Pacitanku.com, NGAIROJO- Tradisi Longkangan atau yang dahulu dikenal sebagai “babat dalan” kembali digelar warga RT 02, Dusun Nawangan, Desa Bogoharjo, Ngadirojo, Pacitan pada Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya melestarikan budaya dan sejarah desa.
Menurut Ali Sukasmun selaku panitia dan tokoh kesenian setempat, rangkaian acara diawali dengan kirab sedekah bumi yang menampilkan berbagai makanan tradisional seperti ingkung, buceng, ambengan, atau bancakan.
“Ini adalah bentuk syukur masyarakat sekaligus tradisi turun-temurun yang masih kami jaga,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.
Selain kirab, acara juga diisi dengan pemaparan asal-usul desa, baik Desa Bogoharjo secara umum maupun sejarah pembabatan tanah di Dusun Nawangan.
Cerita tersebut merujuk pada buku Babat Pacitan karya Raden Gondo Wardoyo yang dicetak pada tahun 1935.
Dari sumber sejarah tersebut, masyarakat kemudian mengembangkan kisah dengan kearifan lokal yang diwariskan secara lisan dari para leluhur.
Rangkaian berikutnya adalah prosesi “ujud-ujud” atau penyampaian niat dan harapan warga, dilanjutkan dengan genduren atau makan bersama di titik pusat RT.
Setelah itu, warga dengan antusias mengikuti tradisi berebut sedekah bumi yang telah disiapkan.
Ali Sukasmun menjelaskan bahwa kegiatan Longkangan rutin digelar setiap Jumat Legi atau Sabtu seperti hari ini.
Menariknya, acara ini juga melibatkan pihak sekolah dan masyarakat luas sebagai bentuk kebersamaan lintas elemen.
Ia menambahkan, pelaksanaan kembali tradisi ini juga menjadi ruang ekspresi bagi para pelaku seni di tengah keterbatasan anggaran desa.
“Ini semacam ruang berekspresi sekaligus bentuk ‘protes’ kecil pelaku seni. Walaupun sederhana, setidaknya pelaku seni bisa tetap berkarya dan tidak stres,” ungkapnya.
Pendanaan kegiatan pun dilakukan secara swadaya.
Panitia tidak menarik iuran dari warga, melainkan berasal dari partisipasi sukarela masyarakat, termasuk guru dan pelaku usaha di sekitar.
Dengan semangat gotong royong dan pelestarian budaya, tradisi Longkangan diharapkan terus menjadi identitas lokal sekaligus mempererat kebersamaan warga di Pacitan.











