Pacitanku.com, PACITAN — Paguyuban Song Meri yang berbasis di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan, terus berinovasi mengembangkan potensi daerahnya melalui konsep wisata edukasi berbasis kearifan lokal.
Sejak resmi dibuka pada Juli 2025, destinasi ini menawarkan pengalaman liburan berbeda dengan menggabungkan pesona alam pedesaan dan aktivitas budaya yang melibatkan langsung keseharian masyarakat setempat.
Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk melestarikan warisan leluhur sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga melalui sektor pariwisata.
Pengurus Paguyuban Song Meri, Aminudin, menjelaskan bahwa pengembangan wisata ini didasari oleh semangat untuk menjaga kelestarian budaya lokal agar tidak tergerus zaman.
Melalui berbagai paket wisata yang ditawarkan, pihaknya ingin menjadikan Desa Sukoharjo sebagai laboratorium hidup bagi generasi muda untuk mengenal identitas budayanya.
Ragam aktivitas yang disuguhkan mencakup jelajah desa, pembuatan gerabah, wisata pertanian padi sehat, kesenian unik gamelan beling, hingga tradisi mbedayoh atau bertamu yang sarat nilai kesopanan.
“Wisata yang ada di Song Meri berbasis alam dan edukasi, seperti jelajah desa, wisata gerabah, wisata padi sehat, gamelan beling, dan mbedayoh. Tujuan utamanya untuk nguri-uri (melestarikan) budaya serta mengenalkan tradisi lokal kepada generasi muda agar tidak punah,”kata Aminudin, Rabu (31/12/2025).
Uniknya, mekanisme pelaksanaan wisata di Song Meri bersifat sangat fleksibel dan menyesuaikan dengan siklus alam serta aktivitas warga.
Aminudin mencontohkan pada paket wisata padi sehat, pengunjung tidak hanya sekadar melihat, melainkan turut terjun langsung ke sawah mengikuti fase pertanian yang sedang berlangsung.
Jika datang saat musim tanam, wisatawan akan diajak menanam padi, begitu pula saat masa perawatan atau pemupukan, hingga merasakan euforia memanen padi bersama petani lokal.
Selain sektor pertanian, wisata edukasi seni dan kriya seperti pembuatan gerabah tradisional, batik tulis, latihan gamelan beling, dan tari tradisional juga dilakukan dengan metode interaktif.

Seluruh kegiatan yang dipandu langsung oleh pengurus sanggar Song Meri ini disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan jumlah wisatawan yang datang, sehingga pengalaman yang didapat terasa lebih personal dan mendalam.
Aminudin berharap inisiatif ini dapat terus berkelanjutan dan dikenal luas sebagai sarana edukasi yang efektif.
“Kami berharap wisata ini bisa menjadi sarana edukasi budaya sekaligus menjaga tradisi lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat,”pungkasnya.












