Angkat Sejarah Desa, Karangnongko Pukau Pengunjung Festival Ronthek Pacitan 2026

oleh -387 Dilihat
Kelompok seni Rontek Rangkowijoyo dari Desa Karangnongko saat tampil membawakan tema sejarah desa di Festival Ronthek Pacitan 2026.
Peserta kelompok seni Rontek "Rangkowijoyo" perwakilan Desa Karangnongko membawakan atraksi budaya bertema sejarah asal usul desa dalam ajang Festival Ronthek Pacitan 2026 di alun-alun Pacitan, Jumat (17/7/2026). (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung melalui kelompok seni Rontek “Rangkowijoyo” mengusung sejarah asal usul desa sebagai tema utama dalam ajang Festival Ronthek Pacitan 2026 di kawasan alun-alun Pacitan, Jumat (17/7/2026).

Penampilan budaya ini memadukan narasi historis dan identitas lokal untuk melestarikan memori kolektif masyarakat setempat mengenai transformasi wilayah mereka dari hutan belantara menjadi permukiman asri.

Kepala Desa Karangnongko, Aminudin, menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan langkah strategis untuk menjadikan sejarah lokal sebagai ikon desa. Konsep utama yang diangkat berpusat pada elemen burung rangkok dan pohon nangka.

“Untuk konsepnya kita mengambil dari sejarah Desa Karangnongko, yaitu nama Karangnongko yang bersemula dari burung rangkok. Kami mengambil konsep burung rangkok itu agar menjadi ikon atau trademark Desa Karangnongko, sekaligus mengenang asal usul desa yang semula hutan belantara menjadi pemukiman,”kata Aminudin.

Secara historis, seni Rontek Rangkowijoyo mengisahkan pelarian putra-putri Raden Tumenggung Notodipuro, yakni Raden Ki Dono Putro dan Roro Ayu Minok, ke sebuah hutan lebat milik Ki Ageng Petung.

Di sana, mereka menemukan habitat burung rangkok dan pohon nangka yang kelak menjadi cikal bakal nama Karangnongko. Kisah ini diangkat sebagai simbol keseimbangan ekosistem dan keharmonisan hidup dengan alam.

Meskipun burung rangkok kini sudah tidak ditemukan di wilayah tersebut, Pemerintah Desa Karangnongko tetap memanfaatkannya sebagai akar sejarah, sembari menonjolkan elemen pohon nangka agar lebih relevan dan mudah diingat oleh masyarakat luas saat ini.

“Untuk masa sekarang itu burung rangkok tidak ada, tapi kita mengambil nangkanya saja agar lebih mudah dikenal. Sebetulnya itu bukan dari sejarah, tapi kalau sejarah kita dari rangkok,”jelasnya.

Lebih lanjut, Aminudin menuturkan bahwa persiapan pementasan ini melibatkan partisipasi masif dari warga.

Total terdapat 150 peserta yang diturunkan, terdiri atas 58 peserta inti serta tim pendukung seperti bagian perlengkapan, properti, dan tenaga medis.

Mengingat besarnya curahan tenaga, waktu, dan biaya yang dikerahkan warga untuk memeriahkan acara tahunan ini, Aminudin berharap Pemerintah Kabupaten Pacitan dapat memberikan perhatian lebih.

Ia mendorong adanya dukungan anggaran yang memadai bagi para peserta agar kelestarian seni dan budaya daerah dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan.

Video Livestreaming Festival Ronthek Pacitan 2026 Hari pertama

No More Posts Available.

No more pages to load.