Ilang Sak Ragane: Legenda Dibalik Nama Ki Onggopati pada Reyog Plunturan

oleh -13307 views
Mesirah, keturunan Ki Onggopati, di depan gua yang diduga terhubung secara ghaib ke gua lain

Desa Plunturan merupakan salah satu desa di Kabupaten Ponorogo yang terkenal dengan kekentalan budayanya dalam melestarikan tarian reyog tradisional atau reyog yang masih menganut pakem lama. Tarian reyog tersebut bernama Tari Reyog Plunturan Ki Onggopati.

Pada saat ini, Tari Reyog Ki Onggopati diketuai oleh Dwi Bintoro yang juga merupakan kepala desa Plunturan pada periode ini. Nama Ki Onggopati diambil dari sebuah legenda yang dilestarikan secara turun-temurun secara lisan di Desa Plunturan.

Seiring berjalannya waktu, sastra lisan ini kini mulai dilupakan bahkan oleh keturunan Ki Onggopati sendiri dan hanya segelintir orang saja yang masih mengetahui legenda ini.

Di Desa Plunturan, tidak ada masyarakat yang tahu pasti siapakah Ki Onggopati dikarenakan mereka sendiri hanya mendengar legendanya dari sesepuh mereka di waktu muda. Akan tetapi, dapat ditemukan dua macam versi legenda Ki Onggopati di Desa Plunturan. Versi pertama adalah versi yang berkembang dalam masyarakat Desa Plunturan, sedangkan versi kedua adalah versi dari salah satu sesepuh desa dan juga seorang sejarahwan di Desa Plunturan yaitu mbah Bikan.

Di dalam versi pertama, Ki Onggopati diceritakan sebagai salah satu mantan prajurit dari pasukan Pangeran Dipenogoro yang dibuang dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk mengembara. Dalam perjalanannya, beliau menemukan sebuah desa yang bernama Desa Plunturan. Beliau memutuskan untuk menetap disana dan memilih untuk menghabiskan waktunya untuk memperluas Desa dengan membersihkan Hutan Suru.

Wilayah yang dibersihkan oleh Ki Onggopati ini disebut dengan wilayah Mbanaran yang artinya tempat yang terlihat luas. Akan tetapi, Ki Onggopati tiba-tiba menghilang tanpa jejak di sawahnya tanpa meninggalkan apapun. Sawah tersebut sekarang disebut dengan sebutan Sepilang, yang berarti hilang dalam sepi.

Di dalam versi pertama, hilangnya Ki Onggopati di sawahnya pun juga memiliki dua versi cerita. Versi pertama menyebut bahwa di ujung Sawah Sepilang terdapat sebuah gua mistis yang terlihat kecil dan pendek tetapi sebenarnya dari Sisi Ghaib gua tersebut terhubung dengan sebuah gua lain yang tidak diketahui tempatnya.

Akan tetapi, dikarenakan tata letak geografis, dan kurangnya informasi dan bukti pada waktu itu, tidak ada yang percaya tentang versi ini. Di versi kedua, Wawan, salah satu warga Desa Plunturan mengatakan sebagian warga desa percaya bahwa terdapat penunggu di sawah Sepilang.

Sawah Sepilang dari Jauh

Beliau mengatakan bahwa dulu Ki Onggopati pernah melakukan sebuah perjanjian dengan penunggu wilayah tersebut. Namun, mengenai isi perjanjiannya tidak ada yang tahu pasti. Ini yang lantas menyebabkan hilangnya Ki Onggopati dianggap berhubungan dengan penunggu di kawasan tersebut.

Untuk versi kedua, narasumber kami yaitu mbah Bikan yang merupakan salah satu sesepuh dan sejarahwan di desa Plunturan, menceritakan bahwa Legenda Ki Onggopati dimulai di sekitar tahun 1825 masehi. Ki Onggopati diceritakan sebagai salah satu senopati atau prajurit dari kerajaan Mataram.

