Upacara Ceprotan, pesta rakyat sarat makna

oleh
Penari setempat menghibur para penonton upacara Ceprotan. (Foto : Doc Info Pacitan)
Penari setempat menghibur para penonton upacara Ceprotan. (Foto : Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, Pacitan— Mengawali kajian tentang sosial budaya di Pacitan, penulis mencoba mengkaji salah satu budaya masyarakat Pacitan serta seperangkat tata nilai, baik moral maupun budaya yang terkandung didalamnya. Yang akan coba dikaji adalah warisan budaya pacitan. Upacara Ceprotan, Wayang Beber, dan Kesenian Kethek Ogleng. Upacara adat Ceprotan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo selalu dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Bulan Jawa : Longkang), Hari Senin Kliwon.

Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama bagi kebanyakan penduduknya. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kota Pacitan, dan jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota.

Metodologi pelaksanaan

Metodologi atau model pelaksanaan upacara adat Ceprotan ini dimulai dengan pengarakan kelapa muda yang digunakan sebagai alat “ceprotan” menuju tempat dilaksanakannya upacara yang biasanya berupa tanah lapang. Kelapa-kelapa ini ditempatkan pada keranjang bambu dengan anyaman yang jarang-jarang dan dibawa oleh pemuda setempat.Rangkaian seremoni sakral Ceprotan, dimulai dari pengumpulan ayam dari beberapa warga. Upacaradipimpin oleh kepala desa dan melibatkan kepala dusun. Puncak acara Ceprotan berlangsung pada sore hari dimana matahari mulai terbenam, diawali dengan tarian surup atau “Terbenamnya Matahari” kemudian juru kunci membacakan doa, serta lurah desa merepresentasikan diri sebagai perwujudan Ki Godeg, sedangkan Istrinya sebagai Dewi Sekartaji.

Sebelum acara dimulai, ketua adat membacakan doa-doa. Upacara dilanjutkan dengan ditampilkannya sendratari yang menceritakan antara pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Kemudian pemuda-pemuda ini dibagi menjadi dua kubu yang ditempatkan secara berseberangan. Keranjang berisi kelapa muda yang telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari agar tempurungnya melunak, diletakkan di depan masing-masing anggota kubu yang telah berjajar dengan posisi menghadap ke arah kubu lawan. Antar kedua kubu ini diberi jarak beberapa meter sehingga mereka tidak berhadapan secara langsung dan di antara mereka diletakkan sebuah ingkung atau ayam utuh yang dipanggang.

Setelah semuanya siap, anggota dari kedua kubu mulai saling melempar kelapa muda yang berada di depan mereka. Setiap orang yang terkena lemparan hingga kelapa yang dilemparkan pada mereka pecah dan airnya membasahi tubuhnya dianggap sebagai orang yang kelak akan mendapatkan rezeki yang melimpah.

Ayam panggang yang diletakkan di tengah-tengah arena tidak diperebutkan melainkan disimpan untuk dimakan bersama-sama pada akhir acara. Setelah semua kelapa habis, kegiatan saling melempar kelapa yang dinamakan ceprotan ini diakhiri dengan pembacaan doa kembali. Dalam festival budaya yang digelar tiap tahun dalam rangka menyambut ulang tahun Kabupaten Pacitan, pada penutupan acara ceprotan ini juga dilakukan tarian-tarian singkat yang mengiringi kepergian pemuda-pemuda yang telah melakukan ceprotan.

Tradisi Ceprotan pada perkembangan selanjutnya dilakukan setiap tahun pada bulan Dulkaidah atau jawa Bulan Longkang, hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon. Mengapa dipilih bulan dan hari tersebut? Ada kemungkinan pada saat Ki Godek melakukan babad alas bertepatan dengan bulan dan hari yang sudah di sebut di atas.

Rangkaian seremoni sakral Ceprotan diawali dengan tampilan seni Reog Ponorogo dan Tari Jathilan. Upacara dipimpin oleh Kepala Desa dan melibatkan seluruh perangkat desanya serta berlangsung pada sore hari dimana matahari mulai terbenam.

Tinjauan Historis

Tinjauan historis Ceprotan dapat dilihat dibeberapaa sumber, yang menceritakan asal mula  bagaimana ceprotan ini menjadi sebuah tradisi di Pacitan[1]. Dahulu kala dimana hutan belantara masih belum terjamah, jalanan masih berupa jalan setapak dan penduduk masih jarang, datanglah seorang pengembara tua yang bernama Ki Godek. Beliau berniat akan membuka hutan tersebut guna dijadikan padepokan, rumah tinggal dan tanah pertanian. Dengan segala kesaktian, keberanian, dan ketabahan yang dimilikinya, Ki Godek memulai babad alas membuka hutan belantara tersebut.

