Pacitanku.com, PACITAN – Grup Ronthek Sapta Muda dari Desa Kedung Bendo, Kecamatan Arjosari, Pacitan menyuguhkan penampilan memukau dalam gelaran Festival Ronthek Pacitan 2025 pada Minggu (6/7/2025).
Mengusung tema “Loh Jinawi”, kelompok seni ini akan menampilkan pertunjukan yang kental dengan filosofi dan nilai-nilai lokal, berakar dari kehidupan pertanian masyarakat.
Di bawah arahan pelatih Abdul Rohim, Sapta Muda akan membawakan kisah tentang Desa Kedung Bendo sebagai “desa loh jinawi“, sebuah penggambaran akan kemakmuran dan kesuburan tanahnya, serta kerukunan hidup warganya.
Narasi pertunjukan ini akan menyoroti bagaimana aktivitas bertani menjadi denyut nadi kehidupan, yang tidak hanya menghasilkan kemakmuran, tetapi juga menciptakan ketenteraman.
Namun, alur cerita akan diwarnai konflik internal, berupa perselisihan antarwarga yang berpotensi merusak kedamaian.
Konflik ini secara simbolis diwujudkan melalui adu kekuatan menggunakan lesung, alat penumbuk padi yang sangat akrab dalam keseharian petani.
“Kami mengambil cerita dari lingkungan desa loh jinawi, khususnya kehidupan pertanian,” jelas Abdul Rohim.
“Lingkungan yang makmur dan subur karena pertanian itu kemudian diuji oleh perselisihan antarwarga yang mencoba merusak kemakmuran. Namun, pada akhirnya bisa dikondisikan sehingga kembali damai dan makmur,”imbuhnya.
Secara filosofis, pertunjukan ini merefleksikan perebutan wilayah yang pada akhirnya diselesaikan melalui imbauan tokoh masyarakat untuk kembali berfokus pada kegiatan bertani demi kemakmuran bersama.
“Ada filosofinya, menurut masyarakat setempat, ini adalah perebutan wilayah. Tokoh masyarakat mengimbau untuk kembali bertani dalam kehidupan sehari-hari, karena kemakmuran itu berkat bertani,” terang Rohim.
Untuk memperkuat penampilan, Grup Sapta Muda akan menggunakan berbagai properti panggung yang mendukung tema pertanian, seperti gubuk, alat-alat pertanian, dan dua ekor sapi. Kendati demikian, Abdul Rohim mengakui adanya beberapa tantangan dalam proses persiapan. “Kesulitan kami dalam mencari pemain lengkap. Sumber daya manusia (SDM) ada tinggi rendahnya,” ungkapnya.
Dengan masuknya Festival Ronthek dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN), Abdul Rohim berharap kualitas pertunjukan dapat terus ditingkatkan.
“Harapan kami, kualitas pertunjukan lebih ditingkatkan karena sudah masuk KEN,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan keaslian karakter ronthek Pacitan agar tidak tercampur dengan unsur budaya dari luar daerah. “Karakter ronthek harus dipatenkan dan tidak dicampur dengan budaya luar daerah, jadi asli Pacitan.”
Pertunjukan Grup Sapta Muda dari Desa Kedung Bendo ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menginspirasi tentang pentingnya persatuan, kerja keras, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.












