Gumbrebeg Dolanan, Gumebyar Tarian: STKIP PGRI Pacitan Ajak Ratusan Siswa Lestarikan Budaya di Era Digital

oleh -139 Dilihat
Ratusan siswa SD/MI se-Kabupaten Pacitan antusias mengikuti Festival Dolanan Anak dan Unjuk Karya Tari (UKARI) yang digelar oleh Program Studi PGSD STKIP PGRI Pacitan pada 19-20 Juli 2025. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Suasana meriah dan penuh keceriaan mewarnai Kampus STKIP PGRI Pacitan selama dua hari, pada 19 dan 20 Juli 2025.

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sukses menggelar “Festival Dolanan Anak dan Unjuk Karya Tari (UKARI)”, sebuah perhelatan akbar yang bertujuan melestarikan warisan budaya lokal di tengah tantangan zaman.

Mengusung tema “Gumbrebeg Dolanan, Gumebyar Tarian, Gumelaring Kabudayan”, acara ini menjadi wujud nyata implementasi pembelajaran berbasis proyek sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Sebanyak 346 siswa dari 34 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Pacitan turut serta, menampilkan kreativitas mereka dalam permainan tradisional dan seni tari daerah.

Festival ini terbagi menjadi dua kegiatan utama. Sesi “Dolanan Anak” diisi dengan pementasan teatrikal yang mengangkat kembali berbagai permainan tradisional, serta “Pojok Dolanan” yang memungkinkan siswa untuk mencoba langsung permainan-permainan tersebut.

Sementara itu, sesi “Unjuk Karya Tari” menjadi panggung bagi para siswa untuk menampilkan ragam tarian daerah yang telah mereka pelajari bersama para mahasiswa PGSD.

Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para guru SD/MI mitra yang telah mempercayakan siswa-siswinya untuk dibimbing oleh mahasiswa. Menurutnya, kegiatan ini memiliki urgensi tinggi di era modern.

“Kita sepakat bahwa ada nilai-nilai luhur yang perlu dilestarikan dalam kehidupan saat ini. Melalui dolanan anak, kita berupaya menanamkan kembali nilai kebersamaan, karakter baik, semangat berbagi, dan empati,” ujar Bakti Sutopo.

Ia menambahkan bahwa permainan tradisional dapat menjadi penawar yang efektif terhadap dampak negatif teknologi informasi.

Namun, ia juga berpesan agar pengenalan dolanan anak dilakukan secara bijaksana, dengan menghindari unsur yang mengandung bias gender, sarkasme, maupun kekerasan fisik.

“STKIP berkomitmen untuk terus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan budaya. Kami berharap kegiatan ini dapat adaptif, melestarikan tata nilai luhur nenek moyang kita, dan berkelanjutan di masa depan,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua III STKIP PGRI Pacitan, Sri Pamungkas, menjelaskan bahwa festival ini merupakan hasil kolaborasi dari tiga mata kuliah, yaitu Dolanan Anak, Tari, dan Paduan Suara, serta menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis STKIP PGRI Pacitan tahun 2025.

“Karakter anak-anak kita harus disiapkan sejak dini. Arus teknologi memang membawa dampak positif, tetapi kita juga perlu waspada terhadap sisi negatifnya. Perguruan tinggi harus hadir agar anak-anak bisa sejenak meletakkan gawai mereka untuk belajar berkolaborasi, berempati, dan membangun citra diri yang baik,” tutur Sri Pamungkas.

Lebih lanjut, ia menyoroti kekayaan nilai yang terkandung dalam setiap permainan tradisional.

“Dari permainan Cublak-Cublak Suweng, Padang Bulan, hingga Jamuran, anak-anak diajarkan tentang kebersamaan, toleransi, dan bahaya perundungan. Bahkan permainan Dakon mengajarkan kecerdikan serta literasi numerik,” jelasnya.

Dengan suksesnya acara ini, besar harapan ke depan agar kegiatan serupa dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan menjadi sebuah gerakan bersama dalam melestarikan budaya lokal.

Melalui bekal ini, diharapkan STKIP PGRI Pacitan dapat melahirkan para pendidik luar biasa yang tidak hanya cerdas secara keilmuan, tetapi juga matang secara etika dan budaya, sehingga menjadi guru idola yang selalu dirindukan oleh siswa dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

No More Posts Available.

No more pages to load.