Empat Tahun Mangkrak, Wisata Bukit Cakrawala Pacitan Kini Sunyi dan Tak Terawat

oleh -1627 Dilihat
Struktur kayu wahana flying fox yang usang di Bukit Cakrawala Pacitan, dikelilingi rumput liar dengan latar belakang perbukitan hijau dan langit mendung.
Dulu jadi primadona, kini merana. Beginilah kondisi wahana flying fox di Bukit Cakrawala, Pacitan, yang kini mangkrak. Destinasi yang sempat viral ini tak lagi beroperasi, menyisakan struktur bisu di tengah keindahan alam yang sunyi. 🥺 Semoga segera ada perhatian untuk menghidupkan kembali potensi wisata ini. (Foto: Agus/Pacitanku)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Destinasi wisata alam Bukit Cakrawala yang berlokasi di Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, dibiarkan mangkrak dan tidak beroperasi sejak tahun 2022 hingga awal Januari 2026.

Kondisi memprihatinkan ini mengakibatkan kelumpuhan ekonomi bagi warga sekitar yang sebelumnya menggantungkan hidup dari aktivitas pariwisata di kawasan tersebut.

Pantauan terkini di lokasi pada Senin (12/1/2026) menunjukkan area Bukit Cakrawala tampak sunyi dan kosong tanpa adanya aktivitas pengunjung.

Sejumlah fasilitas pendukung terlihat rusak tidak terawat termakan usia dan akses menuju lokasi pun sangat minim.

Padahal, objek wisata yang mulai beroperasi sejak Januari 2019 ini sempat menjadi ikon wisata desa dengan keunggulan panorama perbukitan yang indah serta wahana flying fox yang menarik minat wisatawan.

Kondisi sunyi di Bukit Cakrawala ini sangat kontras dengan pemandangan di sejumlah objek wisata lain di Pacitan, seperti pantai dan kawasan alam lainnya yang justru dipadati pengunjung saat musim liburan.

Keramaian di tempat lain memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku usaha kecil, namun hal tersebut tidak dirasakan oleh warga di sekitar Bukit Cakrawala.

Pemandangan fasilitas wisata Bukit Cakrawala di Desa Kasihan, Tegalombo, Pacitan yang terlihat sepi, tidak terawat, dan ditumbuhi semak belukar pada awal Januari 2026.
Suasana sunyi di kawasan wisata Bukit Cakrawala, Desa Kasihan, Pacitan, yang fasilitasnya tampak rusak dan tidak terawat akibat lama tidak beroperasi.

Mangkraknya destinasi ini memukul telak pendapatan masyarakat lokal yang sebelumnya berprofesi sebagai penjual makanan, penyedia jasa parkir, maupun jasa wisata lainnya.

Mereka kehilangan sumber pendapatan tambahan yang signifikan, terutama pada momen libur panjang yang seharusnya menjadi panen raya bagi pelaku wisata.

Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh Matni, seorang penjual cilok warga setempat. Ia menuturkan bahwa saat Bukit Cakrawala masih aktif, lokasi tersebut sangat strategis untuk berdagang tanpa perlu berkeliling jauh.

“Waktu masih buka, saya tidak perlu keliling kampung. Cukup berjualan di sini karena pengunjung ramai. Sekarang terpaksa kembali jualan keliling karena sudah tidak ada wisatawan,”kata Matni.

Keluhan serupa disampaikan oleh Temu, salah seorang pemilik warung makan di sekitar lokasi.

Ia mengaku omzet penjualannya terjun bebas hingga lebih dari 40 persen sejak tempat wisata tersebut berhenti beroperasi.

Kini, ia hanya bisa berharap pada pelancong yang kebetulan lewat untuk beristirahat atau warga lokal yang sesekali makan di warungnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Kasihan, Masduki, menjelaskan bahwa terhentinya operasional Bukit Cakrawala disebabkan oleh sejumlah kendala yang cukup kompleks.

Menurutnya, faktor utama adalah keterbatasan anggaran untuk perawatan fasilitas dan belum tersedianya sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelola tempat wisata secara profesional.

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan Bukit Cakrawala akan dibuka kembali.

Masyarakat setempat sangat berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait agar destinasi tersebut dapat diaktifkan kembali guna menggerakkan roda perekonomian warga dan kembali menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Kabupaten Pacitan.

Video The Beauty of Pacitan Panorama from Bukit Cakrawala

No More Posts Available.

No more pages to load.