Kasus Leptospirosis Tinggi, Warga Pacitan Wajib Gunakan APD di Area Berisiko

oleh -134 Dilihat
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pacitan, drg. Nur Farida, saat diwawancarai mengenai temuan paparan bakteri Leptospira pada populasi tikus di Pacitan dan pentingnya langkah pencegahan bagi masyarakat, Jumat (8/5/2026). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan meminta masyarakat tidak menganggap remeh potensi penularan leptospirosis.

Peringatan keras ini dikeluarkan menyusul temuan fakta bahwa sekitar 70 persen populasi tikus di sepanjang aliran Sungai Grindulu positif mengandung bakteri Leptospira.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pacitan, drg. Nur Farida, menegaskan bahwa bakteri penyebab penyakit ini tidak dapat dideteksi secara kasat mata.

Oleh karena itu, masyarakat yang sering beraktivitas di area berlumpur, selokan, maupun sawah wajib meningkatkan kewaspadaan melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

“Dari hasil pemantauan pada tahun 2015, sekitar 70 persen tikus yang diperiksa mengandung leptospira. Temuan itu didapat dari wilayah sepanjang Sungai Grindulu, mulai utara hingga selatan,”kata Farida, Jumat (8/5/2026).

Farida menjelaskan bahwa langkah pencegahan yang paling efektif bagi warga, khususnya petani, adalah dengan menggunakan perlengkapan seperti sepatu bot dan sarung tangan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kontak langsung kulit dengan air atau tanah yang kemungkinan telah tercemar urine tikus yang terinfeksi.

“Kalau aktivitasnya berisiko bersentuhan dengan lingkungan yang mungkin terpapar leptospira, sebaiknya menggunakan APD,” imbuhnya.

Hingga saat ini, tercatat sudah ada 139 kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan, di mana Kecamatan Tulakan menjadi wilayah dengan sebaran kasus tertinggi. Dinkes juga mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah beraktivitas di lingkungan rawan, sembari melaporkan riwayat kegiatannya kepada petugas medis.

“Pasien perlu menyampaikan aktivitas yang dilakukan sebelumnya, misalnya habis membersihkan selokan atau bekerja di sawah. Itu membantu proses diagnosis dan penanganan dini,” kata Farida.

Selain penggunaan APD, menjaga kebersihan lingkungan rumah juga menjadi faktor penting untuk memutus mata rantai penularan dengan mencegah tikus masuk ke area permukiman.

No More Posts Available.

No more pages to load.