Pacitanku.com, PACITAN — Kesenian kuno Wayang Beber asal Kabupaten Pacitan yang diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun berhasil diselamatkan dari ancaman kepunahan dan kini diakui sebagai warisan dunia, setelah adanya langkah berani mendobrak aturan adat terkait regenerasi dalang.
Krisis pewaris kesenian peninggalan era Majapahit di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo ini sempat terjadi pada tahun 2004.
Saat itu, dalang generasi ke-13, Mbah Mardi Guno Utomo, tidak memiliki keturunan laki-laki. Kondisi ini memicu jeda regenerasi (nunggak semi) karena aturan adat mewajibkan dalang harus berasal dari keturunan langsung berjenis kelamin laki-laki.
Merespons potensi kepunahan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pacitan saat itu, Alm. Muhammad Fatoni, mengambil langkah tegas pada 2009.
Ia menunjuk Rudhi Prasetyo—seorang penggiat budaya yang sudah lama berguru (nyantrik) kepada Mbah Mardi—untuk meneruskan tampuk pendalangan.
“Wayang beber yang ada di sana (Gedompol) itu ada satu wayang beber yang sangat tua, usianya kira-kira sekitar 400 tahun lebih dan sudah dirawat oleh sekitar 15 keturunan sampai sekarang,”kata Ki Rudhi Prasetyo saat berbincang dalam siniar Pacitanku TV episode 57, dikutip pada Senin (6/4/2026).
Keputusan Ki Rudhi memegang amanah tersebut didasari komitmen agar Wayang Beber bisa dinikmati oleh Nusantara dan dunia, bukan sekadar diklaim oleh satu wilayah.
Dedikasi ini membuahkan hasil.
Wayang Beber Pacitan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional pada 2015 dan masuk dalam daftar Memory of the World (MoW) pada 2018.
Kini, kesenian tersebut terus dipentaskan dalam berbagai ritual adat maupun ajang kesenian bertaraf internasional.
Wayang beber sendiri sebenarnya berumur lebih tua dibandingkan wayang kulit maupun wayang golek. Penamaannya berasal dari cara memainkannya, yakni dengan membeberkan atau membentangkan layar atau kertas gambar yang berisi lakon cerita.
Dalam pementasannya yang memakan waktu sekitar 90 menit, dalang duduk bersimpuh membentangkan enam gulungan wayang secara berurutan, di mana masing-masing gulungan berisi empat adegan. Dalang menggunakan lonjoran kayu bernama seligi untuk menunjuk gambar demi gambar.

Pementasan ini diawali ritual sarana tradisional seperti kemenyan dan bunga setaman, serta diiringi instrumen sederhana berupa gong, kenong, kendang, dan rebab.
Secara historis, jejak wayang beber sudah ada sejak zaman Kerajaan Jenggala pada 1223 Masehi dalam bentuk lukisan di daun lontar.
Pada 1244 M, mediumnya beralih ke kertas kayu. Kerajaan Majapahit kemudian menyempurnakannya pada 1316 M dengan memasang tongkat kayu di ujung lembaran untuk mempermudah penggulungan.
Masuk ke masa Kesultanan Demak pada 1518 M, Wali Songo memodifikasi bentuknya menjadi miring untuk menyesuaikan dengan ajaran Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup secara realis, yang kelak menjadi cikal bakal wayang kulit (purwa).
Pada 1690, Kerajaan Kartasura kembali membuat wayang beber dengan lakon Joko Kembang Kuning
Namun, imbas pemberontakan di Kartasura pada 1735 M membuat keluarga kerajaan mengungsi dan memecah pusaka wayang beber menjadi dua; sebagian dibawa ke Wonosari (Gunungkidul) dan sebagian lagi berlabuh di Karangtalun (Pacitan), tempat kesenian ini terus dirawat hingga detik ini.
Video Menerka Nasib Wayang Beber Pacitan di Era Digital | Kertas Kosong Eps. 57









