Waspada Terjebak Hubungan Toksik, Psikolog Ingatkan Bahaya Sifat Posesif dan Bagikan Solusi Tepat untuk Melepaskan Diri

oleh -158 Dilihat
Psikolog Denti Putri Agung Bayu Wardani saat berbincang dalam siniar Kertas Kosong di studio Pacitanku TV.
Psikolog Forensik dan Klinis, Denti Putri Agung Bayu Wardani, saat menjadi narasumber untuk membahas fenomena "barcode" atau self-harm di kalangan remaja dalam siniar Kertas Kosong di studio Pacitanku TV, belum lama ini. (Foto: Dok. Pacitanku TV)

Pacitanku.com, PACITAN — Kasus individu yang terjebak dalam hubungan toksik sering kali bermula dari ketidakmampuan mengenali tanda bahaya (red flags) sejak dini.

Merespons fenomena tersebut, Psikolog Klinis Pacitan Denti Putri Agung Bayu Wardani mengingatkan masyarakat bahwa perilaku posesif yang mengekang bukanlah bentuk kasih sayang, sekaligus membagikan langkah-langkah solutif agar seseorang dapat terbebas dari lingkaran hubungan beracun.

Di kalangan anak muda, ada kesalahpahaman umum yang mengartikan sifat membatasi dan cemburu berlebihan sebagai wujud dari besarnya cinta dari pasangan.

Denti -sapaan akrabnya- menegaskan bahwa kebutaan logika ini biasanya dilatarbelakangi oleh rasa kelekatan yang tidak aman akibat kurangnya kasih sayang di masa lalu, yang membuat korban rela dimanipulasi.

“Terkadang kayak misalkan nih yang masih salah ya di mindset orang-orang bahwa ketika kita punya pasangan pasangannya itu terlalu cemburu, kemudian tiap detik tiap saat itu harus video call dan posesif banget itu bentuk kasih sayang, iya betul kasih sayang tapi ketika itu sudah overdosis, sudah berlebihan, sudah overload itu kan juga sudah tidak sehat kan,”katanya saat berbincang dalam siniar Kertas Kosong episode 58, yang tayang di Youtube Pacitanku TV, dikutip pada Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Miris! Psikolog Syok Temukan Fenomena Barcode Merajalela di Kalangan Remaja Pacitan

Bagi individu yang telanjur terjebak dalam hubungan toksik maupun hubungan tanpa status (HTS), Denti menyarankan sejumlah solusi pemulihan.

Langkah pertama dan paling mendasar adalah mencintai diri sendiri (self-love) agar individu bisa menyadari nilai dirinya serta tidak mudah dimanipulasi hanya untuk mendapatkan validasi.

Denti lantas menegaskan sebuah perumpamaan, “gimana kita mau menjalin hubungan ketika kita sendiri tidak cinta dengan diri kita”.

Selain itu, korban disarankan untuk tidak memendam masalahnya sendirian dengan cara memperbaiki lingkungan pergaulan (circle) dan segera mencari pertolongan dari pihak yang tepercaya.

“curhat dulu sama teman dekat ketika teman dekat tidak bisa ya sudah langsung ke profesional karena kita tidak bisa sendiri,”saran Denti.

Sebagai pelengkap dari semua usaha pemulihan mental, Denti sangat menekankan pentingnya memperbaiki kedekatan spiritual sebagai fondasi utama.

“memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan sehingga Tuhan akan menuntun kita ke jalan yang jauh lebih baik,” pungkasnya.

Video Waspada Red Flags! Kenali Tanda Bahaya Teman & Pasangan Toxic Bersama Psikolog Pacitan | Eps. 58

No More Posts Available.

No more pages to load.