Polisi Selidiki Kericuhan Grand Final Voli di Nawangan Pacitan

oleh -458 Dilihat
Awan kekecewaan menyelimuti Grand Final Soedirman Cup 2025 di Pacitan, Minggu (7/9/2025) dini hari. Ribuan penonton meluapkan amarahnya dengan merusak dan membakar sejumlah fasilitas pertandingan, yang diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp100 juta.

Pacitanku.com, NAWANGAN – Grand final turnamen bola voli Soedirman Cup 2025 di kawasan Monumen Jenderal Soedirman, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Pacitan, berujung ricuh pada Minggu (7/9/2025) dini hari.

Kekecewaan ribuan penonton yang memuncak memicu perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas pertandingan. Pihak kepolisian tengah mendalami kasus ini untuk mengusut penyebab pasti di balik insiden tersebut.

Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar mengatakan bahwa pihaknya belum dapat memberikan keterangan resmi terkait detail kejadian. “Mohon waktu, masih dalam penyidikan dan penyelidikan,” tulisnya singkat melalui pesan.

Ayub memastikan bahwa amukan massa tidak berdampak pada bangunan Monumen Jenderal Soedirman.

“Bangunan monumen aman,” tambahnya.

Terpisah, Camat Nawangan Sukarwan menjelaskan, kericuhan bermula saat laga puncak voli putra antara tim Restu Putra dan KWK Gank baru berjalan hingga set pertama.

Pertandingan dihentikan wasit saat skor 8-6 untuk keunggulan KWK Gank karena wasit meminta peninjauan Video Assistant Referee (VAR). Namun, proses yang memakan waktu lama membuat penonton kehilangan kesabaran.

“Proses VAR terlalu lama antara kedua belah pihak saling tanya, akhirnya penonton kecewa. Itu awal dari kericuhan,” ujar Sukarwan.

Menurut Sukarwan, kekecewaan penonton diperparah oleh absennya dua pemain bintang nasional, Rivan Nurmulki dan Dimas Saputra Pratama, yang sebelumnya dijanjikan akan hadir oleh panitia.

Baca juga: Tragedi Soedirman Cup 2025: Grand Final Voli Berakhir Ricuh, Penonton Bakar Fasilitas karena Pemain Bintang Absen

Janji yang tidak ditepati ini memicu amarah penonton yang berjumlah sekitar 7.000 orang, hingga mereka melampiaskan kekesalan dengan merusak dan membakar perangkat pertandingan.

Dalam video amatir yang beredar, terlihat massa merusak dan membakar pamflet, lampu, kamera CCTV, hingga panggung utama.

Kobaran api sempat membesar sebelum berhasil dipadamkan. Diperkirakan kerugian akibat insiden ini mencapai Rp100 juta.

Kericuhan baru mereda sekitar pukul 02.45 WIB, dan massa mulai membubarkan diri setelah situasi berangsur kondusif.

Sukarwan menambahkan, meskipun terjadi kericuhan, fasilitas milik pemerintah dan para pedagang di sekitar monumen tetap aman.

“Secara pribadi dan camat merasa senang ada turnamen promosi wisata, olahraga bola voli, UMKM dan hiburan,”kata Sukarwan.

“Karena kehendak Yang Mahakuasa terjadi kericuhan. Ini adalah untuk introspeksi ke depannya turnamen bola voli dikelola dengan baik,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.