Pacitanku.com, PACITAN-Paguyuban Langen Tayub Kabupaten Pacitan menggelar kegiatan Grebeg Tayub 2026 di kawasan Parai Teleng Ria, Kamis (19/6/2026) malam.
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut menjadi ajang pelestarian seni budaya sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat dan pegiat kesenian tayub di Kabupaten Pacitan.
Rangkaian acara diawali dengan pengukuhan Dewan Pengurus Paguyuban Langen Tayub Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan masa bakti 2026-2031.
Surat Keputusan kepengurusan dibacakan oleh Ketua Paguyuban Langen Tayub Pacitan, Wayan Diana, kemudian dilanjutkan prosesi pengukuhan oleh Dr. Arif Setia Budi, S.Sos., MPA, selaku Ketua Dewan Pembina Paguyuban Langen Tayub Pacitan sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Pacitan.
Dalam sambutannya yang disampaikan menggunakan Bahasa Jawa, Arif Setia Budi berpesan agar seluruh pengurus yang telah dikukuhkan dapat menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan rasa senang hati.
Ia juga berharap para pengurus mampu terus berperan aktif dalam melestarikan budaya serta memajukan kesenian tayub sebagai salah satu warisan budaya yang dimiliki Kabupaten Pacitan.
Usai pengukuhan, acara dilanjutkan dengan Prosesi Grebeg Tayub Tumpeng 7 Sap.
Prosesi tersebut sarat dengan nilai filosofi dan doa keselamatan bagi masyarakat Pacitan.
Dupa yang digunakan sebagai pengharum melambangkan harapan agar masyarakat Pacitan dapat mengharumkan nama daerah di berbagai bidang.
Sementara pisang raja memiliki makna doa agar warga Pacitan mampu menjadi pemimpin yang membawa manfaat di mana pun berada.
Dalam prosesi tersebut juga disajikan delapan jenis jenang, yakni jenang abang, jenang putih, jenang abang campur putih, jenang putih campur abang, jenang ijo, jenang kuning, jenang tua, dan jenang sengkala.
Seluruhnya menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sejak berada dalam kandungan hingga kembali ke Sang Pencipta, dengan harapan senantiasa memperoleh keselamatan.
Selain itu terdapat tujuh buceng atau tumpeng yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
Buceng golong melambangkan kerukunan masyarakat, buceng tolak yang dihiasi janur sebagai simbol penolak mara bahaya, serta buceng kendit atau slamet yang bermakna doa keselamatan bagi seluruh warga.
Prosesi juga dilengkapi dengan sego uduk dengan daging, dan ingkung sebagai simbol kemuliaan dan keberkahan hidup.
Sementara buceng punar menjadi lambang harapan agar masyarakat senantiasa memperoleh pencerahan serta tercapainya setiap hajat dan cita-cita yang baik.
Tak ketinggalan, jajan pasar yang berjumlah 16 sesuai neptu hari pelaksanaan turut menjadi bagian penting dalam prosesi.
Jajanan tersebut melambangkan pertemuan antara penjual dan pembeli yang dilandasi kejujuran dan keikhlasan, sekaligus menjadi simbol doa agar segala harapan baik masyarakat dapat dikabulkan.
Wayan menjelaskan, seluruh rangkaian oborampe yang digunakan dalam Grebeg Tayub bukan sekadar pelengkap acara, melainkan mengandung makna mendalam, doa dan harapan bagi masyarakat Pacitan.
“Melalui Grebeg Tayub ini kami ingin nguri-uri budaya leluhur sekaligus memanjatkan doa untuk keselamatan, kerukunan, kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat Pacitan,” ujarnya.
Melalui Grebeg Tayub 2026, Paguyuban Langen Tayub Pacitan berharap kesenian tayub tetap lestari, semakin diterima oleh generasi muda, serta mampu menjadi salah satu kekuatan budaya yang membanggakan Kabupaten Pacitan.













