Pacitanku.com, PACITAN — Di tengah gegap gempita perayaan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan, Mujiono, seorang pengemudi becak motor (bentor) lanjut usia di Pasar Minulyo Pacitan, harus berjuang keras bertahan hidup akibat sepinya penumpang.
Warga asal Pucangsewu ini kini maksimal hanya mampu membawa pulang uang Rp40.000 per hari, sembari menaruh asa agar pemerintah daerah lebih memperhatikan nasib para pekerja transportasi kecil yang kian terpinggirkan.
Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat kawasan Pasar Minulyo, Mujiono tampak duduk diam di atas bentor tuanya menanti penumpang.
Pria paruh baya ini telah menggantungkan hidup dari profesi pengemudi bentor di pusat aktivitas ekonomi Pacitan tersebut sejak tahun 2013.
Namun, gempuran transportasi modern dan perubahan pola mobilitas masyarakat kini membuat penghasilannya merosot tajam.
Tanpa nada mengeluh, Mujiono menceritakan realitas pahit yang harus dihadapinya di usia senja demi menghidupi keluarga.
“Sekarang paling banter sehari dapat empat puluh ribu,”kata Mujiono pelan saat ditemui di sela waktu menunggu penumpang, Rabu (18/2/2026).
Angka tersebut menjadi gambaran beratnya persaingan ekonomi di jalanan, di mana ia tak jarang harus pulang dengan tangan hampa atau sekadar cukup untuk menyambung makan esok hari.
Kendati kondisi ekonominya kian mencekik, Mujiono menolak untuk menyerah.
Momentum peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan justru ia jadikan pijakan untuk memanjatkan doa tulus.
Ia berharap Pacitan terus tumbuh menjadi daerah yang aman, adil, dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat.
Lebih jauh, ia memendam harapan besar agar pemerintah daerah mau menengok dan memberikan perhatian nyata bagi kelangsungan hidup para pengayuh bentor.
Bagi Mujiono dan rekan-rekan seprofesinya, bentor bukan sekadar besi tua, melainkan urat nadi dan sandaran hidup keluarga yang terus bergerak pelan menyusuri denyut kehidupan Pacitan.












