BPBD Dorong Masyarakat Pacitan Hidupkan Siskamling Siaga Bencana

oleh -10157 views
Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannita Agustinawati. (Dok. Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mendorong kembali diaktifkannya siskamling siaga bencana untuk mengantisipasi kemungkinan potensi terjadinya bencana alam yang bisa terjadi di Pacitan.

Seperti diketahui, selama sepekan terakhir terjadi setidaknya terjadi dua bencana alam tanah longsor. Masing-masing di Dusun Krajan, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan pada Rabu (13/1/2021) lalu dan longsor batu besar di Dusun Bomo, Desa Bomo, Kecamatan Punung pada Ahad (17/1/2021) lalu.

Baca juga: Curah Hujan Tinggi, Waspada Terjadinya Multi Risiko Bencana di Pacitan

Kedua kejadian itu, meskipun tidak ada korban jiwa, tetapi cukup mengejutkan dengan waktu peristiwa terjadi pada malam hari. Pada peristiwa pertama di Desa Mentoro terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Sementara peristiwa jatuhnya batu besar di Desa Bomo, Punung pada pukul 01.00 dini hari WIB.

“Antisipasinya kepada masyarakat, kita aktifkan kembali Siskamling siaga bencana, kalau dulu ada Siskamling untuk pencurian, sekarang hidupkan siskamling siaga bencana,”kata Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannita Agustinawati, saat dihubungi Pacitanku.com melalui sambungan telepon pada Selasa (19/1/2021).

Dengan diaktifkannya siskamling siaga bencana, Diannita mengatakan memiliki keuntungan. Keuntungan itu, misalnya, kata dia, jika malam hari terjadi hujan deras dengan waktu cukup lama, masyarakat bisa melakukan langkah antisipasi.

“Misalnya kalau malam hari hujan deras, monggo masyarakat selalu keliling untuk menghimbau kepada masyarakat yang sekiranya rumahnya di bawah perengan atau lereng, seumpamanya hujannya sudah lebih dari dua jam dengan intensitas tinggi mereka yang rumahnya di lereng seperti itu monggo kita melakukan evakuasi diri terlebih dahulu,”jelasnya.

Disisi lain, potensi bencana alam harus dikenali oleh masyarakat yang tinggal di Kawasan rawan bencana.

“Dan itu harus bisa disadari oleh masyarakat, jadi kalau seumpanya paling tidak satu rumah harus mengenali, misalnya ‘oh rumah saya itu dibelakang lereng, ini seumpamanya hujan deras dalam waktu yang lama, kami bisa mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman’,”kata Diannita.

Menurut dia, penanggulangan bencana itu memiliki satu tujuan utama, yaitu agar bencana yang terjadi tidak sampai memakan korban jiwa.

“Tujuan dalam penanggulangan bencana itu kan satu sebenarnya, jangan sampai terjadi korban jiwa  kalau material dan sebagainaya bisa kita cari di kemudian hari, kalau ada satu korban jiwa meninggal kita tidak akan bisa mencari atau menggantinya,”papar dia.

Distribusi informasi cuaca lintas sektoral

Seiring adanya informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang curah hujan yang meningkat, Diannita mengatakan, jajaran BPBD, khususnya di sektor kesiapsiagaan telah dan terus melakukan sejumlah upaya, diantaranya adalah sinergi dengan lintas sektoral.

“Jadi curah hujan ini yang tinggi, sesuai informasi dari BMKG salah satunya akibat fenomena La Nina pada bulan Januari dan Februari 2021 mencapai puncaknya, untuk itu, BPBD, kita, Pusdatin  memberikan informasi ke semua grup percakapan, termasuk info cuaca di semua kecamatan melalui Kasi trantib dan kesos,”jelasnya.

Fungsi kerjasama sektoral itu, kata Diannita, adalah distribusi informasi cuaca hingga ke tingkat masyarakat.

“Harapannya kalau sudah mengetahui akan terjadi hujan mereka (Kesos dan Trantib di Kecamatan, red) bisa mendistribusikan dan memberikan informasi kepada desa-desa di wilayahnya, dari situ masyarakat, juga  babinsa, babinkamtibmas, Pemdes harus bisa aktif menjaga wilayahnya, apalagi dimasa pandemi seperti ini,”pungkasnya.

Pewarta: Dwi Purnawan