ZENKIDS dan PUSPA Beri Dukungan Psikologis bagi Korban Perundungan di Pacitan, Dorong Pemulihan dan Pemberdayaan Difabel

oleh -100 Dilihat
Screenshot

Pacitanku.com, ARJOSARI-Klinik ZENKIDS Tumbuh Kembang Anak bersama Partisipasi Publik untuk Perlindungan Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) melakukan kunjungan kepada MCF, korban dugaan perundungan, di kediamannya di Desa Pagutan, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Sabtu (15/8) siang.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan moral dan psikologis kepada MCF dan keluarganya yang tengah menghadapi situasi sulit pascakejadian dugaan perundungan.

Dalam kunjungan tersebut, pimpinan sekaligus terapis Klinik ZENKIDS, Syaiul Maruf, bersama Vian Hapsari Putri, turun langsung menemui MCF dan keluarga.

Sementara itu, PUSPA diwakili Yuli Rahmawati Mutiah.

Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

Selain memberikan penguatan kepada korban dan keluarga, tim juga berdiskusi mengenai kebutuhan pendampingan yang diperlukan MCF, khususnya dalam aspek pemulihan psikologis, pengembangan potensi, serta pemberdayaan ke depan.

Syaiul Maruf yang juga merupakan seorang penyandang disabilitas memberikan motivasi kepada MCF dan keluarga agar tidak larut dalam situasi yang sedang dihadapi.

Menurutnya, kondisi seseorang tidak semestinya menjadi penghalang untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Jangan menyerah. Kita ini, bagaimanapun kondisi kita, pasti memiliki potensi. Hanya saja, tidak semua orang mendapatkan kesempatan dan pendampingan untuk benar-benar memperjuangkan potensi tersebut,” ujar Syaiul.

Ia mengatakan, pengalaman sulit yang sedang dihadapi MCF diharapkan tidak menjadi alasan untuk berhenti berkembang.

Justru, dengan dukungan keluarga dan pendampingan yang tepat, potensi yang dimiliki dapat digali dan dikembangkan menjadi kekuatan.

“Kalau bapak ibu berkenan, kami dari ZENKIDS menawarkan pendampingan, baik pasca dugaan perundungan maupun ke depan untuk menemukan potensi, mengembangkannya, dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk menatap masa depan,” lanjut Direktur PT ZENKIDS Rumah Tumbuh Indonesia tersebut.

Menurut Syaiul, dukungan terhadap korban tidak cukup hanya diberikan pada saat persoalan terjadi.

Proses pemulihan juga membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar korban dapat kembali membangun rasa percaya diri, mengenali kemampuan yang dimiliki, serta memperoleh kesempatan untuk berkembang secara optimal.

Ia menambahkan, ZENKIDS siap melakukan tindakan terapi lebih lanjut apabila keluarga menghendakinya.

Tahap awal akan dilakukan melalui screening untuk mengetahui kebutuhan dan kondisi MCF sebelum menentukan bentuk pendampingan yang paling sesuai.

“Kami tidak ingin hanya datang, memberikan semangat, kemudian selesai. Kalau keluarga berkenan, kami ingin melihat kebutuhannya secara lebih utuh. Dari situ nanti bisa diketahui bentuk terapi, pendampingan psikologis, maupun pengembangan kemampuan apa yang paling tepat,” jelasnya.

Senada dengan Syaiul, Yuli Rahmawati Mutiah dari PUSPA turut memberikan penguatan kepada MCF dan keluarga.

PUSPA menilai kelompok rentan membutuhkan pendampingan yang terarah dan berkelanjutan, bukan hanya dalam aspek perlindungan, tetapi juga psikososial, pendidikan, keterampilan, hingga pemberdayaan.

“Jika membutuhkan pendampingan lebih lanjut, kami dari PUSPA siap mendampingi dan membantu mencarikan beberapa jalur pendukung bagi keluarga,” kata Yuli.

Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi penting agar korban maupun kelompok rentan tidak menghadapi persoalan seorang diri.

Dukungan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dan dilakukan dengan tetap menghormati hak serta pilihan korban dan keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, ayah MCF menyambut baik tawaran pendampingan dari ZENKIDS maupun PUSPA.

Keluarga kemudian berencana menjadwalkan kunjungan ke Klinik ZENKIDS untuk dilakukan screening awal terhadap MCF.

Screening tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memetakan kebutuhan MCF secara lebih komprehensif, baik dari sisi perkembangan, psikologis, maupun potensi keterampilan yang dapat dikembangkan.

Di sisi lain, ZENKIDS dan PUSPA menegaskan bahwa kunjungan dan pendampingan yang dilakukan tidak berkaitan dengan proses hukum yang sedang berjalan.

Seluruh proses hukum dalam perkara yang melibatkan korban sepenuhnya berada dalam kewenangan dan penanganan kuasa hukum masing-masing pihak yang berperkara.

Karena itu, ZENKIDS maupun PUSPA tidak berada dalam posisi untuk masuk, mengarahkan, ataupun memberikan intervensi terhadap proses hukum tersebut.

