Pacitanku.com, KEBONAGUNG — Ratusan nelayan di Pantai Wawaran, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan terpaksa menelan kerugian akibat cuaca buruk dan minimnya tangkapan selama musim penghujan pada bulan Februari ini.
Di tengah mahalnya harga bahan bakar, mereka tetap nekat menerjang ombak demi menyambung hidup keluarga, meski hasil tangkapan sering kali tak mampu menutup biaya operasional melaut.
Kondisi murung pesisir Wawaran pagi itu sejalan dengan nasib sekitar 200 nelayan yang beroperasi di kawasan Glandang Wawaran.
Sipur, salah satu nelayan setempat, mengungkapkan bahwa hasil laut saat ini turun drastis jika dibandingkan dengan musim kemarau, di mana satu perahu biasanya mampu membawa pulang hingga satu ton ikan tongkol.
“Bulan ini kurang maksimal. Paling besar dapat sekitar 20 kg, kadang cuma 5 kg, bahkan seringnya minus,”katanya, Selasa (17/2/2026).
Aktivitas para pekerja keras ini dimulai sejak pukul 04.00 WIB untuk memasang jaring dan baru kembali pada pukul 08.00 WIB.
Pada sore hari, mereka harus kembali ke laut untuk menyalakan lampu kerambah secara manual guna memancing ikan.
Di tengah cuaca yang tak bersahabat, mereka kini hanya bisa berharap pada tangkapan ikan kelong (hiu kecil), ikan patil, pari, serta ikan jaring ukuran kecil seperti teri dan kembung.
Tantangan alam ini semakin diperberat oleh himpitan ekonomi akibat tingginya biaya operasional. Pendapatan harian yang tidak menentu membuat para nelayan kesulitan.
“Nelayan berangkat pakai bensin, sekarang bensin mahal. Padahal pendapatan harian tidak menentu,” keluh salah satu rekan Sipur.
Jika cuaca sedang baik, nelayan bisa mengantongi pendapatan hingga Rp1 juta. Namun, di musim penghujan seperti saat ini, angka tersebut merosot tajam hingga tak jarang menyisakan utang hanya untuk menutupi modal pembelian solar.
Meski sepi dari kunjungan wisatawan, Pantai Wawaran menyimpan karakteristik unik yang menjadi urat nadi ketahanan pangan warganya. Kawasan ini terbagi menjadi beberapa zona aktivitas.
Di bagian Wawaran Tuwek yang berdekatan dengan persawahan, warga mencari bulu babi (sruo) dan kerang untuk konsumsi harian keluarga.
Sementara di area atas yang berbatasan dengan Pantai Jonglangkap, warga memanfaatkan lahan asri untuk mencari rumput pakan ternak.
Bagi Sipur dan ratusan nelayan lainnya, menjadi nelayan bukan sekadar profesi, melainkan warisan leluhur sekaligus garis takdir yang harus dijalani.
Mereka hanya bisa menaruh harapan agar cuaca kembali bersahabat, sehingga laut Wawaran Pacitan bisa kembali menafkahi keluarga mereka di rumah.












