Pacitanku.com, TULAKAN — Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis tradisi, mahasiswa KKN STKIP PGRI Pacitan Kelompok 13 mengambil langkah nyata merawat jati diri bangsa.
Mereka menggandeng warga dan pegiat seni menggelar Seminar Budaya bertajuk “Eksistensi Budaya Lokal di Era Modern” di Balai Desa Losari, Sabtu (21/2/2026), guna menjaga napas seni tradisional Tayub agar tak sekadar menjadi kenangan masa lalu.
Kegiatan yang digelar di Balai Desa Losari ini menjadi ruang temu yang hangat antara generasi muda, jajaran perangkat desa, dan para sesepuh pegiat seni Tayub setempat.
Hadir sebagai narasumber utama adalah Tupani, Ketua Paguyuban Langen Bekso Siswa Budaya dari Desa Bubakan.
Ketua Pelaksana Seminar, Aan, menegaskan bahwa budaya lokal kerap terpinggirkan oleh tren kekinian. Padahal, warisan tersebut memikul makna filosofis yang sangat dalam bagi masyarakat.
“Budaya seperti Tayub bukan hanya soal tari atau hiburan semata, tetapi tentang identitas, sejarah, dan jati diri masyarakat kita. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak semua lapisan masyarakat untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga aktif menjaga warisan budaya yang kita miliki,”kata Aan.
Inisiatif barisan mahasiswa ini memantik haru dan apresiasi tinggi dari Kepala Desa Losari, Tumarno. Ia melihat seminar ini sebagai embrio kebangkitan kembali budaya Jawa di desanya agar selaras dengan perkembangan zaman.
“Harapan kami, seminar ini menjadi awal untuk terus melestarikan budaya Jawa. Di zaman sekarang, bahkan campursari pun sudah menyertakan unsur Tayub di dalamnya,”kata Tumarno.
Di sisi lain, narasumber seminar, Tupani, membawa kabar menyejukkan. Ia memaparkan bahwa eksistensi seni Langen Bekso atau Tayub di Pacitan kini mulai mendapat angin segar.
Perhatian pemerintah daerah kian nyata dengan terbentuknya kepengurusan di tingkat kabupaten yang diketuai langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, Arif Setia Budi.
“Ini menjadi motivasi besar bagi kita. Di tingkat kabupaten sudah terbentuk kepengurusan, dan kami berharap di Kecamatan Tulakan agenda pelestarian ini juga berjalan searah. Mengingat di setiap hajatan masyarakat, seni Tayub hampir selalu hadir meramaikan,” jelas Tupani.
Melalui ruang diskusi kolektif ini, kesadaran masyarakat diharapkan terus tumbuh. Seni Tayub diyakini akan terus mengalun dan menari bersama detak kehidupan masyarakat modern Pacitan, tanpa harus kehilangan ruh aslinya.











