Jalan Panjang Gunung Sewu Menjadi Geopark Kelas Dunia

oleh -101.859 views
Pantai Klayar dinominasikan salah satu kawasan geopark Pacitan. (Foto : Dok. Pacitanku)
Pantai Klayar dinominasikan salah satu kawasan geopark Pacitan. (Foto : Dok. Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Setelah melalui jalan panjang, kawasan Gunung Sewu yang membentang di tiga kabupaten, masing-masing Pacitan, Wonogiri dan Gunungkidul, akhirnya masuk dalam Global Geopark Network (GGN).  Kabar baik tersebut diperoleh Pacitanku.com melalui posting Facebook peneliti Museum Geologi Bandung, Sinung Baskoro.

“Alhamdulillah, hari ini, 19 September 2015, Geopark GUNUNG SEWU yg berada di 3 provinsi, Jateng, DIY dan Jatim, telah resmi menjadi anggota Global Geoparks Network (GGN) UNESCO, menyusul pendahulunya, Geopark BATUR di Bali,” demikian status Sinung pada Sabtu malam lalu.

Penobatan Gunung Sewu sebagai anggota Global Geoparks Network dilakukan di  Asia-Pacific Geoparks Network San’iin Kaigan Symposium,  15-20 September yang berlangsung di Tottory City, Jepang.

Penobatan ini menggembirakan setelah perjuangan geolog serta sejumlah pemerintah daerah dalam mengelola kawasan itu. Hal itu dikarenakan panjangnya perjuangan dalam menjadi anggota GGN, karena sebelumnya pada Koferensi GGN UNESCO pada Rabu (17/9/2014) hingga Senin (22/9/2014) di Saint John, New Bruwnswich, Kanada, Gunung Sewu gagal masuk GGN.

Kemudian, berbagai cara pun dilakukan pengelola Geopark Gunung Sewu, diantaranya terus melakukan pembenahan untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) UNESCO. Pembenahan tersebut dilakukan dengan melengkapi sejumlah persyaratan agar Geopark yang berada di tiga wilayah ini memenuhi syarat yang ditetapkan GGN.

Permasalahan yang membuat kegagalan Gunung Sewu sudah diperbaiki, bisa diselesaikan, dan bisa masuk dalam jaringan geopark. Salah satu yang dilakukan untuk terus mengembangkan dan memacu Geopark Gunung Sewu masuk GGN, menandatangani nota kesepahaman dengan tiga provinsi di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

 Bupati Pacitan, Indartato bersama tiga gubernur, masing – masing Gubernur Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur serta dua bupati, masing – masing Bupati Gunungkidul dan Wonogiri menandatangani dan menyepakati pengembangan dan pelestarian Geopark Gunung Sewu, di DI Yogyakarta, Selasa (17/2/2015).

Para pemimpin daerah yang berkumpul di bangsal kepatihan kompleks Kepatihan Jogja menyepakati tentang tujuh point ruang lingkup kesepakatan bersama di antaranya kelengkapan dokumen adminitrasi dan pengembangan pariwisata dan pendidikan.

Sebelumnya pada bulan  Juni 2014 juga telah dilakukan penilaian oleh tim asesor UNESCO dan menghasilkan penilaian keanggotaan Geopark UNESCO masih ditunda karena salah satunya belum optimalnya aspek kelembagaan pengelolaan.

Gunung Sewu berada di tiga area yaitu Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan dengan luas 1.802 km2. Geopark sendiri merupakan kawasan geografis dimana situs-situs warisan geologi menjadi bagian dari konsep perlindungan, Pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Gunung Sewu dikembangkan sebagai upaya  pengelolaan pelestarian warisan alam oleh masyarakat setempat dan pemerintah daerah untuk tujuan wisata, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Di Pacitan sendiri, pemerintah setempat terus berupaya agar kawasan karst di daerah asal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut disetujui untuk menjadi bagian dari geopark dunia. Gunung Sewu membentang mulai wilayah Kabupaten Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kidul. Selain kerjasama dalam bidang pelestarian lingkungan, ketiga wilayah telah menjalin kerjasama regional yang disebut Pawonsari.

Sementara, menurut Kepala Disbudparpora Pacitan, Wasi Prayitno, masuknya kawasan Gunungsewu dalam Global Geopark Networ (GGN) yang diakui oleh Unesco tidak lepas dari peran aktif Kabupaten Pacitan di awal pengajuan. Pada 2009, terang Wasi, Pacitan telah lebih dulu mengajukan kawasan karst di wilayah tersebut ke dalam geopark nasional yang kemudian berlanjut ke geopark global.

Perjuangan pemerintah Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu diwujudkan pada 2012 dengan mengusulkan dua taman nasional sekaligus, yaitu Geopark Gunung Batur di Bali, serta Geopark Pacitan.

Namun dari dua pengajuan itu, dalam forum GGN yang berada di bawah naungan UNESCO hanya menerima Geopark Gunungbatur ke dalam jaringan taman dunia. “(Geopark) Pacitan ditolak karena cakupannya dianggap terlalu sempit, sehingga muncullah rekomendasi agar kawasan geopark yang diusulkan diperluas hingga kawasan karst di Wonogiri (Jateng) dan Gunungkidul (DIY). Dari situ muncullah nama Geopark Gunungsewu yang kemudian baru diterima dan diakui dalam forum GGN tingkat regional Asia-Pasifik di Jepang, 19 September lalu,” pungkasnya. (RAPP002)