Pacitanku.com, PACITAN — Embusan angin malam di pesisir selatan Jawa Timur kerap kali membawa kehangatan tersendiri, terutama saat dentuman bambu yang saling bersahutan mulai memecah keheningan yang pekat.
Di titik pertemuan antara ritme tradisional dan antusiasme warga inilah, pesona Festival Ronthek Pacitan lahir, tumbuh, dan terus berdetak melintasi pusaran zaman.
Apa yang pada masa lampau sekadar denyut tradisi gugah sahur yang sederhana di lorong-lorong desa, kini telah bermetamorfosis secara mengagumkan menjadi mahakarya wisata budaya Pacitan yang begitu megah dan selalu mengundang decak kagum setiap tahunnya.
Untuk memahami keagungan festival ini, ingatan harus ditarik mundur ke akar kesejarahannya yang sangat lekat dengan denyut kehidupan masyarakat akar rumput. Berasal dari akronim “ronda thetek”, instrumen ini pada mulanya hanyalah potongan kentongan bambu berlubang memanjang yang dipukul beramai-ramai menggunakan bambu pula, menghasilkan resonansi bunyi yang khas dan membahana.
Pada masa itu, seni organik ini menjadi tradisi komunal yang selalu mengemuka untuk menyemarakkan malam-malam di bulan suci Ramadan.
Rombongan warga dari berbagai penjuru desa biasanya memulai langkah dari balai desa masing-masing. Terjadi sebuah laku laku sosial yang emosional ketika warga dari Kelurahan Pacitan dan Desa Sumberharjo menyatu di Jembatan Gerdon, kemudian bergelombang menuju ke selatan untuk bergabung dengan kelompok Pucangsewu.

Rombongan ini lalu bergerak menuju Taman Bugar, menjadi simpul pertemuan raksasa dengan kelompok dari Bangunsari dan Sedeng, hingga akhirnya lautan manusia ini bermuara di jantung kota, Alun-Alun Pacitan.
Namun, lautan manusia yang berbaur di jalanan, dipenuhi jiwa muda yang bersemangat dan adrenalin yang memuncak, tidak jarang memantik percikan dinamika tersendiri.
Volume massa yang sangat masif dari berbagai desa dengan euforia kebanggaan wilayahnya masing-masing, kadang memicu gesekan atau persinggungan kecil di tengah hiruk-pikuk gelapnya malam. Kesalahpahaman antarkelompok pemuda saat berpapasan di jalanan menjadi bumbu yang sesekali mewarnai tradisi gugah sahur tersebut.
Meskipun demikian, percikan gesekan itu dapat segera diredam, dan secara umum rangkaian tradisi ini selalu mampu berjalan kondusif, merajut tali silaturahmi yang jauh lebih kuat melampaui sekat-sekat wilayah administratif.
Transformasi Terarah dan Dukungan Penuh Kepala Daerah

Menyadari potensi besar sekaligus perlunya wadah yang lebih terarah untuk menyalurkan energi dan antusiasme warga yang luar biasa tersebut, sejarah Ronthek mencatat sebuah lompatan kebijakan yang sangat strategis dari pemerintah daerah. Embrio festivalisasi budaya ini mulai direalisasikan secara masif dan elegan pada awal era kepemimpinan Bupati Indartato di tahun 2011.
Sepanjang dua periode masa jabatannya, yakni pada rentang 2011-2016 dan terus berlanjut pada 2016-2021, ajang ini terus dirawat, dievaluasi, dan difasilitasi hingga menjadi agenda tahunan yang terstruktur rapi.
Hasil dari pelembagaan tradisi ini pun langsung membuahkan catatan emas. Pada tahun pertamanya, Festival Ronthek Gugah Nagari sukses mengguncang panggung nasional dengan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) berkat partisipasi kolosal 2.818 seniman.
Transformasi ini membawa warna dan standar estetika yang benar-benar baru. Ronthek perlahan tidak lagi berjalan dalam format aslinya yang sekadar pukul bambu. Sentuhan magis instrumen modern seperti saksofon dan drum bas mulai dikawinkan dengan kesederhanaan bambu, menciptakan orkestrasi yang dinamis, harmonis, sekaligus mendebarkan.
