallery, Teleng Ria, Jumat (12/12/2025). Festival musik eksperimental ini sukses menarik perhatian penikmat seni dari berbagai kota di Indonesia hingga mancanegara. Foto: Panitia Pacitan Noise Fest

Pacitanku.com, PACITAN – Kabupaten Pacitan kembali menjadi tuan rumah bagi perhelatan seni eksperimental berskala internasional melalui gelaran Pacitan Noise Fest 2025.

Acara yang diinisiasi oleh komunitas Pacitan City Noise ini tidak hanya menyuguhkan hingar-bingar musik noise yang mendobrak pakem konvensional, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kelestarian alam melalui jargon unik “Kami Suka Suara Bising yang Kotor, Tapi Bukan Bumi yang Kotor“.

Antusiasme tinggi mewarnai rangkaian acara, khususnya saat peluncuran film dokumenter bertajuk Noise Is yang digelar di Pranoto’s Art Gallery, kawasan wisata Teleng Ria, Pacitan pada Jumat (12/12/2025).

Acara ini sukses menyedot perhatian audiens dari berbagai latar belakang, mulai dari warga lokal hingga penikmat seni mancanegara asal Belgia, Jerman, Perancis, dan Chili.

Selain itu, komunitas seni dari berbagai kota di Indonesia seperti Bandung, Banjarmasin, Yogyakarta, Tuban, Wonogiri, Solo, dan Ponorogo turut hadir memadati lokasi.

Sebelum pemutaran film, suasana semakin hidup dengan penampilan kelompok musik Sabda Lempung yang menyajikan komposisi unik menggunakan instrumen gerabah yang dipadukan dengan bas elektrik, terompet, dan keyboard.

Ketua Penyelenggara sekaligus Pendiri Pacitan City Noise, Jolie Slam, menjelaskan bahwa genre noise yang diusung dalam festival ini bukan sekadar kebisingan tanpa makna.

Genre ini menggunakan alat musik elektronik, efek distorsi, atau benda sehari-hari untuk memproduksi bunyi ekspresif tanpa struktur ritme harmonis sebagai bentuk simbolik perlawanan terhadap keteraturan musik umum atau counter-culture.

Menurut Jolie, festival ini menjadi ruang apresiasi sekaligus edukasi bahwa di balik kebebasan ekspresi tersebut, terdapat proses kreatif yang serius.

“Makna tersendirinya adalah kebebasan, lebih ke protes ke aturan-aturan baku kesenian. Musik konvensional semuanya ada aturan cara mainnya, namun di skena noise bebas. Tapi mereka rata-rata juga tidak ngawur, mereka perlu riset dan ngulik terlebih dahulu untuk keperluan suara yang dibutuhkan. Makanya notasi musik disilang melambangkan arti kebebasan dan protes dari aturan musik baku,”kata Jolie Slam.

Guna memperluas dampak edukasi, panitia secara khusus mengundang berbagai organisasi mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta ekstrakurikuler tingkat SMP dan SMA/SMK yang ada di Pacitan.

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa ini bertujuan untuk membangun kedekatan emosional serta membuka peluang kolaborasi program di masa depan.

Selain pertunjukan musik dan diskusi sarasehan, festival ini diisi dengan beragam aksi nyata seperti bersih-bersih pantai (beach clean up), penanaman pohon, hingga permainan tradisional sendaren.

Film dokumenter yang diluncurkan pun siap diputar secara gratis untuk kegiatan edukasi masyarakat luas demi memperluas koneksi dan inspirasi mengenai perkembangan seni di Kabupaten Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.