Curah Hujan Tinggi, Waspada Terjadinya Multi Risiko Bencana di Pacitan

oleh -10136 views
Rumah milik Isni yang rusak diterjang longsor di Mentoro pada Rabu (13/1/2021) malam. (Foto: Sulthan Salahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi multi risiko baik dari aspek cuaca, iklim, gempa atau tsunami yang semakin meningkat terutama memasuki Januari, Februari hingga Maret 2021.

Dalam kurun waktu sepekan terakhir, setidaknya terjadi dua bencana alam tanah longsor di Pacitan. Masing-masing longsor di Dusun Krajan, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan pada Rabu (13/1/2021) lalu dan longsor batu besar di Dusun Bomo, Desa Bomo, Kecamatan Punung pada Ahad (17/1/2021) lalu.

Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannita Agustinawati, saat dihubungi Pacitanku.com melalui sambungan telepon pada Selasa (19/1/2021) membenarkan adanya potensi multi risiko bencana, selain adanya potensi bencana hidrometeorologi.

Baca juga: Rumah Dua Warga Bomo Punung Rusak Tertimpa Batu Besar

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya. Beberapa paramater di antaranya adalah peningkatan curah hujan, penurunan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca esktrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang serta kilat atau petir, dan lain sebagainya.

“Jadi yang pertama dengan curah hujan di Indonesia dan Pacitan memang ada peningkatan curah hujan cukup tinggi, dan ini untuk waktunya tidak bisa dipastikan, kalau pagi cerah, jelang sore seperti ini sampai malam nanti hujan, sehingga perlu mengantisipasi potensi bencana baik di wilayah hulu dan hilir,”kata Diannita.

Di Pacitan, kata Diannita, wilayah hulu memiliki potensi bencana hidrometeorologi. Sedangkan di wilayah hilir memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

“Wilayah hulu di Pacitan itu seperti di Bandar, Nawangan, Tegalombo, Arjosari bagian atas, Tulakan, Ngadirojo dan Sudimoro, kemudian di daerah hilir otomatis potensi bencananya banjir, selain itu di daerah hilirini ada 7 kecamatan dan 27 desa juga mempunyai potensi bencana gempa dan tsunami, sesuai arahan BMKG ada potensi multi risiko bencana sampai Maret, karena kita di pesisir selatan juga wajib waspada,”jelasnya.

Kenali lingkungan masing-masing

Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannita Agustinawati. (Dok. Pacitanku.com)

Untuk wilayah hulu, kata Diannita, untuk selalu waspada dengan mengenali lingkungan masing- masing. Sebagai contoh, ada peristiwa batu besar yang menimpa rumah warga pada Ahad (17/1/2021) lalu di Dusun Bomo, Desa Bomo, Kecamatan Punung.

“Seperti kemarin di wilayah Desa Bomo, Kecamatan Punung seperti itu, itu diluar dugaan dari masyarakat batu sebesar itu akhirnya jatuh, penyebabnya banyak kemungkinan, bisa karena gerakan tanah, juga kemudian tanah yang di sekitar bebatuan tersebut sudah mulai lunak karena beberapa hari ini terpicu adanya hujan dengan intensitas tinggi, itu kan banyak faktor yang mengakibatkan dan alhamdulillah tidak ada korban jiwa,”paparnya.

Kemudian, Diannita juga menyebut peristiwa tanah longsor juga terjadi dan menyebabkan satu rumah rusak berat pada bulan November 2020 lalu di Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung menjadi salah satu pembelajaran agar masyarakat bisa mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing.

Menurut Diannita, salah satu hal yang harus dipahami adalah tanah yang ada di Pacitan ini rata-rata tanah kars, yang mana bawahnya itu banyak yang berongga atau berlubang.

“Lha kemudian dari tanah berongga atau berlubang itu kalau seumpamanya ada hujan dengan intensitas tinggi otomatis kan  air yang masuk ke tanah itu kan semakin cepat, lha kalau tanah kita lapuk lembek otomatis bisa terjadi longsor,”ujarnya.

Tanah yang lembek, imbuh dia, diakibatkan kurangnya reboisasi yang dilakukan. Sehingga ini juga bisa menjadi perhatian bagi masyarakat.“Mengapa tanahnya lembek? Karena daerah kita yang ada di hulu itu mungkin reboisasinya semakin berkurang,”tukasnya.

Pewarta: Dwi Purnawan