Ramalan Lesmono Tentang Ekonomi Meroket di Bulan September

oleh -533 views

Oleh: Ki Setyo Harjodarsono**

Ternyata kartu-kartu  hebat itu yang telah dicanangkan oleh Lesmono Mondrokumoro, tidak sehebat dalam realisasinya. Rakyat Ngastina yang sering tidak bisa makan, dikasih kartu sehat dan kartu pintar juga tidak akan bisa sehat dan tidak pintar-pintar. Bahkan dokter-dokter Ngastina sudah mulai berteriak dengan melonjaknya jumlah pasien yg mengatasnamakan orang tidak mampu dengan kartu saktinya.

Padahal dokter juga manusia, profesinya berkaitan dengan nyawa orang, kalau dipaksakan kerja paksa, kerja rodi dengan honor minim, terus bagaimana? tolong dimaklumi kalau nanti bakal salah  potong, salah jahit,  atau salah  tambal? Pada pasien yang akut butuh segera pertolongan.

Bayangkan, sopir angkot aja kalau kecapean/ngantuk bisa nabrak. jaminan kesehatan tidak sesederhana itu bos, perlu juga tambahan tenaga medis dan peralatannya. Tiongkok yang sudah maju aja gak berani kasih jaminan kesehatan ke rakyatnya. kartu pintar? nasib guru? ah sudahlah… capek ngetik.. bener kata orang-orang , yang dibutuhkan rakyat sekarang itu KARTU SABAR, orang Ngastina sekarang lebih butuh keSABARan daripada keSEHATan atau kePINTARan.

Beginilah efek orang di sekitar Lesmono Mondrokumoro yang terlalu banyak diisi orang-orang yang berkepentingan politik daripada profesional. Akhirnya dimaklumi kalau mereka tolol dan ngawur karena mereka memang pada dasarnya kurang paham pekerjaan mereka. Bahkan dengan indahnya sekarang jabatan-jabatan pucuk pimpinan dan komisaris BUMN sudah diam-diam diisi orang-orang  lingkaran dekat penguasa. Selamat Pak Lesmono Mondrokumoro, nama anda akan diingat sejarah sebagai orang yang pernah mencoba membunuh negara ini .

Sementara Ngastina saat ini sedang dialami krisis ekonomi. Mata uang rupiah kian hari terus melemah. Namun, permintaan tak terduga muncul dari para wakil rakyat di parlemen untuk menaikkan tunjangan mereka. Terlebih, ucapan paling lantang justru muncul dari Wakil Ketua Dewan Pengkhianat Rakyat, Ditya Buto Pawon.

 “Pripun Man , buktine , ternyata masih banyak anggota DPR yang tak setuju dengan kenaikan tunjangan. Terlebih kondisi ekonomi bangsa sedang terpuruk…. Dupeh dadi anggota dewan srakah, rakus….”

Namun, Buto Pawon  seakan cuek saja dengan kondisi bangsa. Dia punya seribu alasan agar tunjangan anggota DPR naik. Dia  menyebut kenaikan tunjangan bagi tiap Anggota DPR masih belum mencukupi untuk menopang kinerja tiap anggota. Bahkan, kata dia, tunjangan bagi anggota seharusnya dilebihkan dari yang disetujui sekarang. “Menurut gue  sangat kurang itu, karena tidak ada kebebasan. Kalau ada kebebasan kita tentu mampu lakukan pengawasan intensif. Misalnya kebakaran, kita tidak bisa ke sana tidak ada anggaran,”katanya.

“Cobalah sekarang sampeyan bandingkan tunjangan yang diberikan negara ke Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) yang kata dia, ‘hanya’ memiliki lima pimpinan namun diberikan tunjangan melimpah. KPK yang penyidiknya cuma 5 orang Rp 1 triliun. DPR 560 orang, DPD 132 orang ini dipilih oleh rakyat. Jadi kalau dipilih rakyat punya kewenangan lebih besar ini karena kedaulatan rakyat,” katanya

“Uh dasar iblis rakus… sekarang liat tuh, rakyat menjerit kelaparan, karena terkena PHK, dan harga-harga mahal gak bisa membeli…. Mestinya otak loe mikir ke sana, jangan mikir perutmu sendiri? Sampeyan itu wakil rakyat, bukan wakil penguasa… wong wakil rakyat kok nggak peduli dengan rakyatnya, malah justru sibuk minta kenaikan gaji…dengkulmu mlocot kuwi???”

“Wis Dur, kowe aja ngrasani wakil rakyat sing podo lagi gendheng kae… sak iki awake dewe ayo kerjo wae… kerja..kerja…kerja rodi?”

“ Man… aku menilai bahwa Ngastina bakal mengalami ‘Reformasi Jilid-II’ jika pemerintah tidak bisa melakukan langkah antisipasi atas meroketnya dolar hingga ke angka Rp 14.455/USD. Pasalnya, bila pemerintah terus membiarkan rupiah melemah, dapat dipastikan hal ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat lantaran biaya hidup semakin mahal. Anything can happen, ini bisa Reformasi Jilid-II jika dolar tembus di angka Rp 15.000/USD. Karena ini sama saja meningkatkan kemiskinan,”

“Oa usah nganggo istilah inggris ta… aku ora mudeng?”

“Begini lo Mn,  kalau ucapan Lesmono Mondrokumoro tidak bisa dipegang terkait masalah ekonomi Ngastina yang menyebutkan akan membaik pada September. Sebab, sampai saat ini ekonomi Indonesia justru terus menurun. Iya kan? Ini persoalan sangat serius karena bisa jadi efek domino ke konflik ekonomi, politik, dan sosial. Katanya meroket, meroket apa. Omongan ratu kok tidak bisa dipegang?,”

“Mungkin rokete ijik kentekan bahan bakar kok le?”

“Menawi ngaten nggih saget ha ha ha ha…” pungkas Dursasana sambil nglinting mbakonya.


*KI SETYO HARJODARSONO adalah putra asli Pacitan, tepatnya di Kecamatan Tegalombo, saat ini aktif sebagai guru di Ponorogo. Beliau telah aktif menulis sejak 1987 di berbagai media lokal dan mataraman, seperti MATAN, WALIDA, MEDIA Pendidikan , Majalah Jemparing, Mimbar Depag dan BENDE. Penulis kini mengampu dan mengasuh rubrik Pringgitan Wayang Semprot di Portal Pacitanku.