Pacitanku.com, TEGALOMBO – Aroma kenangan masa lampau menyeruak di Lapangan Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan.
Suasana riuh rendah, tawa, dan alunan musik tradisional berpadu apik dengan pemandangan stan-stan bergaya 1960-an.
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Panitia Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Gemaharjo 2025 menggelar acara bertajuk “Gemaharjo Tempoe Doeloe” yang sukses membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan identitas lokal.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 Agustus, ini bertujuan mengajak masyarakat kembali sejenak ke masa lalu, merasakan kembali kuliner tradisional, kerajinan rakyat, dan hiburan khas desa yang kini mulai jarang ditemui.
“Kami ingin menggugah teman-teman di dusun tentang bagaimana kondisi Gemaharjo era dulu, ketika setiap dusun punya ciri khasnya masing-masing,” ungkap Yulis Widi Kuncoro, Wakil Ketua PHBN Gemaharjo, Senin (18/8/2025).

Ia mengaku takjub dengan antusiasme masyarakat.
“Mulai dari seni rancang bangun, artistik, konstruksi, hingga kulinernya, semuanya benar-benar tampil total,” tambahnya.
Bazar “tempoe doeloe” ini melibatkan tujuh dusun di Gemaharjo, yaitu Kaligondang, Clumpring, Gayam, Dondong, Gemah, Bulusari, dan Dagen.
Setiap stan menampilkan konsep bangunan khas era 1960-an yang digali dari cerita dan informasi para sesepuh. Dusun Kaligondang, misalnya, mendirikan warung tempo dulu, sementara Dusun Bulusari mengusung model rumah pejabat pasca-kemerdekaan.
Tak hanya dekorasi, kuliner yang disajikan pun otentik dan bebas bahan pengawet. Berbagai makanan jadul seperti lemper, lepet, cucur, serabi, gatot, dan botok dijajakan. Bahkan, penyajiannya pun dibuat mirip zaman dulu, menggunakan kendi dan teko era 1960–1970-an.
“Tujuan kami adalah agar, apapun perkembangan perjuangan bangsa ke arah modernisasi, kita tidak melupakan tradisi dan budaya yang diwariskan leluhur,” jelas Yulis.
Meski bukan lomba utama, panitia tetap memberikan penilaian untuk memacu kreativitas. Ada tujuh kategori penilaian, termasuk kualitas konstruksi terbaik, nilai artistik terbaik, varian kuliner terbanyak, dan tata letak terbaik.

“Inilah kultur masyarakat di sini yang tidak mau tampil biasa-biasa saja. Jika tampil, mereka akan totalitas,” ujar Yulis.
Selain bazar, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan “Festival Langen Tayub” dan pertunjukan teatrikal kolaborasi dengan SMA Negeri 1 Tegalombo. Yulis berharap kehadiran para pengunjung dari desa lain akan meramaikan acara dan menggerakkan roda ekonomi di wilayah Gemaharjo.
“Kami berharap kehadiran para wali murid dari desa lain dapat meramaikan acara, berbelanja, dan menikmati jajanan, sehingga dapat menggerakkan roda ekonomi di wilayah Gemaharjo,” harapnya.
Melihat tingginya animo masyarakat, panitia berencana menjadikan kegiatan ini agenda berkelanjutan. Banyak warga yang berharap stan-stan unik ini tidak dibongkar.
“Banyak yang meminta bangunan ini tidak dibongkar. Harapannya, setiap malam Minggu bisa ada event dan setiap hari Minggu bisa ada car free day, senam pagi, dan kuliner lokal tetap ditampilkan,” ungkap Yulis.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat memantik semangat kreativitas dan keberanian warga, terutama generasi muda, untuk menunjukkan bakat dan eksistensi mereka.
Panitia juga akan menginventarisasi semua karya yang muncul untuk memperkaya khazanah seni desa.
“Dapat kita inventarisir untuk menambah khasanah dunia seni di Gemaharjo maupun bagian dari perkembangan pembangunan untuk kemajuan desa Gemaharjo,” pungkas Yulis.









