Hari Tanpa Hujan Sepanjang 21-30 Hari, BMKG Prediksi Akhir Juni-Awal Juli Masuk Kemarau

oleh -665 Dilihat
Salah satu titik di Pacitan, tepatnya di Kecamatan Tegalombo saat musim kemarau. (Foto: Dok. Pacitanku)

Pacitanku.com, JAKARTABadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, sejumlah wilayah di Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau 2024.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, sejumlah wilayah diprediksi berpotensi alami kekeringan, karena hari tanpa hujan sepanjang 21-30 hari.

Perempuan yang akrab disapa Dwikorita menyampaikan bahwa mayoritas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) sepanjang 21-30 hari atau lebih panjang.

Selain itu, berdasarkan analisis curah hujan dan sifat hujan yang dilakukan BMKG, menunjukkan bahwa kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan khatulistiwa.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan, sebagian wilayah Indonesia sebanyak 19 persen dari zona musim (ZOM) sudah masuk musim kemarau.

Pihaknya menyebutkan, musim kemarau di Indonesia paling cepat diperkirakan terjadi pada akhir Juni atau awal Juli 2024.

“Sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diprediksi akan segera menyusul memasuki musim kemarau dalam 3 dasarian (30 hari) ke depan,”tandas Dwikorita, dalam pres release melalui zoom, baru-baru ini.

Menurut Dwikorita, kondisi kekeringan saat musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir September 2024.

Dwikorita menambahkan, daerah yang berpotensi mengalami kekeringan tahun ini adalah dengan potensi curah hujan bulanan sangat rendah dengan kategori kurang dari 50 mm per bulan. Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi dan antisipasi dampak kekeringan yang mungkin terjadi saat musim kemarau.

Beberapa daerah tersebut meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Sementara itu, berdasarkan hasil monitoring hotspot yang dilakukan dengan satelit menunjukkan, munculnya beberapa hotspot awal pada daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di sepanjang musim kemarau.

“Memperhatikan dinamika atmosfer jangka pendek terkini, masih terdapat jendela waktu yang sangat singkat yang bisa dimanfaatkan secara optimal sebelum memasuki peride pertengahan musim kemarau,” ujarnya.

Atas kondisi itu, Dwikorita menyebut sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada musim kemarau sehingga membutuhkan kesiagaan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dwikorita mengharapkan kepada pemerintah daerah, BMKG merekomendasikan agar daerah yang masih mengalami hujan atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau, untuk dapat segera mengoptimalkan secara lebih masif upaya untuk memanen air hujan.

Pemanenan dapat dilakukan melalui tandon-tandon atau tampungan-tampungan air, embung-embung, kolam-kolam retensi, sumur-sumur resapan, dan lain sebagainya seiring dengan upaya mitigasi dampak kejadian ekstrem hidrometeorologi basah yang sedang dilakukan.

“Terkait pertanian, maka pola dan waktu tanam untuk iklim kering pada wilayah terdampak dapat menyesuaikan. Karenanya, BMKG akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Menteri Pertanian dan Gubernur Provinsi terdampak,”papar dia.

Dwikorita mengungkapkan bahwa BMKG berharap informasi peringatan dini kesiap-siagaan musim kemarau tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif oleh pemerintah pusat dan daerah.

Video Penjelasan Lengkap BMKG Tentang Prediksi Musim Kemarau 2024

No More Posts Available.

No more pages to load.