Merapi Erupsi, Peternak Pacitan Cemaskan Krisis Rumput Segar

oleh -10651 views
erupsi merapi Maret 2014. (Foto : mountmerapi.net)
erupsi merapi Maret 2014. (Foto : mountmerapi.net)
erupsi merapi Maret 2014. (Foto : mountmerapi.net)
erupsi merapi Maret 2014. (Foto : mountmerapi.net)

Pacitanku.com, PACITAN – Sejumlah peternak di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengeluhkan sulitnya mendapat rumput segar untuk pakan ternak mereka akibat debu vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi menempel di permukaan daun dan sulit hilang.

“Abunya menempel di mana-mana dan sulit hilang. Ternak tidak mau makan,” kata salah seorang peternak di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Sukarjan, Jumat, seperti dilansir dari Antara.

Hal serupa dikeluhkan peternak lain yang mengaku terpaksa membeli pakan ke daerah yang tidak terpapar abu vulkanik Gunung Merapi. Meski lokasi mendapatkan pakan cukup jauh, namun para peternak mengaku tidak punya pilihan lain.

Selain akan membuat nafsu makan binatang peliharaan berkurang, beberapa warga juga kuatir abu yang ikut masuk dalam saluran pencernakan akan memicu penyakit dan berujung pada kematian hewan piaraan.

“Jika tetap diberi pakan dari daun-daunan yang terkena abu vulkanik, nafsu makan kambing dan sapi bisa turun. Ujung-ujungnya ternak bisa sakit dan mati,” katanya.

Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Merapi kali ini menurut sejumlah warga Pacitan memang tak sebanyak seperti saat Gunung Kelud meletus, beberapa waktu lalu. Kendati demikian, dampaknya dirasakan sama, yakni munculnya debu vulkanik yang mengganggu pernafasan dan sebagian merusak tanaman.

Mereka berharap hujan segera turun, sehingga debu di jalan maupun yang menempel di dedaunan segera hilang. “Semoga saja hujan segera turun. Sama seperti saat Kelud meletus kemarin itu,” ujar Yuni, salah seorang warga Pacitan.

Debu vulkanik dilaporkan mulai menghujani beberapa daerah di Pacitan pada Kamis (27/3), sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, langit yang semula cerah seketika berubah gelap.

Hanya dalam hitungan menit, material berupa titik-titik kecil berwarna putih terus bertambah dan menebal, hingga menyerupai kabut.

Dampaknya, jarak pandang sangat terbatas. Tidak itu saja, warga yang berada di luar rumah merasakan mata perih dan nafas sesak. “Saya langsung pakai kacamata, karena sedang di perjalanan naik motor,” kata Mursid, warga lainnya.

Informasi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, hujan abu vulkanik Gunung Merapi melanda desa-desa di wilayah Pacitan bagian barat.