Pacitanku.com, TULAKAN — Di bawah langit Pantai Pidakan yang cerah, puluhan anggota karang taruna se-Kecamatan Tulakan, Pacitan, berkolaborasi dalam sebuah perayaan seni dan kearifan lokal.
Pada Selasa (19/8/2025), Pidakan Festival Gravitasi Bumi (PFGB) menjadi saksi antusiasme generasi muda yang kembali menghidupkan seni kerajinan anyaman daun yang kini jarang ditemui.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Ekspedisi Merah Putih, sebuah inisiatif pemerintah daerah untuk mempromosikan merek wisata baru Pacitan, “70-Mile Sea Paradise”.
Baca juga: Bambu Jadi Karya Seni, Ukir Pesan Keseimbangan di Pantai Pidakan Pacitan
Lokakarya Anyam Daun ini dipandu oleh Tarwaji, seorang narasumber berpengalaman dari Taman Asri.
Ia menjelaskan bahwa seni anyaman daun dipilih sebagai salah satu kegiatan utama PFGB karena sejalan dengan konsep festival yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam lokal.
“Kan dari alam, kita carilah dari bahan-bahan lokal yang sekiranya tidak terlalu mahal,” jelas Tarwaji.
Daun kelapa yang melimpah di Pacitan menjadi pilihan utama, tidak hanya karena mudah didapat, tetapi juga dapat menambah nilai estetika.
Dalam workshop ini, para peserta diajarkan membuat berbagai bentuk anyaman, seperti ‘uleran’ dan matahari, menggunakan teknik ‘1221’.
Hasil karya anyaman daun ini nantinya akan dipajang sebagai bagian dari instalasi bambu yang dibuat dalam festival, menciptakan sinergi visual yang harmonis.
Antusiasme para peserta karang taruna sangat terasa.
“Alhamdulillah banyak yang mengikuti, responsnya luar biasa,” ungkap Tarwaji.
Mereka dengan tekun mempraktikkan setiap anyaman yang diajarkan, menunjukkan semangat tinggi untuk melestarikan tradisi ini.
Tarwaji berharap, melalui kegiatan ini, generasi muda dapat menyadari bahwa bahan-bahan sederhana yang tersedia di alam dapat diubah menjadi barang seni yang bernilai. “Biar tidak punah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dengan belajar membuat anyaman, para peserta tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga berpotensi menambah nilai ekonomi dari hasil kreasi mereka.
Workshop Anyam Daun ini menjadi langkah kecil yang signifikan, menanamkan kesadaran bahwa seni, lingkungan, dan ekonomi dapat berjalan beriringan, menjadikan Pacitan sebagai kota yang tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga tradisi dan kreativitas warganya.
Mengakhiri pesannya, Tarwaji mengajak seluruh masyarakat Pacitan untuk lebih mencintai alam dan melihatnya sebagai sumber daya tak terbatas untuk kreasi.
“Kedepannya untuk masyarakat Pacitan cintailah alam kita, apapun yang ada di Pacitan bisa digunakan untuk apa saja untuk kreasi dan bisa untuk menambah nilai ekonomi juga,”pungkasnya.












