Pacitanku.com, JAKARTA – Meluasnya perang di Timur Tengah dipastikan akan memberikan pukulan telak bagi perekonomian global, termasuk memicu ancaman krisis fiskal bagi Indonesia.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara khusus menyoroti ancaman gangguan pasokan energi yang dapat menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
SBY menuturkan, ketegangan di kawasan tersebut berpotensi menyumbat jalur perairan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi bagi 20 persen total pasokan energi global.
Gangguan rute kapal tanker ini memicu meroketnya harga minyak mentah dunia, di mana kenaikannya sudah mencapai 20 dolar AS per barel di awal eskalasi peperangan.
Baca juga: SBY Peringatkan Bahaya Perang Dunia Ketiga: Konflik AS-Iran Mengancam Keterlibatan NATO
Kondisi ini, menurut SBY, menjadi ancaman nyata karena Indonesia kini berstatus sebagai negara importir bersih (net importer) minyak.
“Ketika naik harga per barelnya maka negara pemerintah harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menomboki. Karena APBN kita kan hanya 70 dolar per barel. Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar defisit kita ratusan triliun,”kata SBY, dikutip dari Podcast SBY point yang tayang di Youtube Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pria kelahiran Tremas, Arjosari, Pacitan ini menekankan bahwa ruang fiskal APBN saat ini terbatas. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto untuk segera menyiapkan mitigasi dan kebijakan ekonomi darurat.
Jika pemerintah pada akhirnya terpaksa menaikkan harga BBM, SBY menyarankan agar program Bantuan Langsung Tunai (BLT) disiapkan guna menyelamatkan kelompok masyarakat bawah (grassroot).
“Sedia payung sebelum hujan, lakukan antisipasi yang bagus tindakan preventif yang bagus, economic policy yang tepat, fiscal policy atau pengendalian fiskal yang tepat. Dengan demikian sedahsyat apapun kita akan bisa bertahan,”pungkasnya.










