Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Ketekunan dan kerja keras dalam merintis usaha dari nol kembali membuahkan hasil manis yang inspiratif.
Hal ini dibuktikan oleh Sumarni (44), warga Dusun Gunung Cilik, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, yang sukses bertransformasi dari pedagang kecil menjadi pemilik pabrik tahu dengan penghasilan fantastis.
Usaha yang dirintisnya bersama sang suami, Boirin (48), sejak tahun 2017 tersebut kini mampu meraup laba bersih hingga Rp80 juta per bulan dan menjadi tumpuan ekonomi bagi warga sekitar.
Perjalanan bisnis yang diberi nama Tahu Pancuran ini bermula dari keinginan sederhana pasangan suami istri tersebut untuk memiliki usaha mandiri.
Awalnya, mereka hanya memproduksi tahu dalam skala rumahan untuk dijual sendiri di pasar.
Namun, berkat konsistensi menjaga kualitas, usaha tersebut berkembang pesat hingga kini memiliki dua lokasi produksi yang terletak di Desa Purwoasri dan Desa Kembang. Dalam sehari, pabrik milik Sumarni mampu menjual lebih dari 200 papan tahu dengan omzet harian mencapai Rp5 juta.
Sumarni mengungkapkan bahwa skala bisnisnya kini telah mencapai angka yang signifikan untuk ukuran industri menengah di daerah.
Berdasarkan hitungan rata-rata bulanan, usaha tahunya mampu mencatatkan omzet kotor mencapai Rp174 juta.
Setelah dikurangi biaya produksi yang meliputi pembelian bahan baku kedelai, kayu bakar, dan gaji karyawan sebesar Rp90 juta, ia mampu mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp80 juta setiap bulannya.
Keberhasilan ini tidak diraih tanpa kendala, terutama saat harga kedelai sebagai bahan baku utama melonjak tinggi di pasaran.
Menyiasati kondisi tersebut, Sumarni memilih strategi untuk sedikit mengurangi ukuran tahu tanpa menaikkan harga jual agar pelanggan setianya tidak berpindah ke produsen lain. Semangatnya untuk tetap berproduksi meski biaya operasional membengkak menjadi kunci bertahannya usaha Tahu Pancuran hingga saat ini.
Selain fokus pada produksi tahu putih dan kuning, Sumarni juga jeli melihat peluang dari limbah produksi.
Ampas sisa olahan tahu yang dihasilkan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi tempe gembus yang memiliki nilai ekonomis. Proses diversifikasi produk ini dilakukan terpusat di pabrik kedua, yang juga menjadi tempat penjualan tahu kuning.

Dampak positif dari berkembangnya usaha ini sangat dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Saat ini, Sumarni mempekerjakan 15 orang warga lokal untuk membantu proses produksi yang dilakukan dengan teliti, mulai dari pemilihan kedelai hingga pemotongan ukuran yang presisi.
Salah satu pekerja, Hari (34), mengaku sangat terbantu dengan keberadaan pabrik tahu tersebut karena memberikan pendapatan yang layak untuk menghidupi keluarganya.
“Saya merasa bersyukur bisa bekerja di pabrik ini karena bisa menopang perekonomian keluarga saya dan juga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarga,”kata Hari di sela-sela aktivitasnya bekerja.
Ekosistem ekonomi yang terbangun tidak hanya berhenti pada karyawan pabrik, tetapi juga merambah ke sektor lain seperti pengusaha penggergajian kayu sekitar yang menjadi pemasok bahan bakar untuk proses perebusan kedelai.
Distribusi Tahu Pancuran kini telah meluas ke berbagai pasar di Kabupaten Pacitan, mulai dari pasar di Kecamatan Kebonagung, pasar Desa Watukarung di Pringkuku, Desa Sambong, hingga Pasar Arjowinangun.
Kesuksesan finansial ini pun telah membawa perubahan besar bagi kehidupan pribadi Sumarni, yang kini mampu memiliki armada distribusi sendiri serta membiayai pendidikan anak-anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Caption Foto Berita
Opsi 1 (Fokus pada Proses Produksi/Sosok):
Opsi 2 (Fokus pada Dampak Ekonomi/Distribusi):









