Tari Gadhung Mlati Pacitan, Seni yang Terinspirasi dari Agenda Bersih Desa Tawang

oleh -Dibaca 1.654 kali
Tarian Gadhung Mlati Pacitan. (Foto : Priyambodo)
Tarian Gadhung Mlati Pacitan. (Foto : Priyambodo)
Tarian Gadhung Mlati Pacitan. (Foto : Priyambodo)
Tarian Gadhung Mlati Pacitan. (Foto : Priyambodo)

Pacitanku.com, PACITAN – Pelan namun pasti, kebangkitan seni dan budaya di Kabupaten Pacitan semakin bisa dirasakan keberadaannya. Setelah lebih dulu mendunia melalui kesenian lokal Ceprotan, Kethek ogleng,  Sanjaya Rangin hingga Klonthong Jengglur, satu kesenian khas Pacitan kembali muncul dan siap meramaikan pasar seni budaya di tanah air. Seni tari tersebut dikenal dengan sebutan Tari Gadhung Mlati.

Seni Tari terbaru garapan seniman kondang dari Kecamatan Ngadirojo, Edi Suwito ini tampil untuk kedua kalinya dan sekaligus meraih prestasi dalam Lomba Seni Siswa Nasional (FLSSN) tingkat Kabupaten Pacitan beberapa waktu lalu, dengan meraih hasil sebagai pemenang di lomba tersebut belum lama ini.

“Tari ini digarap bareng dengan istri (Adi Peni) sebagai penata rias dan busana serta menggandeng musisi kawakan, M Kasim, sebagai penata musik pengiringnya,” terang Edi, seperti dilansir dari akun kompasiana Priambodo Katiyun, Sabtu (17/7/2014).

Saat penampilan dalam FLSSN 2014 tersebut, tari Gadhung Mlathi sendiri dibawakan oleh 5 orang penari yang mewakili SMP Negeri 1 Ngadirojo. Sedangkan cerita dibalik konsep tari Gadhung Mlati sendiri merupakan salah satu segmen dari Cerita Rakyat Jangkrik Genggong yang dipercaya di daerah dusun Tawang, desa Sidomulyo, kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Nama Gadhung Mlathi dipercaya merupakan anak dari Kanjeng Ratu Kidul yang merupakan penjaga di salah satu danyangan di daerah Tawang. Masyarakat di sekitarnya harus menyediakan sesaji agar sang Gadhung Mlathi tidak terganggu.

Hal ini terkait keyakinan warga sekitar bahwa jika Sang Gadhung Mlathi terganggu, ia akan mengamuk dan merasuki warga di sekitarnya. Oleh karena itu dilaksanakan ritual bersih desa yang menyediakan sesajen lengkap dengan iringan tayub. Masyarakat Tawang meyakini bahwa setelah dilaksanakannya ritual bersih desa dan larung sesaji ini, panen ikan para nelayan akan melimpah.

Kisah Gadhung Mlati selanjutnya dituangkan dalam lenggokan penari diiringi oleh tabuhan gamelan yang mencipta harmoni. Salah satu syari lagu yang terdapat dalam tarian ini adalah “wus dungkap wahyaning mangsa kala, tumapaking bersih desa ing wulan Sela, pra warga dampyak-dampyak ngleluri budhaya, winastan nadyan cecaos sugata kang Maha Kuwasa”.

Dengan hasil cukup memuaskan sebagai juara I FLSSN, taru Gadhung Mlati pun berhak mewakili Pacitan di ajang FLSSN tingkat Provinsi Jawa Timur yang akan digelar 24 Mei 2014 di Surabaya mendatang.

“Tari ini bukan yang pertama tampil dalam kompetisi, sebelumnya kami maju atas nama Sanggar Edi Peni dalam Festival Karya Tari 2014 se-Jawa Timur beberapa pekan lalu,” terang Adi Peni, penata rias yang juga Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Ngadirojo.

Dalam ajang Festival Karya Tari 2014 tersebut, kata Adi, Tari Gadhung Mlati berhasil menyabet Gelar 5 Penyaji Terbaik Kategori Karya Tari dan 3 Penyaji Terbaik Kategori Tata Rias dan Busana. “Untuk FLSSN ini ada rombakan di sana-sini, agar tari ini lebih terkesan lebih matang dan selaras,” pungkasnya.

Redaktur : Dwi Purnawan