Tanggapi Pesatnya AI, Guru Milenial Pacitan Sebut Ikatan Hati dan Emosional Siswa Tak Bisa Digantikan Mesin

oleh -160 Dilihat
Seorang guru laki-laki, Khrisna Adi Pradana, mengenakan seragam dinas, sedang menunjuk ke layar Interactive Flat Panel (IFP) besar yang menampilkan gambar planet-planet tata surya. Ia sedang mengajar dua siswi berhijab dan siswa lainnya di ruang kelas SDN Arjowinangun, Pacitan.
BELAJAR INTERAKTIF. Guru Khrisna Adi Pradana tampak antusias menjelaskan materi tata surya menggunakan media pembelajaran modern Interactive Flat Panel (IFP) kepada siswa-siswinya di SDN Arjowinangun, Pacitan, baru-baru ini. (Foto: Dok. istimewa/@guru_esdeh)

Pacitanku.com, PACITAN – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan tidak lantas menggeser peran vital tenaga pendidik, melainkan harus ditempatkan sebagai mitra strategis karena ikatan emosional dan sentuhan kemanusiaan antara guru dan siswa tidak akan pernah bisa disimulasikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Pandangan ini disampaikan oleh Khrisna Adi Pradana, seorang pendidik muda asal Kabupaten Pacitan, merespons diskursus publik mengenai kekhawatiran robot atau aplikasi pintar yang digadang-gadang mampu menggantikan profesi guru di masa depan.

Dalam siniar Kertas Kosong episode ke 54 yang dikutip dari laman Youtube Pacitanku TV pada Kamis (12/2/2026), Krishna menilai bahwa kehadiran teknologi dalam lanskap pendidikan modern semestinya tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi justru sebagai alat bantu yang memperkaya metode pengajaran di ruang kelas.

Menurutnya, meskipun mesin dapat memproses data dan informasi jauh lebih cepat daripada manusia, pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia yang membutuhkan empati, kasih sayang, dan keteladanan nyata. Aspek rasa dan hati inilah yang menjadi benteng terakhir profesi guru yang mustahil ditembus oleh algoritma komputer.

Krishna Adi Pradana, seorang guru dan kreator konten edukasi asal Pacitan, mengenakan seragam dinas khaki (ASN) dan duduk di depan mikrofon saat menjadi narasumber dalam siniar (podcast) Kertas Kosong.
Sosok inspiratif dari Pacitan, Khrisna Adi Pradana. Selain mengabdi sebagai guru, ia juga aktif sebagai kreator konten edukasi. Foto ini mengabadikan momen saat Pak Krishna menjadi pembicara di Siniar Kertas Kosong Episode 54, membahas tantangan dan peluang pendidikan di era digital. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

“AI itu dijadikan mitra saja. Jadi, sampai kapan pun ikatan atau bonding yang ada di kelas itu tidak bisa digantikan oleh teknologi. Karena kita punya hati, kita punya rasa yang tidak bisa digantikan,”kata Khrisna.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini telah bergeser dari sekadar transfer ilmu pengetahuan menjadi pembentukan karakter moral siswa.

Krishna berharap model pendidikan di Indonesia tetap memegang teguh nilai-nilai luhur dan etika di tengah gempuran arus globalisasi digital yang semakin masif.

Guru SDN Negeri Arjowinangun, Pacitan ini juga mengkhawatirkan jika kemajuan teknologi diterima mentah-mentah tanpa filter pendidikan karakter yang kuat, hal tersebut justru akan menjadi bumerang bagi mentalitas generasi muda.

“Perkembangan teknologi sangat pesat, kalau tidak dibarengi dengan karakter, anak-anak yang ditakutkan akan rusak,”tambah dia.

Menutup pandangannya, Khrisna mengajak para orang tua untuk tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah atau gawai.

Sinergi antara guru di sekolah dan pengawasan orang tua di rumah terhadap penggunaan teknologi sangat diperlukan demi menjaga masa depan generasi penerus bangsa dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Video Menolak Kuno! Cara Guru di Pacitan Bikin Mengajar Jadi Asik di Era Digital | Kertas Kosong Eps. 54

No More Posts Available.

No more pages to load.