Ketika hampir selesai membuka hutan, datanglah dua orang perempuan nan rupawan menghampiri Ki Godek. Ternyata kedua wanita tersebut adalah Dewi Sekartaji dan Dewi Sukonandi. Mereka berasal dari Kediri. Kemudian terjadilah perbincangan antara Ki Godek dan dua wanita tersebut. Keduanya telah berjalan sangat jauh, oleh karena itu Sekartaji memilih untuk beristirahat di hutan yang baru dibuka oleh Ki Godek namun Sukonandi, kakak Sekartaji, memilih untuk meneruskan perjalanan. Sekartaji yang kelelahan merasa sangat haus. Dia meminta tolong kepada Ki Godek untuk mencari air kelapa untuk diminum. Karena di hutan milik Ki Godek tidak terdapat pohon kelapa, maka Ia mencari pohon kelapa di suatu tempat yang jauh dari lokasi hutannya, yaitu di tepi pantai selatan yang sekarang bernama Desa Kalak.

Ki Godek akhirnya berhasil membawa air kelapa untuk diminum oleh Dewi Sekartaji. Air kelapa pemberian Ki Godek pun diminum oleh Sekartaji namun tidak dihabiskan dan sisanya dibuang di suatu tempat yang kini dinamakan dengan Desa Sekar. Sekartaji berpesan kepada Ki Godek agar dalam mencari sandang pangan, jawa-ngalap berkah, kepada yang maha Kuasa, pakailah cengkir sebanyak-banyaknya.

Dipilih cengkir karena mengandung arti kencenging pikir. Menurut filosofi jawa kencenging pikir berarti setiap manusia harus berpikiran yang tajam, berprinsip, teguh pendirian dan tidak mudah terkena oleh hasutan-hasutan dari manapun datangnya. Dan pada perkembangan peradaban selanjutnya penduduk desa Sekar, kecamatan Donorojo pada setiap bulan Longkang, Dzulqaidah, diadakan peringatan ngalap berkah Ceprotan dengan melempar cengkir sebanyak-banyaknya.

Pesan Moral Ceprotan

Kelapa muda yang digunakan sebagai alat utama dalam upacara ini adalah cengkir yang mengandung pesan bahwa bagi para pemuda yang ingin mencari sandang pangan, agar mengandalkan daya pikir atau otaknya. Kemudian mengenai acara saling melempar kelapa muda, mengandung makna saling membantu dalam mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ayam bakar utuh (ingkung) yang berada di tengah arena upacara menyimbolkan rejeki yang harus diusahakan atau dicari oleh para pemuda.

Disamping itu, upacara adat Ceprotan mengajarkan sifat kegigihan, keberanian dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan seperti yang dilakukan oleh Ki Godeg dalam usahanya membuka lahan pemukiman kini dikenal dengan nama Desa Sekar. Desa tersebut sekarang menjadi salah satu penghasil padi dan kelapa yang cukup besar di Kabupaten Pacitan.

Makna lain yang tersirat adalah mengenai kebaikan hati dalam menolong orang yang kesusahan tanpa mengharap balas jasa seperti yang dicontohkan oleh Ki Godek dalam mencarikan air kelapa untuk Dewi Sekartaji yang kehausan. Sedangkan mengenai pesan yang disampaikan oleh Dewi Sekartaji pada generasi muda yaitu sudah saatnya para pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk senantiasa mengandalkan pikirannya, menambah wawasan ilmu pengetahuan guna mencapai tujuan hidup dan menjauhi segala perbuatan yang sangat dilarang seperti tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian pada saatnya kelak para pemuda akan siap menjadi seorang pemimpin dan dapat meujudkan cita-cita bangsa dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat.

Nilai lainnya yang dapat diambil dari tradisi Ceprotan adalah adanya ingkung yang disediakan di tengah arena. Ingkung ini menjadi sentral dari acara Ceprotan karena melambangkan rezeki yang dicari. Hal ini menunjukkan bahwa kita memang harus berusaha optimal dalam meraih apa yang kita inginkan tetapi jangan sampai melanggar hak dan kepentingan orang lain.

 


[1]Menurut versi babad wayang Beber kronologis babat alas yang dilakukan oleh Ki Godek

Source : Buku Pacitan The heaven Of Indonesia