Penampilan para peserta pun berevolusi menyerupai karnaval malam hari kelas dunia, dihiasi dekorasi megah berlampu pendar dan kostum tematik yang luar biasa kreatif, tanpa sedikit pun menanggalkan identitas kelokalan Pacitan.
Empat Tahun Gemilang Bersama Karisma Event Nusantara

Sejak mulai dilombakan dalam balutan kompetisi yang sehat, Festival Ronthek Pacitan melahirkan lembaran sejarah panjang mengenai dedikasi seni dari setiap penjuru kecamatan. Memasuki tahun 2014, kompetisi diubah sepenuhnya menjadi sistem festival untuk menjaring penyaji dan penata musik terbaik.
Pada rentang waktu 2018 hingga 2019, Kecamatan Pringkuku melalui grup fenomenal “Raung Bambu” menorehkan dominasi yang luar biasa dengan meraih gelar juara umum berturut-turut melalui karya-karya teatrikal seperti “Sri Boyong” dan “Durbala Singkir”.
Meski semarak bambu itu sempat tertidur pulas pada 2020 dan 2021 akibat hantaman pandemi global yang melumpuhkan berbagai sektor, tongkat estafet pelestarian budaya ini pantang terputus.
Komitmen tersebut diteruskan dengan apik dan penuh gairah oleh suksesornya, Bupati Indrata Nur Bayuaji, yang memegang tampuk kepemimpinan sejak tahun 2021 hingga saat ini. Di bawah arahan dan dorongannya, festival ini kembali bangkit membelah malam pada 2022 dengan semangat yang jauh lebih membara dari sebelumnya.
Puncaknya, kualitas koreografi, aransemen, dan manajerial pertunjukan yang terus beranjak naik mengantarkan pergelaran ini meroket menembus kancah nasional.
Kebanggaan seluruh masyarakat memuncak ketika Festival Ronthek Pacitan 2026 kembali dikukuhkan sebagai salah satu event pilihan dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang digagas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Pencapaian di tahun 2026 ini menjadi tonggak sejarah yang sangat prestisius, menandai tahun keempat secara berturut-turut festival ini kokoh bertahta di dalam kalender KEN sejak debut perdananya pada tahun 2023 silam.
Regenerasi seniman pun kini mendapat ruang yang sangat luas dan inklusif dengan diikutsertakannya kategori pelajar, memastikan bahwa warisan luhur ini akan selalu menemukan pewaris masa depannya. Perjalanan panjang persiapan tersebut akhirnya terbayar lunas pada perhelatan akbar pertengahan Juli lalu.
Para pemenang Festival Ronthek 2026 kembali dikukuhkan di hadapan ribuan pasang mata yang memadati area depan Kantor Bupati Pacitan. Dewan juri secara meyakinkan menetapkan Bregodho Turonggo Mudho (Arjosari), Ronthek Bumbung Kamulyan (Pringkuku), dan Bregodho Bumi Wates (Donorojo) sebagai penyaji terbaik di tingkat kecamatan.
Sementara di tingkat pelajar, semarak inovasi ditampilkan oleh Laskar Segara Wiyata, Ronthek Pring Sejati, dan Pandu Kridhaswara yang membuktikan bahwa bakat muda siap dan sanggup menjaga nyala api tradisi leluhur.
Pada akhirnya, sebagai salah satu mahkota perhiasan dalam Karisma Event Nusantara 2026, Festival Ronthek Pacitan telah menjelma menjadi sebuah monumen perayaan atas lestarinya semangat gotong royong masyarakat.
Ajang wisata budaya Pacitan ini sukses mentransformasi energi perayaan akar rumput menjadi wadah eksplorasi kreativitas tanpa batas, serta jembatan peradaban yang kokoh antara masa lalu dan masa depan yang senantiasa menempatkan kota berjuluk Seribu Gua ini di peta pariwisata berkelas nusantara.
