Digembleng Jogja Film Academy, Sineas Muda Pacitan Antusias Siapkan Festival Film Horor

oleh -106 Dilihat
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji (tengah) secara resmi membuka kegiatan workshop produksi film jelang Festival Film Horor di Galeri Seni Song Meri, Desa Sukoharjo, Pacitan, Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini diharapkan dapat mengulang dan melampaui kesuksesan FFH edisi sebelumnya. (Dok. Prokopim Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Generasi muda Pacitan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap industri sinematografi. Hal ini terlihat dari membeludaknya peserta workshop atau lokakarya produksi film bersama Jogja Film Academy (JFA) di Galeri Seni Song Meri, Desa Sukoharjo, Pacitan, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan acara pemanasan (pra-event) jelang perhelatan bergengsi Festival Film Horor (FFH) di Pacitan. Acara ini diinisiasi oleh Ruang Film Pacitan yang berkolaborasi dengan forum komunitas Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan JFA.

Ketua Ruang Film Pacitan, Idam Nugrahadi, mengatakan lokakarya ini menghadirkan pemateri profesional langsung dari JFA. Para peserta dibekali ilmu komprehensif yang terbagi dalam kelas penyutradaraan, sinematografi, penyuntingan gambar (editing), hingga keaktoran.

“Banyak respons positif, terutama dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang tertarik terhadap dunia perfilman,” ungkap Idam.

Langkah memajukan ekosistem kreatif daerah ini disambut baik oleh Direktur Jogja Film Academy, Tri Wahyudi. Ia mengaku bangga karena Pacitan telah berani membuka ruang perjumpaan bagi para insan perfilman. Ia berharap kegiatan ini menjadi tonggak awal kolaborasi untuk menghidupkan iklim sinema di daerah.

“Kami tidak akan jadi yang lebih tahu, tetapi kami yang sedikit lebih tahu untuk berbagi,”katanya.

Acara ini turut dibuka secara resmi oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji. Ia menilai industri kreatif, khususnya perfilman, memiliki potensi besar untuk ditekuni generasi muda. Menurutnya, industri ini akan terus eksis karena kreativitas manusia tidak mengenal batas.

“Melalui acara ini, semoga talenta perfilman di Pacitan bisa lebih berkembang,” tutur Indrata. Sebagai wujud dukungan konkret, Bupati juga telah menginstruksikan dinas terkait untuk bersinergi menciptakan dan mendukung ekosistem ruang kreatif bagi para pembuat film di Pacitan.

Kilas Balik Kesuksesan FFH 2025

Antusiasme tinggi masyarakat Pacitan pada tahun ini tidak terlepas dari rekam jejak historis FFH tahun lalu. Sebagai informasi, FFH yang digagas oleh pendiri JAFF, Garin Nugroho, bersama Ruang Film Pacitan dan Pemkab Pacitan, tercatat sebagai festival film horor pertama di Indonesia.

Pada edisi perdana yang digelar 12–14 Desember 2025, festival ini sukses menyedot lebih dari 1.000 pengunjung dan menghimpun 285 film horor karya sineas dari berbagai daerah di Nusantara.

Keunikan FFH terletak pada rancangan partisipasi aktif masyarakatnya. Selain melombakan kategori umum nasional dan pelajar tingkat Jawa Timur, festival ini menjadikan kategori eksibisi lokal sebagai fondasi utamanya. Kategori ini menjadi wadah kompetisi dan apresiasi bagi pembuat film nonprofesional dari kalangan ibu-ibu PKK, karang taruna, dan warga desa di tiap kecamatan.

Tahun lalu, kemeriahan pemutaran film dihadirkan langsung di tengah masyarakat melalui empat titik lokasi strategis, yang dibuka di Pantai Pancer Dorr, dan dilanjutkan di Alun-Alun Kota, Gedung Karya Dharma, serta Gedung Gasibu Swadaya Pacitan.