Dihantam Cuaca Ekstrem Sepekan, Nelayan Pacitan Pilih Parkir Kapal hingga Pasokan Ikan di Pasar Menipis

oleh -180 Dilihat
Deretan kapal nelayan terparkir di Pelabuhan Tamperan, Pacitan, Jumat (10/1/2026), setelah gelombang tinggi dan cuaca ekstrem melanda perairan selatan dalam sepekan terakhir. (Foto: Okta Stya Suci Rahmadhani/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Gelombang tinggi disertai angin kencang akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan selatan Pacitan dalam sepekan terakhir memaksa mayoritas nelayan menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan jiwa, sebuah kondisi yang berimbas langsung pada menipisnya pasokan ikan segar di pasar tradisional dan lonjakan harga.

Suasana di Pelabuhan Tamperan pada Jumat (10/1/2026) tampak berbeda dari biasanya dengan puluhan kapal nelayan berbagai ukuran terlihat bersandar memenuhi dermaga.

Keputusan untuk tidak melaut diambil secara kolektif oleh para nelayan mengingat kondisi laut yang dinilai sangat membahayakan keselamatan.

Ardiansyah, salah seorang nelayan setempat, menegaskan bahwa risiko memaksakan diri bekerja di tengah cuaca buruk saat ini terlalu besar.

Gelombang tinggi dan angin kencang akibat cuaca ekstrem memaksa kami menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan jiwa,”katanya.

Selama masa tunggu yang tidak pasti ini, para nelayan berusaha tetap produktif meski tidak menghasilkan pendapatan dari laut.

Ardiansyah menuturkan bahwa banyak rekannya memanfaatkan waktu luang untuk memperbaiki peralatan tempur mereka, seperti menambal jaring yang rusak, atau mengambil pekerjaan serabutan di darat.

Ia tak menampik bahwa kondisi ini membuat pendapatan mereka menurun drastis.

“Biasanya kami mendapatkan jumlah ikan yang cukup untuk kebutuhan harian keluarga dan pemasukan, tetapi karena kondisi laut tak bersahabat, hasil tangkapan jauh berkurang,”imbuh dia.

Dampak cuaca buruk ini dirasakan merata hingga ke kawasan pesisir lain seperti Pantai Watukarung. Menurut Wiroso, nelayan di wilayah tersebut, cuaca ekstrem membuat ikan-ikan yang biasanya berada di area pesisir bermigrasi ke laut yang lebih dalam sehingga sulit dijangkau.

Hal ini memukul produktivitas baik kapal besar maupun perahu kecil, di mana banyak pemilik armada memilih berhenti total beroperasi karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Supri, nelayan lain di kawasan Tamperan, menambahkan bahwa intensitas cuaca buruk di awal tahun 2026 ini terasa lebih panjang dan berat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Terhentinya aktivitas produksi di laut ini menciptakan efek domino hingga ke pasar tradisional. Di Pasar Minulyo Pacitan, rantai pasokan ikan laut segar yang menjadi tumpuan ekonomi warga pesisir kini melambat signifikan.

Seorang pedagang di pasar tersebut mengungkapkan bahwa stok ikan yang masuk sangat terbatas dalam beberapa hari terakhir.

Kelangkaan barang ini tak pelak memicu kenaikan harga beberapa jenis ikan laut yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli konsumen.

Di tengah situasi sulit ini, para nelayan menaruh harapan kepada pemerintah agar tidak sekadar memberikan imbauan larangan melaut.

Mereka membutuhkan solusi nyata berupa dukungan sosial untuk menyambung hidup dan jaminan kemudahan akses bahan bakar, sehingga ketika cuaca kembali bersahabat nanti, mereka dapat segera kembali melaut tanpa terbebani kendala teknis maupun finansial.

No More Posts Available.

No more pages to load.