Rawan Tsunami hingga Banjir Luapan, UI Gandeng BPBD dan Warga Ploso Pacitan Perkuat Mitigasi Bencana

oleh -6 Dilihat
Anggota FPRB Kelurahan Ploso Pacitan mengikuti lokakarya penyusunan rencana kerja mitigasi bencana bersama FIA UI dan BPBD Kabupaten Pacitan.
PERKUAT MITIGASI: Tim Pengabdian Masyarakat FIA UI bersama Pemerintah Kelurahan Ploso dan BPBD Kabupaten Pacitan mendampingi 20 anggota FPRB Kelurahan Ploso menyusun rencana kerja pengurangan risiko bencana di Kantor Kelurahan Ploso, Jumat (6/11/2026). (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menggandeng Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Ploso dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan dalam lokakarya yang digelar pada Jumat (6/11/2026) di Kantor Kelurahan Ploso, Pacitan.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Klaster CGDTPS FIA UI bertajuk “Rekonstruksi Kondisi Awal Kolaborasi pada Forum Pengurangan Risiko Bencana di Kelurahan Ploso, Kabupaten Pacitan” ini melibatkan 20 anggota FPRB lintas profesi guna memperkuat kesiapsiagaan warga menghadapi ancaman tsunami, banjir luapan, dan cuaca ekstrem.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kabupaten Pacitan masuk dalam kategori daerah berisiko tinggi terhadap banjir, tanah longsor, dan tsunami.

Secara geografis, 85 persen wilayah Pacitan didominasi perbukitan, sedangkan kawasan permukiman berada di dataran rendah berbentuk cekungan yang menjadi muara aliran sungai menuju Teluk Pacitan.

Di kawasan perkotaan, Kelurahan Ploso menjadi salah satu titik rentan karena berbatasan langsung dengan hilir sungai. Pendangkalan sungai dan penyempitan drainase membuat permukiman warga di Lingkungan Barehan, Kebon, dan Ngampel rawan tergenang saat hujan berintensitas tinggi, sebagaimana tercatat saat bencana banjir bandang Siklon Tropis Cempaka pada 2017 dan banjir luapan pada Oktober 2022.

Lurah Ploso, Aditya Aji Atmanta, S.Tr.IP., menegaskan bahwa penguatan kapasitas mitigasi dan edukasi masyarakat menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya kerawanan wilayah tersebut.

Suasana diskusi interaktif antara tim Pengabdian Masyarakat FIA UI, Pemerintah Kelurahan Ploso, BPBD Pacitan, dan peserta FPRB.
SINERGI LINTAS SEKTOR: Tim Klaster CGDTPS FIA UI, Pemerintah Kelurahan Ploso, dan BPBD Pacitan berdiskusi memetakan kolaborasi mitigasi bencana di Kantor Kelurahan Ploso, Jumat (6/11/2026). (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

“Di Kelurahan Ploso, dengan segala potensi bencana, khususnya tsunami, memang betul-betul dibutuhkan upaya mitigasi dan pencegahan,”kata Aditya.

Selain ancaman hidrometeorologi dan tsunami, Aditya mengingatkan warga agar tetap mewaspadai anomali iklim. Meski hujan mulai turun dalam beberapa hari terakhir, pola musim penghujan dinilai belum sepenuhnya stabil.

Dampak El Niño berupa kemarau panjang masih berpotensi memicu kebakaran hingga krisis air bersih.

“Kita harus mewaspadai isu cuaca atau iklim yang saat ini dihadapi. Kemarau panjang, kebakaran, hingga kesulitan air bersih perlu mendapatkan perhatian dan penyikapan yang tepat,” katanya.

Guna mengatasi keterbatasan perencanaan terstruktur serta mengoptimalkan pembagian peran antarlembaga di lapangan, tim Pengabdian Masyarakat FIA UI memfasilitasi pemetaan aktor dan penyusunan dokumen rekomendasi kebijakan rencana kerja untuk satu hingga dua tahun ke depan.

Dosen FIA UI, Krisna Puji Rahmayanti, S.I.A., M.P.A., Ph.D., menjelaskan bahwa lokakarya ini diinisiasi oleh kelompok riset FIA UI yang berfokus pada penguatan tata kelola kolaboratif (collaborative governance) antarkelompok masyarakat di tingkat lokal.

“Kami ingin memetakan bagaimana kerja bersama ini berjalan, apa tantangannya, dan siapa saja aktor yang terlibat dalam forum. Setelah itu, kita akan menyusun rencana kerja bersama,”kata dosen asli Pacitan ini.

Ia menambahkan, dokumen rencana kerja tersebut diharapkan menjadi panduan berkelanjutan bagi Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana/Keltana) agar program pengurangan risiko bencana tidak berhenti pada pembentukan kelembagaan semata.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memantik penguatan forum pengurangan risiko bencana di seluruh kelurahan dan desa di Kabupaten Pacitan. Bagi Universitas Indonesia, yang terpenting bukan hanya penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat,”imbuhnya.

Lokakarya yang berlangsung pukul 13.30 hingga 17.00 WIB tersebut diisi dengan pemaparan materi, diskusi kelompok terpumpun bersama fasilitator FIA UI Dr. Nidaan Khafian, M.A. dan Wahyu Mahendra, M.Egov. Selain itu juga ada refleksi teknis dari BPBD Kabupaten Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.