Serentak, 2.536 SMA Sederajat di Jatim Gelar PTM Terbatas

oleh -Dibaca 394 kali
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, meninjau secara langsung proses belajar mengajar PTM di SMK Negeri 7 Surabaya. Didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Wahid Wahyudi, dan Plt Kepala Dinas Kesehatan dr. Kohar Hari Santoso.Foto: Herlambang JNR

Pacitanku.com, SURABAYA – Secara serentak, sebanyak 2.536 Unit Pendidikan SMA, SMK dan SLB di Jawa Timur, memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas mulai Senin (30/8/2021).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, meninjau secara langsung proses belajar mengajar PTM di SMK Negeri 7 Surabaya. Didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Wahid Wahyudi, dan Plt Kepala Dinas Kesehatan dr. Kohar Hari Santoso.

“Bismillah hari ini kita memulai Pembelajaran Tatap Muka di 2.536 unit pendidikan SMA, SMK dan SLB. Ada 696.000 sekian siswa yang masuk hari ini secara terbatas dan bertahap,” ujarnya dikutip laman Kominfo Jatim.

Khofifah mengungkapkan, jumlah ini adalah jumlah yang mewakili 20 Kabupaten Kota yang masuk pada PPKM level 3 dan 2.

Sebagai informasi, dari 20 kabupaten/kota tersebut, untuk Kabupaten Sampang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Tuban, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Nganjuk, Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Bangkalan, serta Kabupaten Lamongan telah menyiapkan sekolahnya dari jenjang SD hingga menengah ke atas untuk bertatap muka.

Sedangkan Kabupaten Pacitan, Kabupaten Jember, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten  Gresik dan Kota Surabaya baru menyiapkan SMA dan SMK sementara sisanya baru akan dirapatkan.

Selain itu, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan baru menyanggupi PTM untuk SMA dan SMK, dan akan menerapkan sistem yang sama di jenjang lainnya per tanggal 1 September 2021.

“Jikalau nanti sore ada evaluasi, maka kita akan menyesuaikan kembali. Kira-kira seperti itu posisinya,” imbuhnya.

Dikatakan Khofifah, pelaksanaan PTM secara terbatas, bertahap ini, dilakukan sesuai dengan SOP dari Inmendagri No 35 tahun 2021. Antara lain, pelajar yang masuk sebanyak 50% dari kapasitas kelas, kemudian dua kali dalam seminggu.

“Maksimal 4 jam pelajaran, 30 menit, berarti 2 jam mereka masuk kelas. Pada posisi seperti sekarang ini, tetap izin orang tua menjadi prasyaratan,” tegasnya.

“Karena yang masuk ini kapasitas 50%, maka yang terjadi bukan PTM murni, tetapi Hybrid Learning artinya, di kelas ada, tapi yang pembelajaran di rumah juga tetap ada,”imbuh Khofifah.

Sementara itu, PTM terbatas ini disambut antusias oleh Sendi, salah satu siswa SMK 7 Surabaya. Ia mengaku senang bisa kembali bersekolah secara langsung, dan bertemu dengan guru dan teman temannya.

“Seneng, seneng sekali. Soalnya kalau di rumah itu gak enak ga bisa ketemu teman-teman,”katanya. (red/DP)

Video Mayoritas Murid di Pacitan Inginkan Masuk Sekolah, Jenuh Belajar Daring?

No More Posts Available.

No more pages to load.