Hadirkan Akademisi dan Politisi, GMNI Pacitan Gelar Dialog Interaktif Bola Liar Wacana Penundaan Pemilu 2024

oleh -Dibaca 902 kali
DIALOG INTERAKTIF. GMNI Pacitan menggelar dialog interaktif bola liar wacana penundaan Pemilu 2024. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesi (GMNI) Kabupaten Pacitan menggelar dialog interaktif bertajuk “Bola Liar Wacana Penundaan Pemilu 2024” pada Kamis (7/4/2022) malam di Lokrap Café Pacitan.

Ketua GMNI Pacitan Muhammad Tonnis Dzikrullah dalam keterangannya kepada awak media usai acara mengatakan dialog tersebut bagian dari posisi GMNI sebagai salah satu elemen Gerakan mahasiswa di Pacitan untuk meneguhkan posisi menolah penundaan Pemilu 2024.

“Ini merupakan kita menunjukkan standing position kita sebagai aktivis, dalam hal ini GMNI ketika muncul wacana penundaaan Pemilu ini kami sangat tidak sepakat, kami menolak,”kata Tonnis.

Dengan adanya dialog tersebut, kata Tonnis, GMNI berharap mampu menjadi cara elegan elemen mahasiswa menunjukkan sikapnya menolak penundaan Pemilu.

“Dengan terselenggaranya kegiatan ini, salah satunya ikut serta aparat keamanan dalam menjaga Kambitbmas ini terutama di bulan Ramadhan ini, jangan sampai dengan munculnya isu penundaan Pemilu yang begitu liar bergulir ini membuat satu gerakan dari mahasiswa yang akhirnya meresahkan kita semua, kalau memang ada upaya yang lebih elegan, yang bisa kita lakukan ini,”jelasnya.

Dialog interaktif itu, kata Tonnis, tidak mengurangi substansi isu yang diangkat. Namun demikian secara prinsip Tonnis juga tidak menyalahkan teman-teman mahasiswa yang menunjukkan sikapnya dengan turun ke jalan.

“Bukan dalam artian kita menyalahkan Ketika kawan-kawan mau turun ke jalan di Pacitan, hanya saja ketika hal itu mau dilaksanakan di Pacitan kok kayaknya gak efektif. Itu biarkan dari kawan-kawan mahasiswa di Jakarta,”paparnya.

Selain itu, Tonnis mengatakan dialog interaktif itu juga menjadi bagian dari edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat tentang pentingnya kesadaran politik.

“Karena sesuai penyampaian narasumber tadi, stidak ada satu pun di dunia ini yang terlepas dari kepentingan politik, sehingga mahasiswa tidak boleh antipati,”ujar dia.

Di sisi lain, Tonnis mengharapkan dengan kegiatan dialog ini bisa menumbuhkan kesadaran untuk meningkatkan pertemuan dan diskusi oleh teman-teman mahasiswa.

“Budaya ‘ngopi’ dalam tanda kutip di Pacitan masih minim, maka seringlah melakukan kegiatan ini agar dialektika pemuda dan mahasiswa Pacitan terbentuk, mahasiswa jadi lebih peka isu yang sedaang menjadi pro dan kontra di lapisan masyarakat,”pungkasnya.

Dalam dialog itu menghadirkan akademisi Dosen STKIP PGRI Pacitan Bakti Sutopo, Ketua DPRD dan politisi Partai Demokrat Ronny Wahyono, perwakilan dari DPD PKS Pacitan dan Wakabid OKK DPD Partai Nasdem Pacitan Eko Hadi Susilo.