Berpacu dengan Kendaraan, Pekerja Kebut Tambal Jalur Ekstrem Tegalombo-Tulakan Pacitan

oleh -100 Dilihat
Permukaan aspal jalan Tegalombo-Tulakan hasil tambal sapu lubang dengan material sisa pasir yang berserakan.
Permukaan jalan di jalur ekstrem Tegalombo-Tulakan, kawasan Sengkan Selang, Pacitan, yang telah selesai ditambal. Meski jalan sudah bebas lubang, pengendara diimbau tetap berhati-hati melintas karena material sisa pasir di atas tambalan aspal baru rawan membuat ban kendaraan selip, terutama di titik tanjakan dan tikungan tajam. (Foto: Nur Aisyah Romadhona/Pacitanku)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Para pekerja pengaspalan jalan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan harus berjibaku dengan arus lalu lintas kendaraan saat mengebut perbaikan jalur ekstrem Tegalombo-Tulakan sejak Sabtu (29/8/2026).

Pengerjaan ini berpacu dengan waktu usai jalan rusak sepanjang dua kilometer tersebut semakin mengalami kerusakan cukup parah.

Pantauan Pacitanku.com pada Minggu (30/8/2026), sejumlah pekerja masih mengerjakan perbaikan jalur tersebut dengan sistem sapu lubang.

Di tengah kontur jalan Sengkan Selang yang sempit, tanjakan curam, dan banyak titik buta (blind spot), para pekerja tidak bisa menutup akses secara total.

Mereka harus bersabar menambal titik-titik aspal yang mengelupas selagi barisan kendaraan roda dua dan empat antre melintas di rute perekonomian tersebut.

“Kendala utamanya adalah kendaraan yang masih melintas. Pekerja harus menunggu kendaraan lewat sebelum melanjutkan pekerjaan,”kata Katman, salah seorang pekerja pengaspalan jalan di lokasi, Minggu (30/8/2026).

Untuk menyiasati padatnya jalur yang menghubungkan wilayah perbatasan Desa Tegalombo dan Desa Kasihan ini, para pekerja menerapkan rekayasa lalu lintas mandiri.

“Jalan tidak ditutup sepenuhnya. Pengerjaan dilakukan dengan sistem buka-tutup, sehingga kendaraan dari arah atas dan bawah bergantian melewati jalan,”jelas Katman.

Tim pengaspalan menargetkan perbaikan dari arah atas hingga bawah rampung dalam waktu lima hingga enam hari.

Dalam kondisi normal, pengerjaan dikebut mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 WIB. Namun, khusus pada pengerjaan hari Minggu, para pekerja terpaksa menunda jam operasional menjadi lebih siang.

“Karena bertepatan dengan pasaran Wage di Tegalombo, sehingga lalu lintas cukup ramai dan pekerja menunggu kondisi jalan lebih sepi,” tutur Katman.

Jalur sepanjang 13 kilometer ini memang menjadi urat nadi perniagaan yang vital karena menghubungkan Pasar Wage, Pasar Bunder, hingga Pasar Kliwon di Kecamatan Tulakan.

Sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Pacitan, Suparlan, menyebut penanganan ruas ini difokuskan menggunakan metode sapu lubang atau penambalan.

Meski perbaikan sedang dikebut oleh para pekerja di lapangan, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada.

“Bagi pengguna jalan tetap harus berhati-hati, karena banyak tikungan dan tanjakan yang tinggi,” tegas Suparlan.

Perbaikan ruas Tegalombo-Tulakan ini terbilang krusial.

Selain menekan angka kecelakaan, rute sepanjang 13 kilometer ini merupakan urat nadi perniagaan yang menghubungkan Pasar Wage di Tegalombo, Pasar Bunder di Kasihan, hingga Pasar Kliwon di wilayah Kecamatan Tulakan.