Kilas Balik Daftar Pemenang Festival Ronthek Pacitan (2011–2026)
Untuk merekam jejak dedikasi para penggiat seni dari masa ke masa, berikut adalah daftar lengkap pemenang Festival Ronthek Pacitan sejak masih berformat lomba hingga menjadi festival prestisius:
PESONA
RONTHEK PACITAN
Melintasi pusaran zaman, dari denyut tradisi “Gugah Sahur” yang merakyat menjadi mahakarya wisata budaya nasional yang adiluhung.
Seniman terlibat dalam debut kolosal 2011.
Pilihan Kemenparekraf RI (2023–2026).
Tahun transisi resmi dari sistem lomba.
Ruang inklusif pewaris tradisi masa depan.
Peta Kekuatan Budaya
Pemetaan pusat-pusat karakteristik seni Ronthek di Kabupaten Pacitan yang melahirkan inovasi teatrikal serta menjaga kemurnian tradisi leluhur.
Pusat Episentrum
Kec. Pacitan
Titik kumpul raksasa (Alun-Alun). Menjadi akar historis bertemunya berbagai rute pawai desa di masa tradisi “Gugah Sahur”.
Basis Inovator
Pringkuku & Punung
Pusat lahirnya koreografi teatrikal modern. Rumah bagi juara umum legendaris yang merombak aransemen bambu secara radikal.
Penjaga Tradisi
Arjosari & Donorojo
Menyajikan nuansa magis dan kekuatan kolosal. Kerap mengawinkan unsur religi masa lalu dengan kesenian rakyat lokal.
Lelampahan Sejarah
Bagaimana tradisi jalanan merakyat bertransformasi menjadi standar pertunjukan adiluhung.
Ronda Thetek (Pra-2011)
Instrumen bambu sederhana untuk membangunkan sahur. Murni kegiatan komunal organik di lorong-lorong desa tanpa tendensi kompetisi.
Formalisasi & MURI (2011)
Era Bupati Indartato memulai festivalisasi masif. 2.818 seniman berkumpul memecahkan rekor dunia sebagai legitimasi mahakarya daerah.
Festival & Teatrikal (2014-2022)
Masuknya saksofon dan drum bas. Ronthek berkembang pesat menjadi seni pertunjukan teatrikal dengan kostum karnaval yang menawan.
KEN Milestone (2023-2026)
Pengakuan Kemenparekraf. Di bawah Bupati Indrata Nur Bayuaji, Ronthek resmi menjadi pilar wisata nasional berstandar internasional.
Babad Jawara
Arsip Prestasi Ronthek Pacitan Lintas Generasi.
Penyaji Terbaik Kecamatan:
🏆 Arjosari (Turonggo Mudho)
🏆 Pringkuku (Bumbung Kamulyan)
🏆 Donorojo (Bumi Wates)
Penyaji Terbaik Kecamatan:
🏆 Pringkuku (Rancak Bumbung)
2024
Punung (Ronthekantropus)
2023
Gajah Gumilap (Arjosari), Bumi Banaran (Donorojo), Kedaton Maron (Pringkuku), Blandhong Ori (Bandar)
RAUNG BAMBU
Kecamatan Pringkuku
Lakon: “Sri Boyong” & “Durbala Singkir”
2017: Songgolangit (Punung), Laskar Gempar (Pacitan)
2016: Kelurahan Pacitan
2015: Arjowinangun, Pucangsewu, Menadi
2014: Tanjungsari, Pucangsewu, Bangunsari, Kel. Pacitan
Regenerasi Budaya
Kategori Pelajar diresmikan secara masif untuk memastikan estafet pewarisan seni Ronthek terus menyala di tangan generasi muda Pacitan.
Tingkat SMK
Laskar Segara Wiyata
Tingkat MA
Ronthek Pring Sejati
Tingkat SMA
Pandu Kridhaswara
Penyaji Terbaik (SLTA)
Ronthek Bregada Vokasi Adi Budaya
SMKN Pacitan
Terbaik SMA/Sederajat
Kuncoro Anjayeng Buwono
SMAN 1 Ngadirojo
Terbaik SMP/Sederajat
Laskar Brang Kulon
SMP Se-eks Kawedanan Punung












