Pakaian Lurik Pacitan Dibuat Berdasarkan Akar Sejarah Surakarta-Yogyakarta

oleh -Dibaca 2.200 kali
Seorang pengawal kereta kencana memakai lurik Pacitan. (Foto : Pekathik kadipaten/FB)
Seorang pengawal kereta kencana memakai lurik Pacitan. (Foto : Pekathik kadipaten/FB)
Seorang pengawal kereta kencana memakai lurik Pacitan. (Foto : Pekathik kadipaten/FB)
Seorang pengawal kereta kencana memakai lurik Pacitan. (Foto : Pekathik kadipaten/FB)

Pacitanku.com, PACITAN – Usai peringatan Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke 270 yang puncaknya digelar Kamis (19/2/2015) lalu memang menyisakan beberapa hal, yakni kemeriahan, kirab budaya, dan tak ketinggalan adalah fenomena baju lurik yang oleh Bupati Pacitan, Drs. H. Indartato, MM ditetapkan dalam peraturan bupati Pacitan nomor 188.45/134/kpps/408.21/2015 Tanggal 23 Januari 2015.

Menanggapi pro dan kontra di kalangan masyarakat, menurut Bupati Indartato hal itu tak lepas dari peritimbangan budaya pacitan yang tentunya tidak lepas dari budaya Surakarta dan DI Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Pacitan dulu pernah jadi bagian dari dua keraton besar di tanah Jawa tersebut. Dari pertimbangan ini akhirnya diputuskan bahwa pakaian khas Pacitan mengadopsi budaya Surakarta da Yogyakarta dengan mengambil lurik, tetapi dengan mode yang berbeda yaitu potong gulon bukan surjan.

“Bahwa bajunya adalah lurik, sehingga oleh tim dirumuskan sebagai baju khas pacitan, karena budayanya dari sana (Surakarta-Yogyakarta-red), sehingga salah satu mengingat sejarah itu dengan memakai baju lurik,” kata Indartato kepada awak media, usai kirab budaya puncak Hajatan ke 270, belum lama ini.

Dikarenakan Pacitan termasuk wilayah Jawa Timur, maka ada sedikit modifikasi, yakni sabuk ebok. Diketahui, kajian terkait pakaian lurik Pacitan ini sudah dilakukan selama dua tahun lamanya dan pada bulan januari 2015 baru diputuskan dengan adanya Perbup tersebut.

“Memang ada pro dan kontra, itu pasti, harapan kita masyarakat pacitan nanti, karena ini prospek mudah – mudahan masyarakat Pacitan bisa membuat tenun sendiri,” imbuh Indartato.

Namun demikian, masyarakat Pacitan tidak perlu khawatir terkait baju lurik ini, dikarenakan pakaian lurik hanya dipakai saat Hari Jadi Pacitan, sehingga tidak mengancam eksistensi batik khas Pacitan yang juga sedang dikembangkan. Diketahui pada Hajatan ke 270 ini, semua PNS di Pacitan memakai lurik sejak Senin, Rabu, Kamis dan Jumat.

Sementara, antara pakaian khas dan batik khas adalah dual hal yang berbeda dengan tujuan pemakaian yang berbeda. Batik khas Pacitan dengan motif khas Pacitan sendiri dipakai sebagai pakaian kerja setiap hari Kamis dan Jumat.

Dalam desain baju adat Pacitan ini, ada dua model desain, yakni busana resmi pria dan wanita, serta busana harian pria dan wanita. Untuk busana resmi pria terdiri dari blangkon kalijagan, beskap warna hitam (wulung), jarik (Wiron) sogan dasar krem motif sidomukti, cinde latar hitam, epek timang, keris, rantai lionton gilig (bisa dari batu chalcedony), kancing batu jasper merah jumlah lima knop leher 2, bros gunung limo pacitan, cincin akik (diutamakan chalcedony) dan sandal slop.

Kemudian, untuk busana resmi wanita, terdiri dari sanggul atau jilbab/kudung, kebaya hitam (wulung), batik sogan dasar krem motif sidomukti, slop, dengan keterangan yang berjilbab tidak berselendang jika tidak berjilbab memakai selendang.

Selain baju resmi, pakaian adat pria juga ada yang berbentuk pakaian harian, yang terdiri dari busana harian pria dengan model Iket model Pacitan, Baju lurik potong gulon/koko, Kaos hitam polos,  sabuk kulit, Celana kagok hitam serta Sandal srampat kulit atau ban.

Sementara untuk busana Harian Wanita, terdiri atas sanggul biasa atau jilbab/kudung, kebaya lurik kartinian, jarik latar hitam/wulung dan sandal srampat. Khusus untuk pakaian harian ini, bagi wanita boleh tidak bersanggul dengan ragam asesoris rambut bebas rapi dan praktis (untuk yang tidak berjilbab). (DPPP001)