Wayang Kulit Tetap Hidup di Tengah Zaman Digital, Dalang Wasianto Persembahkan Lakon dalam Pernikahan Imam dan Dewi

oleh -202 Dilihat
Pertunjukan wayang oleh dalang Wasianto di halaman rumah pasangan pengantin Imam dan Dewi di Desa Pagerlor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan. (Foto: Nur Azizah/Pacitanku)

Pacitanku.com, SUDIMORO – Suara gamelan mengalun lembut mengiringi sinden pada Senin malam (13/10/2025) di halaman rumah pasangan pengantin Imam dan Dewi di Desa Pagerlor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan.

Di bawah kelir putih yang berdiri megah, tokoh-tokoh wayang kulit menari di tangan dalang Wasianto, menandai berlangsungnya sebuah tradisi budaya Jawa yang masih hidup di tengah arus modernisasi.

Pertunjukan wayang kulit ini bukan sekadar hiburan dalam pesta pernikahan, melainkan juga wujud pelestarian seni adiluhung yang diwariskan turun-temurun.

Melalui kisah pewayangan yang sarat filosofi, masyarakat diajak merenungkan nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, dan keseimbangan manusia dengan alam.

“Wayang itu bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Dalam setiap lakon, ada ajaran tentang kesabaran, perjuangan, dan kebaikan,” tutur Wasianto, dalang asal Pagerlor yang memimpin pagelaran tersebut.

Wasianto telah menekuni dunia pedalangan sejak tahun 1985.

Kecintaannya pada wayang kulit sudah tumbuh sejak kecil, namun tidak mudah baginya untuk menapaki jalan kesenian.

Ia hanya menamatkan pendidikan dasar dan tinggal bersama kakeknya yang berprofesi sebagai petani.

Saat berusia sekitar 15 tahun, Wasianto pernah mengutarakan keinginannya untuk sekolah ndalang ke Solo.

Namun, sang kakek melarang, hingga membuatnya kecewa dan sempat kabur dari rumah selama dua hari dua malam.

“Waktu itu saya marah, lalu diajak pulang, kakek berkata kalau benar-benar suka wayang, belajar saja di rumah,” kenangnya.

Dari situlah tekadnya ditempa.

Dari berlatih dengan wayang kardus dan kelir dari seprei kakaknya, kini ia mampu menggelar pementasan besar dan membina generasi muda lewat Sanggar Alu Goro dengan slogan Angesthi Luhure Kagungan Ringgit Purwo, yang berarti mengupayakan keluhuran milik budaya wayang.

Menurutnya, tantangan pelestarian wayang di era digital cukup berat.

“Sekarang anak-anak muda lebih akrab dengan ponsel daripada gamelan. Tapi selama masih ada yang mau belajar dan mencintai budaya, wayang tidak akan hilang,” ujarnya penuh keyakinan.

Pagelaran wayang dalam pernikahan Imam dan Dewi malam itu menjadi bukti bahwa di tengah kemajuan zaman, seni tradisi masih mendapat tempat di hati masyarakat.

Di balik setiap bayangan kulit di kelir, tersimpan doa agar warisan leluhur ini terus hidup dan lestari di bumi Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.