Padukan Konsep Modern dan Tradisi, Pernikahan di Ngadirojo Pacitan Hadirkan Alunan Gamelan Langsung

oleh -16 Dilihat
KHIDMAT. Suasana resepsi pernikahan di Dusun Krajan, Desa Pagerejo yang dihadiri ratusan tamu undangan dengan balutan busana tradisional. Acara ini berlangsung lancar berkat gotong royong warga dan pemuda Karang Taruna setempat. (Foto: Arga Gusti Nugroho)

Pacitanku.com, NGADIROJO — Sebuah pesta pernikahan di Desa Pagerejo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, berhasil mencuri perhatian tamu undangan dengan menghadirkan nuansa budaya yang kental melalui iringan gamelan tradisional Jawa secara langsung di tengah balutan konsep resepsi modern pada Rabu (7/1/2026).

Langkah ini menjadi upaya nyata keluarga mempelai untuk melestarikan seni tradisi sekaligus menghadirkan suasana sakral yang mulai jarang ditemui dalam perayaan pernikahan masa kini yang kerap didominasi hiburan digital.

Suasana di kediaman mempelai pria terasa berbeda ketika alunan gendang, gong, dan kenong dari kelompok Karawitan Jawa Laras Slendro “Sekar Budaya” menyambut sekitar 250 tamu undangan yang hadir.

Para penabuh gamelan atau niyaga tampil gagah mengenakan busana tradisional, memainkan musik secara live untuk mengiringi seluruh rangkaian prosesi adat hingga resepsi.

Kehadiran musik tradisi ini berpadu harmonis dengan dekorasi tenda modern dan deretan kursi bersarung putih yang tertata rapi, menciptakan atmosfer yang hangat, sakral, namun tetap elegan.

Galih, selaku mempelai pria, mengungkapkan bahwa konsep ini dipilih bukan tanpa alasan melainkan sebagai bentuk dedikasi terhadap warisan leluhur. Menurutnya, momen sakral pernikahan harus menjadi panggung bagi budaya sendiri agar tetap lestari.

“Kami ingin pernikahan ini tidak hanya menjadi momen bahagia, tapi juga ruang hidup bagi budaya Jawa,”kata Galih saat ditemui di sela-sela acara.

Semangat pelestarian budaya ini juga ditegaskan oleh orang tua mempelai pria, Suwarto. Ia menjelaskan bahwa keputusan menghadirkan kelompok seni karawitan lokal bertujuan untuk mengingatkan generasi muda akan akar identitas mereka.

Di tengah gempuran tren pernikahan modern, kehadiran gamelan diharapkan menjadi simbol bahwa tradisi tidak lantas membuat sebuah acara menjadi kuno, melainkan justru memberikan nilai tambah yang autentik.

“Kami sengaja menghadirkan gamelan agar generasi muda tidak lupa dengan akar budayanya. Ini bukan sekadar hiburan, tapi identitas,” tegas Suwarto.

Kekhidmatan acara juga terlihat dari antusiasme para tamu undangan yang mayoritas hadir mengenakan busana formal dan tradisional seperti kebaya serta batik.

Selain aspek budaya, acara ini juga menonjolkan sisi gotong royong warga desa. Kesuksesan perhelatan ini tidak lepas dari peran aktif pemuda Karang Taruna Dusun Krajan yang bahu-membahu membantu kelancaran acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.

Ketua Karang Taruna Dusun Krajan, Arif, mengapresiasi keterlibatan rekan-rekannya yang masih muda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut.

Sinergi antara pelestarian budaya dan semangat gotong royong pemuda ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk terus menghidupkan warisan lokal di tengah perkembangan zaman.

“Pada acara ini masih terdapat pemuda Karang Taruna Dusun Krajan khususnya banyak yang masih muda untuk membantu dalam proses acara pernikahan tersebut,”kata Arif.

No More Posts Available.

No more pages to load.