Potret Ketegaran Mbah Mesiem, Lansia Sebatang Kara di Arjosari Pacitan yang Bertahan Hidup dari Kayu Bakar

oleh -365 Dilihat
POTRET KETABAHAN. Mbah Mesiem (80), lansia yang tinggal sebatang kara di Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari, Pacitan, tetap tegar menjalani hari-harinya yang sepi dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. (Foto: Resi Wulandari/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, ARJOSARI — Di balik riuhnya kehidupan modern, terselip kisah haru dari pelosok Kabupaten Pacitan tentang ketegaran seorang lanjut usia yang menghabiskan masa senjanya dalam kesunyian.

Adalah Mbah Mesiem, nenek berusia sekitar 80 tahun yang tinggal sebatang kara di sebuah rumah sederhana di RT 2 RW 11 Dusun Tleken, Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, yang sehari-hari bertahan hidup dengan mengumpulkan kayu bakar meski fisiknya kian renta termakan usia.

Warga yang akrab disapa Mbah Telek ini menjalani hari-harinya seorang diri tanpa suami maupun anak di sisinya.

Kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia, sementara sanak saudara mayoritas berada di perantauan sehingga membuat suasana rumahnya kerap sepi.

Tetangga dekat rumahnya, Edi, menuturkan bahwa Mbah Mesiem nyaris tidak memiliki kerabat dekat yang mendampingi setiap saat, kecuali satu saudara yang sesekali datang menjenguk sekitar sepekan sekali, sedangkan saudara lainnya diketahui menetap jauh di Kalimantan dan ada pula yang di Solo.

Edi mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi tetangganya tersebut yang harus mengurus segala keperluannya sendiri di usia yang sudah sangat senja.

Menurutnya, keberadaan saudara yang jauh membuat Mbah Mesiem harus mandiri dalam segala hal.

Edi membenarkan bahwa Mbah Mesiem hidup sendirian karena orang tuanya sudah tiada dan saudara dekatnya jarang berkunjung ke lokasi tersebut, mengingat sebagian besar saudaranya tersebar di luar kota hingga luar pulau.

SISA TENAGA. Di usia senjanya, Mbah Mesiem masih berupaya mencari kayu bakar di sekitar tempat tinggalnya di Dusun Tleken, Pacitan, untuk bertahan hidup meski fisiknya tak lagi sekuat dahulu. (Foto: Resi Wulandari/Pacitanku)

Meski tubuhnya tak lagi tegak, semangat Mbah Mesiem untuk menyambung hidup tak pernah surut. Rutinitas mencari kayu bakar di lingkungan sekitar masih terus dilakukannya dengan sisa tenaga yang ada.

Jika dahulu kayu-kayu yang dikumpulkan sanggup ia panggul untuk dijual ke Pasar Arjosari demi mendapatkan uang belanja, kini aktivitas tersebut dilakukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga karena tenaganya yang telah jauh berkurang.

“Dulu kayu hasil pencarian Mbah Mesiem memang dijual ke pasar, namun sekarang aktivitas itu dilakukan sebisanya saja karena fisik beliau sudah tidak sekuat masa mudanya,”katanya, Jumat (26/12/2025).

Kondisi tempat bernaung Mbah Mesiem pun jauh dari kata mewah, hanya berupa bangunan dengan dinding seadanya dan perabotan yang sangat minim serta jauh dari kata layak huni.

Namun, di tengah himpitan ekonomi dan kesendirian, sosok Mbah Mesiem justru menjadi tamparan bagi kita semua tentang makna syukur dan ketabahan.

Tanpa banyak mengeluh, ia menjalani takdir hidupnya dengan penuh keikhlasan dan mengajarkan bahwa kebahagiaan serta ketenangan hati tidak melulu bersumber dari kemewahan materi, melainkan dari rasa cukup dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

No More Posts Available.

No more pages to load.