Abrasi Sungai Grindulu Mulai Terjang Jalur Pacitan – Ponorogo

oleh -1.701 views
Abrasi. Pengikisan badan jalan di jalur Pacitan-Tegalombo, tepatnya di Kedungbendo mengkhawatirkan. (Foto : Shultan/Pacitanku)
Abrasi. Pengikisan badan jalan di jalur Pacitan-Tegalombo, tepatnya di Kedungbendo mengkhawatirkan. (Foto : Shultan/Pacitanku)
Abrasi. Pengikisan badan jalan di jalur Pacitan-Tegalombo, tepatnya di Kedungbendo mengkhawatirkan. (Foto : Shultan/Pacitanku)
Abrasi. Pengikisan badan jalan di jalur Pacitan-Tegalombo, tepatnya di Kedungbendo mengkhawatirkan. (Foto : Shultan/Pacitanku)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Hujan yang terus menerus mengguyur pacitan hampir setiap hari menaikkan debit air yang mengalir di sungai grindulu. Naiknya debit air tersebut menyebabkan abrasi sungai Grindulu mulai mengkhawatirkan. Pasalya, abrasi sungai sudah mulai terjadi di banyak titik, bahkan sudah mengikis badan jalan raya Pacitan-Ponorogo.

(Baca juga : Abrasi Sungai Grindulu Makin Mengkhawatirkan)

Dari pantauan Portal Pacitanku, Jumat (2/1/2015), abrasi tersebut terjadi setiap musim hujan tiba. Beberapa titik yang mengalami abrasi sungai adalah di wilayah Kedungbendo, Arjosari, dimana abrasi telah memakan sebagian badan jalan. Selain itu, abrasi juga telah merusak jembatan di dekat pabrik timah.

(Baca juga : Abrasi Sungai Grindulu Ancam Permukiman Warga Pacitan)

“Pada umumnya, penambangan pasir secara liar dan terus menerus menjadi salah satu penyebab abrasi ini, sehingga batu – batuan sungai yang berfungsi untuk memecah arus menjadi tidak ada, “ tandas Nanda Eko, salah satu warga Gedangan, Tegalombo.

Sebelum mulai terkikisnya badan jalan di Kedungbendo, abrasi sungai Grindulu juga telah menghanyutkan sebuah lapangan di wilayah Kecamatan Tegalombo, tepatnya di bawah pasar Grindulu. Selain itu, akibat abrasi sungai terpanjang di Pacitan ini, sebuah sekolah dasar di Desa Kebondalem, kecamatan Tegalombo juga tidak difungsikan lagi, serta lapangan SD tersebut juga ikut hanyut bersama aliran sungai.

“Dulu saat terjadi banjir bandang, jembatan di desa kami juga roboh akibat terbawa arus, setelah diselidiki, ternyata hal tersebut dikarenakan tidak adanya pemecah arus sungai, batu – batuan sungai disini sudah habis ditambang,” papar pria yang bekerja di Perhutani ini.

Yang paling kentara, imbuh Nanda, adalah model sungai Grindulu di wilayah gegeran dan Kedungbendo hingga Gedangan, dimana abrasi sungai tersebut sangat terlihat. “ Di Wilayah Gegeran, karena ada batu – batuan besar, secara otomatis aliran sungai akan terpecah, berbeda dengan di kawasan Kedungbendo, yang nampak saat debit air naik adalah sungai lebar yang siap mengikis jalanan,” jelasnya.

Sebelumnya pada awal tahun 2014 lalu, tujuh bangunan rumah yang dihuni sekitar 20-an jiwa di sekitar tebing sungai di wilayah Kedungbendo, Arjosari mengalami abrasi.  peristiwa tanah ambles akibat abrasi Sungai Grindulu terjadi di desa yang sama dan menyebabkan sedikitnya dua rumah hanyut terbawa arus dan 11 lainnya rusak.

Dalam ilmu geologi, Sungai Grindulu dikenal sebagai salah satu sungai purba di Pulau Jawa yang terjadi akibat retakan utama pada lempeng bumi di bawahnya atau biasa disebut Sesar Grindulu.

Diketahui, sungai Grindulu membelah mulai dari wilayah Ponorogo bagian selatan dan hingga pesisir selatan Kabupaten Pacitan. Penampang sungainya banyak dihiasai batuan besar jenis padas di bagian hulu, dan melebar di bagian hilir serta muara.

Topografi wilayah Pacitan yang bergunung membuat air dari segala penjuru mengalir ke arah Sungai Grindulu.  Pada saat musim kemarau, Sungai Grindulu tampak beraliran kecil dan tidak membahayakan. Akan tetapi saat penghujan, debit air meningkat tajam mulai dari wilayah hulu hingga hilir sehingga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah dataran seperti Kecamatan Tegalombo,  Arjosari hingga Pacitan kota. (Shultan/SAPP003)