Fokus kedua lembaga adalah memastikan MCF memperoleh dukungan yang dibutuhkan dalam aspek psikologis, pemulihan emosional, kesehatan mental, serta pemberdayaan.

“Seperti yang sudah kami jelaskan kepada keluarga tadi, fokus kami berada dalam lingkup kesehatan mental dan pemberdayaan teman-teman difabel. Terlebih pihak keluarga juga sudah menunjuk kuasa hukum. Jadi kami tegaskan, peran kami adalah mengawal korban dari sisi dukungan moral dan psikologis serta membantu proses pemulihannya,” tutur Syaiul.

Ia menegaskan, pembagian peran tersebut penting agar setiap pihak dapat menjalankan tugasnya masing-masing tanpa terjadi tumpang tindih.

“Proses hukumnya biar berjalan sesuai koridor hukum dan ditangani oleh pihak yang memang memiliki kewenangan. Sementara kami mengambil bagian pada hal yang menjadi kapasitas kami, yaitu pendampingan, pemulihan dan pemberdayaan,” imbuhnya.

Ke depan, PUSPA berencana melakukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut untuk menyusun bentuk pendampingan yang lebih terarah, terstruktur, dan berkelanjutan.

Salah satu perhatian yang akan didorong adalah bagaimana individu seperti MCF dan penyandang disabilitas lainnya di Pacitan dapat memperoleh kesempatan untuk mengenali potensi diri, mendapatkan keterampilan, serta memiliki kemampuan yang dapat menunjang kemandirian dan kesiapan kerja.

Bagi Syaiul, persoalan pemberdayaan penyandang disabilitas tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan.

Yang tidak kalah penting adalah membuka akses dan kesempatan agar penyandang disabilitas dapat menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

“Harapan kami, MCF tidak hanya melihat dirinya sebagai seseorang yang sedang mengalami persoalan. Kami ingin membantu agar dia juga bisa melihat bahwa masih ada potensi yang dapat dikembangkan. Potensi itu yang nantinya bisa menjadi modal untuk kemandirian,” katanya.

Syaiul juga membuka peluang agar kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada MCF, tetapi dapat diperluas kepada penyandang disabilitas lainnya di Pacitan yang membutuhkan pendampingan dalam menemukan maupun mengembangkan potensinya.

“Nanti dalam waktu dekat kami jadwalkan pembahasan konkret untuk mengawal MCF, sekaligus teman-teman difabel lain di Pacitan yang mungkin masih kesulitan mengetahui potensi mereka dan bagaimana pengembangannya ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.

Karena itu, diperlukan proses untuk mengenali kemampuan tersebut, memberikan ruang untuk berkembang, serta menghadirkan lingkungan yang mendukung.

“Kita ingin membangun cara pandang bahwa disabilitas bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang. Yang dibutuhkan adalah akses, pendampingan, kesempatan, dan lingkungan yang memberikan ruang,” tegasnya.

Kolaborasi ZENKIDS dan PUSPA tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendampingan yang lebih inklusif bagi anak, keluarga, penyandang disabilitas, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Pemulihan psikologis, kata Syaiul, idealnya berjalan beriringan dengan proses pemberdayaan.

Dengan demikian, seseorang tidak hanya dibantu untuk melewati pengalaman sulit, tetapi juga dipersiapkan untuk memiliki arah dan harapan dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya bagaimana seseorang bisa pulih dari pengalaman yang berat, tetapi bagaimana setelah pulih dia memiliki tujuan. Ada kemampuan yang bisa dikembangkan, ada aktivitas yang bisa dilakukan, dan ada masa depan yang bisa diperjuangkan,” katanya.

Bagi ZENKIDS, pelayanan kesehatan juga tidak berhenti pada layanan yang diberikan di dalam ruang klinik.

Kehadiran tenaga kesehatan dan terapis di tengah masyarakat merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi anak, keluarga, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang membutuhkan pendampingan khusus.

Sementara itu, sinergi bersama PUSPA diharapkan dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dalam membangun sistem perlindungan dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif di Pacitan.

Dengan adanya kolaborasi tersebut, diharapkan penanganan terhadap korban dugaan perundungan maupun kelompok rentan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Aspek perlindungan tetap berjalan sesuai koridor masing-masing, sementara pemulihan psikologis, dukungan keluarga, pengembangan potensi, serta pemberdayaan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Harapan kami sederhana, MCF dan keluarga tidak merasa sendirian. Ada banyak pihak yang bisa mengambil peran sesuai kapasitasnya. Kami ingin hadir untuk memberikan dukungan, membantu proses pemulihan, dan kalau memungkinkan, bersama-sama menemukan jalan agar ke depan MCF bisa berkembang sesuai potensi yang dimilikinya,” pungkas Syaiul.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal bagi ZENKIDS dan PUSPA untuk melanjutkan koordinasi dalam waktu dekat, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam memberikan perlindungan, pendampingan, dan pemberdayaan bagi kelompok rentan di Kabupaten Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.