Dalam rangka membantu Pangeran Dipenegoro dalam perangnya melawan Belanda atau VOC, Ki Onggopati diperintahkan untuk menyusun kekuatan dengan mengumpulkan dan melatih pasukan di salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Mataram pada waktu itu, dan Ponorogo adalah salah satu wilayah kekuasaannya. Ki Onggopati ditugaskan oleh Kerajaan Mataram di daerah sekitar gunung Lawu dan beliau menempati sebuah desa di Ponorogo yang disebut sebagai Desa plunturan.

Setelah sampai di Desa Plunturan, beliau segera mengumpulkan remaja-remaja setempat untuk dilatih sebagai pejuang untuk membantu perang Pangeran Dipenogoro. Akan tetapi, sebelum beliau mengumpulkan cukup pasukan, Pangeran Dipenogoro telah ditangkap oleh pasukan Belanda di Magelang pada tahun 1830.

Berita tentang ditangkapnya Pangeran Dipenegoro di Magelang di ketahui oleh Ki Onggopati, dan menyebabkan beliau untuk berhenti melatih pasukan dan memilih untuk membantu Mbah Suto Menggolo selaku kepala Desa Plunturan pertama untuk membersihkan tumbuhan Suru di hutan sekitar Desa Plunturan.

Setelah Ki Onggopati membabat Suru, daerah yang beliau babat terlihat luas rata atau banar dan menamainya Mbanaran. Ki Onggopati juga membuat sawah disebelah selatan wilayah tersebut. Sawah tersebut dulunya diceritakan sebagai hutan angker dan dikuasai oleh Roh Ghaib.

Sawah Sepilang dari dekat.

Tidak ada yang tahu alasannya kenapa beliau memilih tempat tersebut. Akan tetapi, dalam rangka untuk membuat sawah disana, diceritakan bahwa beliau membuat sebuah kesepakatan dengan roh ghaib yang ada disana.

Tidak ada yang tahu isi dari perjanjian tersebut kecuali syarat dimana hanya KI Onggopati berserta keturunannya saja yang dapat bersawah disawah tersebut. Sejak saat itu, Ki Onggopati berprofesi sebagai seorang petani di Desa Plunturan. Sampai akhirnya, di sekitar 1840, Ki dinyataka menghilang di sawahnya.

Tidak ada yang tahu kemana perginya beliau. Beliau hanya berpamitan untuk pergi kesawah, akan tetapi beliau raganya tidak dapat ditemukan dan seperti tiba-tiba menghilang. Sejak saat itu, sawah milik beliau disebut dengan ‘Sepilang’ yang berati hilang di waktu sepi. Mbah Bikan tidak tahu pasti alasan menghilangnya Ki Onggopati. Tapi, beliau percaya bahwa hilangnya Ki Onggopati ada hubungannya dengan penunggu sawah Sepilang. Beliau mengatakan, “Ki Onggopati yah hilangnya di sawah itu. Sawahnya itu angker. Dan mestinya disitu ada mahkluk ghaibnya”.

Setelah kejadian hilangnya Ki Onggopati tersebut, tidak ada lagi orang yang mengurus sawah Sepilang. Mbah Bikan mengatakan bahwa sawah sepilang telah berganti tangan beberapa kali, akan tetapi tidak ada yang kuat dan bahkan sampai meninggal.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan Ki Onggopati. Setelah terjadi banyak kejadian serupa, selain keturunan Ki Onggopati tidak ada lagi yang berani mengurus sawah tersebut.

Kejadian ini juga telah dikonfirmasi oleh Mesirah selaku salah satu pemilik sawah Sepilang pada generasi ini yamg juga merupakan generasi ke-5 dari keturunan Ki Onggopati di Desa Plunturan.

“Kalau bukan saya sama keluarga saya, tidak ada yang berani ngurus sawah ini. Tidak ada yang mampu,” ujarnya.

Ditulis oleh: Dzikrillah, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Untag Surabaya