Festival Ronthek Pacitan 2026: Kisah Mbah Sirno Bawa Pesan Perdamaian dari Sirnoboyo

oleh -100 Dilihat
Pertunjukan Ronthek Ki Ageng Sirno dari Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan.
Penampilan memukau kontingen Kecamatan Pacitan yang membawakan lakon "Sirnaning Baya, Sayekti Nyawiji" dengan properti ikonik pada Festival Ronthek Pacitan 2026, Jumat (17/7/2026). (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Kontingen Kecamatan Pacitan sukses memukau penonton lewat pertunjukan Rontek Ki Ageng Sirno bertajuk “Sirnaning Baya, Sayekti Nyawiji” dalam Festival Ronthek Pacitan 2026 pada Jumat (17/7/2026) di kawasan alun-alun Pacitan.

Mengangkat kisah Mbah Sirno dari Desa Sirnoboyo, pertunjukan yang melibatkan 40 seniman dan pendukung ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga perdamaian serta persatuan di tengah masyarakat.

Panitia Perlengkapan Kontingen Kecamatan Pacitan, Supadi, menjelaskan bahwa tema tersebut terinspirasi dari ikon Desa Sirnoboyo, yaitu buaya (boyo), yang dipadukan dengan ketokohan Mbah Sirno sebagai sosok peredam konflik.

“Yang ditugaskan dari Kecamatan Pacitan yaitu Sirnoboyo. Temanya sudah bisa dilihat dari propertinya, Sirnoboyo memakai ikon boyo. Ceritanya, rontek yang biasanya digunakan untuk gugah sahur dikemas dengan adanya tawur, kemudian datang Mbah Sirno untuk mendamaikan,” kata Supadi.

Kisah tersebut diangkat untuk mengingatkan kembali esensi kerukunan antarwarga. Menurutnya, ego dan amarah harus ditekan agar harmoni kehidupan tetap terjaga.

“Cerita Mbah Sirno mendamaikan bahwa Sirnoboyo itu dulur semua, bahkan di luar Sirnoboyo pun semuanya dulur. Jadi jangan sampai bubrah, hidup harus bersama-sama,”katanya menegaskan.

Guna memperkuat visualisasi cerita, kontingen menampilkan properti utama berupa replika buaya berlampu di barisan depan serta naga.

Pertunjukan ini didukung oleh 31 pemain rontek dan sembilan orang pendukung yang terdiri atas penari serta penabuh gamelan.

Proses persiapan pertunjukan memakan waktu sekitar satu bulan dengan porsi latihan empat kali sepekan. Supadi mengungkapkan, timnya juga mendatangkan pelatih dari luar daerah guna mematangkan konsep pementasan.

“Konsep diberikan bertahap, sekitar seminggu sekali datang membawa konsep, kemudian kami pelajari, diterapkan saat latihan, lalu dikembangkan lagi hingga pertunjukan siap ditampilkan,”imbuh dia.

Di balik kemeriahan tersebut, Supadi mengakui bahwa penyelenggaraan pertunjukan rontek menelan biaya yang tidak sedikit. Namun, tingginya antusiasme dan dukungan masyarakat Sirnoboyo menjadi pendorong utama bagi seluruh tim.

“Harapan saya, rontek ini terus berkembang. Memang biayanya cukup besar, tetapi masyarakat sangat antusias mendukung. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan ke depan ada dukungan anggaran yang lebih memadai agar kesenian rontek tetap lestari,” harapnya.

Berdasarkan narasi pertunjukan, lakon “Sirnaning Baya, Sayekti Nyawiji” lahir dari fenomena tawuran antarwarga yang kerap rentan terjadi saat tradisi rontek gugah sahur.

Di tengah perpecahan, tokoh Mbah Sirno dan Nyi Sirno hadir sebagai simbol kebijaksanaan. Pesan utamanya adalah ajakan nyawiji (bersatu), karena dengan merawat kebersamaan, segala bentuk mara bahaya akan sirna dari kehidupan bermasyarakat.

Video Festival Ronthek Pacitan 2026 Hari ke-1 | 17 Juli 2026

No More Posts Available.

No more pages to load.