Pacitanku.com, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya meminta pihak-pihak yang memiliki pengaruh publik atau pemengaruh agar lebih bijak dalam mengeluarkan pernyataan terkait penanganan bencana di Sumatera.
Ia menegaskan bahwa pemerintah telah bergerak cepat sejak detik pertama bencana melanda pada akhir November lalu, sekaligus menepis anggapan lambannya respons negara dalam menanggulangi krisis tersebut.
Teddy menekankan pentingnya narasi yang menyejukkan di tengah situasi sulit, bukan justru memperkeruh suasana dengan informasi yang menyudutkan.
Dalam konferensi pers tanggap bencana Sumatera di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025), ia meminta agar tidak ada penggiringan opini seolah-olah pemerintah berdiam diri melihat penderitaan rakyat.
Ia berharap para tokoh yang memiliki kemampuan berbicara kepada publik dapat menggunakan pengaruhnya secara konstruktif untuk mendukung pemulihan.
“Sejak hari pertama, detik pertama, sampai seterusnya, pemerintah berupaya mempercepat bagaimana caranya ini segera pulih. Jadi, kalau ada di antara saudara-saudara punya pengaruh dan punya kemampuan untuk berbicara panjang lebar, gunakanlah dengan bijak. Sampaikan pernyataan dan pertanyaan yang bijak. Jangan menggiring-giring seolah pemerintah tidak kerja,”kata Teddy.
Lebih lanjut, Teddy memaparkan bukti kinerja pemerintah yang diklaimnya sudah berjalan sejak awal meski luput dari sorotan media. Ia menjelaskan bahwa Kepala BNPB Suharyanto langsung bertolak ke Sumatera Utara begitu hujan ekstrem melanda, meskipun saat itu tengah menangani erupsi Gunung Semeru.
Ribuan personel TNI dan Polri juga langsung diterjunkan ke lapangan. Menurutnya, ketiadaan liputan media di masa awal tanggap darurat bukan berarti tidak ada pergerakan masif dari aparat negara, melainkan fokus utama saat itu adalah keselamatan warga.
Presiden Prabowo Subianto pun secara langsung menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno untuk memobilisasi seluruh kekuatan nasional.
Teddy merinci bahwa seluruh helikopter di Pulau Jawa dan Sumatera dikerahkan sejak 27 November 2025 untuk menembus isolasi daerah terdampak di Padang, Medan, dan Banda Aceh.
Hingga kini, total 80 helikopter telah beroperasi mengirimkan logistik, bersamaan dengan 20 ribu pasukan gabungan yang berjibaku mengevakuasi warga.
Komitmen pemerintah juga ditunjukkan melalui kehadiran langsung Presiden Prabowo yang tercatat sudah enam kali meninjau lokasi bencana di tiga provinsi.
Presiden bahkan membawa 15 menteri untuk rapat langsung di Banda Aceh dan menembus wilayah terparah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, hingga Aceh Tengah begitu akses darat terbuka.
Teddy menyebut, berkat kerja keras pemerintah bersama warga, akses jalan dan jaringan listrik di 52 kabupaten yang sempat lumpuh total kini perlahan mulai pulih.
Pernyataan tegas dari Istana ini muncul merespons fenomena pengibaran bendera putih di berbagai wilayah Aceh sebagai tanda menyerah warga menghadapi dampak bencana.
Kondisi tersebut memicu desakan dari berbagai elemen masyarakat agar pemerintah pusat menetapkan status darurat nasional dan membuka akses bantuan internasional.
Sementara itu, dampak bencana hidrometeorologi ini tercatat semakin meluas. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan pemutakhiran data per Sabtu (20/12/2025).
Jumlah total korban meninggal dunia bertambah menjadi 1.090 jiwa, dengan rincian 472 korban di Aceh, 370 di Sumatera Utara, dan 248 di Sumatera Barat. Selain itu, sebanyak 186 orang masih dinyatakan hilang dan lebih dari setengah juta jiwa terpaksa mengungsi akibat kerusakan tempat tinggal yang masif.











