Dokter Gigi Wisnu Ungkap Bahaya Gigi Infeksi, Jangan Hanya Redakan Sakit dengan Obat

oleh -124 Dilihat
drg. Wisnu Murty Wardana saat memberikan penjelasan mengenai masalah kesehatan gigi dalam wawancara eksklusif bersama Pacitanku.com (Foto: Nur Azizah/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN-Sakit gigi sering kali membuat orang memilih cara praktis dengan membeli obat untuk meredakan rasa nyeri.

Namun, ketika penyebabnya tidak ditangani, rasa sakit tersebut bisa kembali bahkan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Hal itu disampaikan drg. Wisnu Murty Wardana dalam wawancara eksklusif bersama Pacitanku.com, Senin (31/8/2026).

Menurut drg. Wisnu, rasa takut datang ke dokter gigi juga masih menjadi salah satu alasan masyarakat menunda pemeriksaan.

Padahal, dokter gigi tidak semenyeramkan yang selama ini dibayangkan.

“Sebenernya tidak menyeramkan, mungkin karena tidak familiar aja yang pertama, yang kedua ya mungkin karena jadi takut nanti saya mau diapakan ya?” ujar drg. Wisnu.

Ia memahami bahwa orang biasanya datang ke dokter gigi ketika sedang merasakan sakit sehingga pengalaman tersebut terasa berbeda. Meski begitu, ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir.

“Jadi jangan takut mbak, rata-rata semua baik,” katanya.

Persoalan yang lebih penting, lanjut drg. Wisnu, adalah kebiasaan mengobati sakit gigi hanya untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa mencari tahu penyebabnya.

Ketika ditemukan gigi berlubang atau bahkan sudah mati, obat hanya membantu meredakan keluhan untuk sementara.

Sumber masalah pada gigi tetap ada sehingga rasa sakit dapat kembali muncul.

“Itu yang harus dipahami oleh masyarakat juga ya. Bahwa ketika ada masalah dengan gigi lalu kita temukan giginya itu ada lubang atau sudah mati. Obat itu hanya menyembuhkan sementara, bisa kambuh lagi itu,” jelasnya.

Karena itu, apabila sakit gigi terus berulang atau tidak kunjung sembuh meski sudah minum obat, masyarakat disarankan segera memeriksakan kondisi giginya.

“Segeralah pergi ke dokter gigi yang terdekat di sekitar Anda. Paling tidak untuk melihat ada apa dengan gigi kita? Ada masalahkah? Dan apa solusi terapinya,” tuturnya.

Yang juga perlu dipahami, gigi yang sudah rusak tetapi tidak terasa sakit bukan berarti kondisinya baik-baik saja.

Menurut drg. Wisnu, gigi berlubang, rusak hingga tinggal akar, maupun gigi yang sudah mati tetap dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri.

“Ketika kita merasa gigi saya lubang atau sudah rusak akar, tapi nggak pernah sakit, itu jangan menganggap gigi kita baik-baik saja,” katanya.

Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi silent disease yang tidak menimbulkan keluhan berarti untuk sementara waktu, tetapi bisa kembali bermasalah, terutama ketika daya tahan tubuh menurun.

Dalam kesempatan tersebut, drg. Wisnu juga meluruskan anggapan bahwa mencabut gigi dapat menyebabkan kebutaan.

Ia menegaskan bahwa pencabutan gigi tidak secara langsung menyebabkan gangguan pada mata.

“Karena selama saya sekolah dokter gigi sarjana dan spesialis saya tidak pernah menemui atau mendapati bahwa mencabut gigi akan merusak mata,” tegasnya.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa infeksi pada gigi bagian atas yang tidak ditangani memang dapat berpengaruh terhadap area di sekitar mata.

Selain itu, kondisi seperti hipertensi maupun glaukoma juga perlu diperhatikan ketika pasien menjalani tindakan.

Karena itu, gangguan mata yang muncul bersamaan dengan tindakan pencabutan gigi tidak bisa serta-merta dianggap disebabkan oleh pencabutan tersebut.

Dalam praktiknya, drg. Wisnu menyebut kasus gigi berlubang masih menjadi salah satu masalah yang sering ditemuinya.

Selain itu, terdapat kasus gigi yang sarafnya sudah mati atau mati sebagian, infeksi, tumor, hingga trauma akibat kecelakaan.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan pemeriksaan gigi secara berkala, meskipun tidak sedang mengalami sakit.

“Paling tidak periksakan kesehatan gigi Anda paling tidak satu tahun, paling lambat satu setengah tahun, dua tahun,” ujarnya.

Namun, dari berbagai masalah gigi tersebut, drg. Wisnu memberikan perhatian khusus terhadap infeksi atau pernanahan pada rahang.

Setelah mendalami bidang spesialis bedah mulut, ia menemukan bahwa infeksi pada rahang bawah dapat menjadi kondisi yang mengancam jiwa jika dibiarkan.

Menurutnya, nanah yang menumpuk akibat infeksi dapat menyebar ke area leher dan berpotensi mengganggu saluran pernapasan.

“Saya sangat berharap sekali terutama setelah saya terjun ke spesialis bedah mulut. Ternyata yang hal paling mengancam jiwa di bidang kedokteran gigi adalah infeksi atau pernanahan pada rahang bawah,” ungkapnya.

Ia mengatakan beberapa kali menemukan pasien yang awalnya hanya mengonsumsi obat ketika mengalami masalah gigi.

Setelah sempat membaik, keluhan kembali muncul dan disertai pembengkakan.

Karena itu, ketika gigi kembali bengkak atau infeksi kambuh, masyarakat sebaiknya segera memeriksakannya dan tidak hanya mengulang pengobatan sebelumnya.

“Bisa saja bakteri itu resisten dengan obat yang Anda minum,” jelas drg. Wisnu.

Ia menegaskan, infeksi gigi tidak seharusnya dianggap sepele karena dapat terus menyebar apabila penanganannya ditunda.

“Jadi semakin Anda lambat untuk memeriksakan terutama kasus infeksi atau bengkak itu akan makin menjalar dan dia akan berlomba dengan waktu. Hari demi hari makin bertambahnya hari dia akan makin menyebar. Jadi waspada, terutama kasus infeksi,” pungkasnya.